Agustus Pasti Berlalu

Bulan Agustus baru terlewati setengah tapi rasanya cadangan energi untuk sebulan sudah terkuras lebih banyak dari seharusnya. Tidak bermaksud mengeluh, tapi yah begitulah… Agustus tahun ini terasa berbeda dengan Agustus sebelum-sebelumnya. Ya ndak heran sih…Agustus ini adalah Agustus pertama yang dilalui dengan jabatan baru di kantor. Kerjaan baru, tanggungjawab baru. Masih harus banyak belajar, masih harus banyak usaha menyesuaikan diri.

Kalau biasanya kerjaannya hanya duduk di ruangan melaksanakan pekerjaan sesuai instruksi final, sekarang harus belajar menerima instruksi dan memikirkan instruksi final untuk dilaksanakan oleh orang lain. Tak jarang mikir sendiri dan harus eksekusi sendiri. Lelahnya terasa berlipat.

Kalau kerjaan sebelumnya bisa dikerjakan pribadi, ‘terisolir’ dan harus seminimal mungkin bertemu dengan orang lain, sekarang justru harus sering bertemu dengan orang. Orang yang dikenal dan orang tak dikenal yang harus mulai dikenal. Kebayanglah aku yang tak suka bertemu orang banyak ini harus belajar dari awal. Belajar memasang wajah ramah, belajar tersenyum, belajar menyapa, belajar berbagai kalimat pembuka untuk berbagai orang berbeda, belajar belajar bernegosiasi, belajar berakrab dengan angka, belajar menghafal nama dan wajah serta jabatan orang. Kontak Hp yang dulu hanya berisi nama keluarga dan teman dekat sekarang lengkap dengan nama dan nomor kontak banyak orang, pejabat pemerintahan, pegawai bermacam instansi, awak media, juragan ikan, sampai petugas PLN, tukang reparasi TV, tukang galon, percetakan spanduk, dan banyak lagi yang tak bisa saya ingat dari mana asalnya tiba-tiba ada. Kebiasaan membiarkan Hp berada entah di mana pun harus diubah. Kebiasaan mengabaikan nomor telepon asing tak bernama yang menghubungi pun harus berubah. Semua telepon yang masuk adalah penting kecuali dibuktikan sebaliknya.

Dan semua kerjaan itu terasa bertambah di bulan Agustus. Ada begitu banyak kegiatan dan rangkaian acara yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan di bulan ini. Dua agenda besar di tanggal 17 dan 19 sudah pasti. Plus beberapa proyek yang harus diselesaikan.

Kepala terasa penuh di hampir setiap waktu. Sibuk memilah mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Banyak yang terlaksana, walau tak jarang harus ada yang mengingatkan agar tak terlupa.

Ingin berkata “adek lelah, bang…” di setiap hari. Seperti pagi tadi. Baru mulai tidur lewat tengah malam, sudah terbangun sebelum Subuh dan langsung disambut pesan singkat berisi instruksi pak bos yang harus segera dilaksanakan padahal mata baru terbuka setengahnya.

Yah untungnya masih ada yang mengingatkan “ndak apa apa ya, berkah di bulan ini juga banyak“.

Iya juga sih… bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan.

Alhamdulillah saja.

Disyukuri saja.

Dinapasi saja lelahnya.

Ndak pa pa ndak pa pa…semua yang terjadi adalah yang seharusnya terjadi…semua sudah ada yang ngatur, manusia hanya tinggal menjalani dan merasakan saja…percaya yang ini pun akan berlalu. Aamiin.

Hingga Detik Ini

aku berdiri di sini di tempat dimana dulu
pertama kita bertemu, pertama ku menatapmu
ingatkah kau saat itu, kau tersenyum kepadaku
berbekal senyuman itu ku jalani hidup

hingga saat ini kau masih satu-satunya
yang paling mengerti aku, semua baik burukku
hingga detik ini aku masih orang itu
kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu

ingatkah kau saat itu, kau tersenyum kepadaku
berbekal senyuman itu ku jalani hidup

hingga saat ini kau masih satu-satunya
yang paling mengerti aku, semua baik burukku
hingga detik ini aku masih orang itu
kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu, masih seperti dulu

(The Rain – Hingga Detik Ini)

Percayalah Hati

Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita ber dua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
(Float – Sementara)

Ruang Kedap Suara

Setiap kali siTengil tidur dan tinggal menyisakan suara napasnya yang lembut di ujung telepon…pengen deh rasanya masukin dia ke dalam ruangan yang kedap suara dan tidak bisa diusik dunia luar. Bukan posesif…tapi setelah semua kegiatan dan kesibukan seharian yang menyita tenaga dan pikirannya, sungguh yang saya inginkan di penghujung hari cuma agar dia bisa menikmati istirahatnya dengan tenang, memanfaatkan setiap detik lelapnya tanpa gangguan apa pun untuk mengembalikan tenaga dengan baik agar dapat beraktivitas lagi esok hari. Itu saja…

Terimakasih untuk segalanya hari ini ya dearest siTengil… Selamat beristirahat, sampai besok ^_^

Fuh Fuh Fuh

Dua bocah berlarian di taman pagi tadi
Salah satunya berhenti karena terjatuh
Sambil tersedu ditunjukkan goresan berwarna merah di lutut kiri
Satu lainnya ikut menunduk
Mendekatkan bibirnya yang menghembuskan tiga napas ke arah luka sambil bersuara “fuh fuh fuh…
Ndak apa apa ya“, katanya selanjutnya
Si empunya luka hanya tersenyum “iya ndak apa-apa, sudah sembuh sudah ditiup kamu
Mereka berdua lalu bangkit bersiap berlari kembali

Hati-hati, jangan sampai jatuh lagi“, kata si peniup luka mengingatkan
Kalau aku jatuh kan ada kamu yang tiup lukaku sampai sembuh“, jawab bocah dengan luka di lutut kiri masih dengan senyuman

Berdua mereka kembali berlarian
Tertawa-tawa berkeliling taman sambil berpegangan tangan

Ah, seandainya semua sakit dan luka di dunia dapat sembuh dengan tiupan

Fuh fuh fuh…

Satu yang Menyeribu

Sudah lewat tengah malam, tapi entah kenapa mataku belum juga terpejam. Bukan tak bisa. Bukan juga karena hati sedang penuh terisi atau banyak yang berlompatan di dalam kepala

Nyatanya isi hati cuma satu, yang tinggal di dalam kepala cuma kamu

Kamu

Satu

Satu kamu yang berputar membuat pusaran rasa datang menyerbu

Satu kamu yang menyeribu

Satu kamu beribu rindu

(Sambas, 120817 12:43 AM)

Marah Marah Marah

Saya paling tidak suka dengan pertengkaran, apalagi yang melibatkan suara-suara keras. Suara teriakan dan makian atau suara barang yang dilempar atau dibanting, misalnya. Saya masih bisa mengingat beberapa kali ketika saya sampai pucat dan hampir menangis karena pacar saya (sekarang mantan) waktu itu sedang kesal lalu menutup pintu lemari dan laci dengan hempasan yang menimbulkan suara yang keras. Walaupun akhirnya yang bersangkutan mengklarifikasi bahwa itu tidak disengaja dan pintu lemari serta laci di rumahnya itu memang ‘licin’ dan sering terhempas sendiri, yah tetap saja saya sudah terlanjur terkejut dan merasa tak nyaman. Mungkin karena sejak kecil saya tidak terbiasa berada di lingkungan yang ‘keras’.

Seingat saya kedua orangtua saya jarang sekali kalau tidak bisa dibilang tidak pernah memperlakukan saya dan saudara-saudara saya dengan kasar. Saya hanya bisa mengingat sekali Ibu pernah memarahi kakak saya dan mengguyurnya dengan air dari selang di tengah hari, itu pun sudah lamaaaaa sekali. Saat itu saya bahkan belum memulai sekolah TK kalau tidak salah. Apa penyebabnya pun saya sudah tidak ingat. Saat saya duduk di bangku SD entah kelas berapa, sekali Bapak pernah menendang pantat saya sewaktu beliau pulang dari kantor menjelang maghrib dan mendapati saya belum mandi. Sekali Bapak pernah menampar pipi saya dan adik saya sewaktu kami bertengkar entah karena apa. Saya sudah dewasa saat itu, entah kuliah di semester berapa. Selebihnya saya tidak bisa mengingat adegan kekerasan di keluarga saya. Setiap kali Ibu dan Bapak bertengkar tak ada adu mulut yang berlebihan seperti di Sinetron, tak ada adu argumen bahkan. Ibu hanya akan menangis, mengemas beberapa helai pakaian dan pergi ke rumah orangtuanya. Meninggalkan beberapa lembar surat biasanya (mungkin dari Ibulah saya mewarisi kebiasan menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan daripada mengoceh panjang lebar dengan mulut). Bapak kemudian meminta maaf (juga melalui surat) biasanya, lalu menjemput Ibu dan keluarga kami kembali damai dan tentram. Atau Ibu hanya akan mendiamkan Bapak dan Bapak mendiamkan Ibu (hal ini tidak berlaku saat ada tamu, apa pun yang terjadi…seberapa kesalnya pun mereka satu sama lain…di hadapan tamu mereka akan bersikap biasa saja seperti sedang tak ada masalah apa-apa) sampai rasa kesal masing-masing mereda dan keluarga kami kembali seperti sedia kala. Pokoknya sejak kecil saya tidak terbiasa berada di lingkungan yang penuh teriakan atau makian atau pertengkaran yang melibatkan kekerasan.

Maka tak heran jika hati saya terasa ngilu dan remuk setiap kali (sengaja atau tak sengaja) saya mendengar seseorang berbicara dengan nada tinggi dan kasar apalagi kepada seseorang yang seharusnya disayangi dan dijaganya. Seperti siang tadi, misalnya.

Siang tadi seperti biasa saya pulang ke kos untuk beristirahat. Sehabis makan siang mulailah saya mendengar suara-suara bernada tinggi berasal dari seorang perempuan yang tinggal hanya berjarak beberapa kamar dari kamar saya (kos tempat saya tinggal tidak berupa rumah biasa tapi berupa kamar-kamar yang berderet dengan kamar mandi dan beranda serta tempat jemuran masing-masing yang terpisah antara kamar satu dengan kamar lainnya) yang sedang memarahi anaknya. Sepanjang yang saya tangkap sepertinya si ibu sedang memarahi anaknya karena anak tersebut tidak mau menulis di sekolah dan malah meminta kawannya menulis untuknya. Saya tak sampai hati menuliskan kembali macam-macam kata yang diucapkan si ibu dengan bentakan dan diselingi suara “plak! plak!” serta erangan kesakitan si anak yang disertai dengan tangisan memohon agar ibunya tak lagi memukulinya. Mendadak ulu hati saya seperti diremas-remas rasanya. Saya tidak berani membayangkan luka apa yang nantinya akan membekas dan dikenang oleh bocah kelas dua SD (iya, si Ibu ngamuk karena anaknya yang masih di kelas DUA SD itu tidak mau menulis) itu sampai dia dewasa, dan saya sedang tidak membicarakan luka fisiknya tentu saja.

Sakit dan seram saja rasanya membayangkan bocah itu akan tumbuh menjadi dewasa dan kemudian menjadi orangtua yang percaya dan meyakini seperti itulah seharusnya cara orangtua mendidik anaknya, karena itulah satu-satunya cara yang dia ketahui dan pernah dia alami…dengan bentakan dan pukulan.

Saya tidak tau bagaimana akhirnya drama Ibu dan anak itu berakhir. Segera setelah menyelesaikan sholat dzuhur saya meninggalkan kos dan kembali ke kantor, tak cukup kuat hati untuk melanjutkan membanjiri kepala saya dengan makian si Ibu dan teriakan kesakitan si anak.

Sempat saya bisikan rasa syukur untuk masa kecil saya yang tidak dipenuhi kekerasan dan bentakan.

Sempat saya bisikkan rasa syukur sudah juga berhasil melewati masa-masa saat saya harus bersama seseorang yang tak segan membentak saya dengan kata-kata kasar yang membuat jantung saya terasa mau melompat keluar saat bertengkar nyaris di setiap hari selama beberapa bulan kebersamaan kami (yaelah ujung-ujungnya curhat kesitu, Rei…).

Alhamdulillah ^_^

Arwah Gentayangan Dalam Mimpi

Saya sangat jarang bermimpi saat tidur, atau kalau pun bermimpi pasti saya hampir selalu ‘sadar’ saya sedang bermimpi sehingga tidak sampai tahap terbawa perasaan. Kecuali pada mimpi-mimpi tertentu.

Mimpi yang tadi malam misalnya.

Semalam saat tidur saya bermimpi Mia meninggal dunia. Tidak jelas bagaimana dia meninggal atau apa penyebabnya, yang pasti di dalam mimpi itu dia meninggal dan hati saya sedih sekali rasanya. Konyolnya, di mimpi itu arwah Mia gentayangan tapi tidak seram karena sungguhlah lebih seram Mia aslinya dan berkeliaran tanpa sadar dia sudah meninggal dunia. Dengan seenak hati dia sambil tersenyum menyapa saya yang tengah menangis tersedu-sedu, bahkan setelah saya bilang dia sudah meninggal pun dia masih tak peduli dan tetap bersikap seperti….well, Mia.

Saya tidak ingat bagaimana mimpi semalam itu berakhir, yang jelas saya bangun dengan perasaan campur aduk antara sedih, lega, dan kesal sekali. Sedih karena saya harus mengalami ‘menyaksikan’ Mia meninggal, lega karena cuma mimpi, dan kesal karena “NGAPAIN SIH KAMU REPOT-REPOT MASUK KE MIMPI AKU CUMA BUAT MATI DAN BIKIN SEDIH…!?!?”.

Anyway ini bukan pertama kalinya. Seingat saya ini adalah kali kedua bukan lagu Raisa Mia meninggal di mimpi saya. Yang pertama kali waktu itu saya sampai bangun dengan tubuh penuh keringat dan wajah sembab karena air mata saking sedihnya mengira Mia beneran berani meninggal sebelum saya. Lalu saya bangun dan langsung marah-marah ke dia. Kesal sekali lah rasanya waktu itu. Dan juga pagi tadi.

Iya sih harus saya akui saya memimpikan dia mungkin karena saya kangen dia terpikir sudah lama  tidak main bareng atau ngobrol bareng. Seingat saya waktu itu bertemu Mia saat mudik Lebaran 2016, setelahnya Mia berangkat ke Amerika dan baru bertemu lagi saat mudik Lebaran 2017, itu pun hanya untuk makan siang bersama dengan Athrib dan Zer dan segera berpisah karena masing-masing sudah ada acara dengan keluarga, jadi bisa dianggap wajarlah kalo dia muncul di mimpi saya. Tapi ya kan orang tidur itu kan tujuannya untuk mengistirahatkan jiwa dan raga, nah kalo mau masuk ke mimpi orang yang lagi tidur itu hambokya datangnya bawa mimpi kejadian yang menyenangkan gitu lho supaya pas bangun hatinya bahagia…bukannya malah mati dan bikin remuk redam hati seperti pagi tadi. Sungguh menyebalkan. Mia menyebalkan.

Tapi tetap sih, lega dan bersyukur sekali yang semalam cuma mimpi. Di mimpi aja sudah segitu, ga tau deh bakalan seperti apa sedihnya kalo sampe kejadian… *membayangkannya saja tak mau*

 

Seorang Ayah dan Harta Warisannya

Pada sebuah masa di sebuah desa tersebutlah seorang laki-laki yang hidup bersama istri dan beberapa orang anaknya. Suatu hari pergilah laki-laki yang sudah tidak muda lagi  itu mengunjungi rumah salah seorang kerabatnya dengan maksud untuk menawarkan sepetak tanah miliknya kepada kerabatnya tersebut. Kebetulan di rumah kerabat tersebut sedang ramai berkumpul kerabat lainnya.

Syahdan setelah basa-basi dan tanya jawab berkenaan dengan tanah yang akan diperjual belikan tersebut terjadilah perbincangan antara si laki-laki dan para kerabatnya ;

*perbincangan dilakukan dalam bahasa Jawa yang dalam tulisan ini sudah diartikan ke dalam bahasa Indonesia*

Kemarin jual sawah, sekarang jual tanah, memangnya kamu kenapa?“, tanya salah seorang kerabat
Ya aku ndak punya uang dan sekarang lagi perlu“, jawabnya malu-malu seakan tak ingin mengakui jika dirinya sedang mengalami masalah ekonomi
Sawah dijual, tanah dijual, besok rumah dijual juga…nanti kamu mau kasih warisan apa buat anak-anakmu?“, kerabat lain yang jauh lebih tua bertanya dengan nada acuh tak acuh
Pendidikan“, laki-laki itu menjawab dengan suara yang lembut namun tetap menunjukkan ketegasan. “Tanah, sawah, kalau perlu rumah akan kujual buat biaya pendidikan anak-anakku, aku tidak perlu itu. Aku cuma perlu uang buat biaya pendidikan anak-anakku, kalau mereka sudah aku bekali dengan pendidikan yang baik…insyaAllah tanah, sawah, rumah mereka bisa cari sendiri“, lanjutnya menjelaskan

Mendadak semua kerabat yang mendengar pernyataannya terdiam, paham.

Aku tersenyum, salut.