Choices

Ceritanya beberapa hari ini saya lagi sibuk nyobain berbagai games yang tersedia di Playstore. Bukan apa-apa sih…pengen aja nyobain kek orang-orang gitu yang katanya waktunya bisa tersita sama game sampai lupa makan lupa tidur dan lupa tentang urusan hati apa pun kalo udah ketemu game.

Masalahnya adalah semua game yang saya coba bukannya menenangkan pikiran lha kok malah bikin tak tenang. Kesal kalau gamenya susah, bosan kalo gamenya gampang. Udah banyak jenis games yang saya coba. Dari restoran-restoran yang bikin tekanan batin karena diburu-buru waktu dan pelanggan yang ga bisa diajak ngobrol supaya sabar *yamenurut loe aja sih Rei gimana ada game yang bisa diajak kompromi*, sampai sebuah game yang dimainkan dengan mata tertutup dan mengandalkan kepekaan pendengaran dan sinkronisasi nada untuk menghindari berbagai rintangan. Khusus untuk game yang terakhir saya sebutkan itu awalnya seru banget saya sampe senyum-senyum kegirangan. Tapi seakan ingin membenarkan kata-kata *uhuk!* mantan saya *uhuk!* bahwa saya adalah orang yang tidak bisa diandalkan dalam berkomitmen, ya begitulah juga hubungan saya dengan game ini… Hanya perlu tak sampai sehari saya sudah bosan dan uninstal game tersebut.

Sampai akhirnya kemarin saya menemukan sebuah game bernama Choices. Game ini sih sebenarnya bukan game, hanya semacam cerita tapi di dalamnya kita sebagai tokoh utama dengan pilihan-pilihan yang bisa kita ambil dan nantinya pilihan itu akan mempengaruhi jalan cerita yang kita ikuti. Ya ya ya…I know…buat sebagian orang mungkin it’s a lame game…game yang payah. But hey, it’s kinda fun for me hehehehe… Sudah hari kedua dan saya masih menganggap game ini seru aja karena ga ketebak kan bagaimana kisah yang kita ikuti itu berakhir.

Dan selain itu untuk memasuki setiap bab dalam cerita yang kita pilih kita harus menukarkan dengan satu “kunci”. Nah kunci ini hanya diberikan satu buah setiap 3 jam. Padahal untuk menghabiskan satu bab tidak lebih dari 10 menit saja. Jadi wajarlah ya kalau selama dua hari ini saya masih betah karena baru beberapa bab saja yang sudah saya lewati dan masih terus penasaran bagaimana jalan cerita karakter-karakter dalam cerita ini akan berakhir.

Terlepas dari hal-hal itu, ada satu hal yang sebenarnya saya anggap mengesalkan dari game ini… Jadi di game ini karakter yang saya mainkan adalah seorang mahasiswa semester awal di sebuah universitas yang tinggal bersama dengan 5 orang teman kuliahnya yang terdiri dari 3 laki-laki dan 2 perempuan. Singkat cerita karakter saya mulai dekat dengan salah satu teman rumahnya itu.

Yang membuat saya kesal adalah…baru saja dekat, dan mulai kencan pertama..karakter yang ditaksir oleh karakter saya ini tiba-tiba pingsan di club dan harus segera dievakuasi dengan ambulance ke rumah sakit.

Sampai sekarang belum diketahui bagaimana nasib teman kencan saya itu karena kunci untuk melanjutkan bab selanjutnya belum saya dapatkan. Tapi tak ayal kejadian di game ini bikin saya mikir dan pengen misuhyaelaaaahhh bahkan dalam game saja kehidupan asmara saya kok ya kacau gini tho yaaa…”

Auk ah… Kesel bet dah rasanya… Tinggal tidur aja deh…

Semoga teman kencan saya baik-baik saja dan cepat pulih *lhooo kok baper sampai ke dunia nyata, Reiiiii…!*

Advertisements

Hello, 16 September

​Hai, 
Lama tak menulis tentangmu
Entah sejak kapan angka 16 bukan lagi tentang kamu
Sudah tak terhitung angka 16 yang kulewati dengan ingatan-ingatan baru
Kecuali hari ini
Angka 16 dengan ‘September’ di belakangnya

Tak mudah ternyata menyingkirkan kamu
Meski sudah tak lagi tersisa luka
Harus akui di satu sudut hati kamu masih ada
Mungkin akan selalu begitu

Hai,
Bohong kalau ku bilang aku merindukanmu
Nyatanya wajahmu bukan lagi yang terbayang dalam kepala di setiap kata “rindu”
Meski aku tak akan berdusta sesekali masih aku bertanya-tanya tentang keadaanmu
Bagaimana kehidupanmu setelah aku
Apakah kau bahagia?
Apakah kau baik-baik saja?
Apakah dia yang bersamamu saat ini membuatmu merasa dicinta?

Bukan urusanku tentu saja
Karenanya kubiarkan tanya menjadi sekedar tanya
Tanpa perlu kucari jawabannya

Hai,
Di manapun kamu berada saat ini
Dengan siapapun kamu bersama saat ini
Bagaimanapun keadaanmu saat ini
Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan berkah dan kebaikan kepadamu
Aamiin

Dari aku,
Yang masih tetap menjaga janji terakhirku untuk berbahagia tanpa kamu

Pelajaran Hidup

Hidup itu bukan bangku sekolah yang punya jargon wajib belajar 6 tahun, 9 tahun, 12 tahun atau berapa pun. Karena wajib belajar dalam hidup itu ya…seumur hidup. Sepanjang kita hidup.

Ujiannya kapan? Ya kapan saja. Saya bahkan sering mendengar ucapan “kalau di sekolah kita dapat pelajaran dulu baru ujian, kalo dalam hidup…ujian dulu baru bisa kita dapat pelajarannya“. Nyatanya ya tidak salah, wong yang sering terjadi memang seperti itu. Seringnya kita dipaksa merasakan sebuah ‘ujian’ dulu, dipaksa merenungi ujian itu dulu, dipaksa mikir dan meraba-raba ada pelajaran apa yang ingin diajarkan pada kita di balik ujian ini. Baru deh setelahnya, setelah pikiran kita diperas dan ditempa barulah kita bisa mengerti dan mendapatkan jawaban juga pelajaran baru. Itu pun belum tentu benar. Bisa saja jawaban  dan hasil yang membuat kita berpikir “ohhh Tuhan sedang ingin mengajari aku tentang ini rupanya….“, ternyata mungkin bukan itu tujuan Tuhan sebenarnya.

Tapi di situlah nikmatnya pelajaran hidup dibandingkan sekolah, tidak ada jawaban yang salah, tidak ada pelajaran yang sia-sia dari sebuah ujian kehidupan. Lagipulah siapalah kita ini mau sok-sokan menebak maksud Tuhan. Paling-paling kalo ternyata pelajaran yang harus kita pelajari belum bisa kita mengerti…ya nanti di lain waktu dikasih ujian yang sejenis lagi oleh Tuhan. Atau saat kita sudah belajar banyak tapi kembali lupa. Tuhan dengan caraNya pasti mengingatkan kita untuk kembali belajar.

“Kita”??? Kamu aja kali, Rei…

Iya, saya…

Hidup sedang membawa saya untuk belajar banyak sekali belakangan ini. Pelajaran-pelajaran yang sudah pernah saya pelajari tapi terlupa dan harus berusaha saya mengerti kembali. Tentang perubahan, tentang pemberian, tentang ketakutan, tentang keberanian, tentang luka, tentang rasa percaya, tentang janji, tentang bukti, tentang kebaikan, tentang perasaan, tentang pengendalian, tentang harapan, tentang batasan, tentang keterbatasan, tentang penerimaan, tentang keikhlasan, dan banyak lagi yang satu per satu kembali saya mengerti.

Capek? Ya capek… Menguras tenaga, waktu, dan pikiran ya pasti… Ingin berhenti? Ya kadang…

Namanya juga murid yang sedang belajar…kadang bosan, kadang ingin lari keluar kelas, ingin jajan, ingin istirahat.

Tapi yang namanya hidup ya waktu belajarnya tidak mengenal jam istirahat. Namanya pelajaran hidup ya harus tetap dipelajari selama hidup. Kalau masih diberi ujian hidup, bersyukurlah karena itu pertanda masih diberi hidup. Karena berhenti berarti mati. Dan dalam sejarah hidup manusia setahu saya sih belum pernah ada orang mati yang hidup kembali untuk mengabarkan “mati itu enak lho…lebih enak daripada hidup, yukkk ikut aku kita mati aja…“.

Tapi Rei, belum ada juga sih orang yang sudah mati lalu kembali hidup lagi…berarti mati itu lebih enak Rei daripada hidup, Rei… Hambuh ah embuhhh sakarepmuuuu.

Jadi kalo kamu, apa yang sedang diajarkan oleh hidup kepadamu saat ini?

Apapun itu, semangat ya….!!! *joget pompom*

Dharmawati

Dharmawati namanya

15 September 32 tahun yang lalu dia lahir ke dunia.

Dharmawati namanya

Aku mengenalnya sebagai ‘Dar’, tetangga yang baru pindah dan berteman baik dengan kakakku. Usia mereka sama. Zodiak mereka sama. Tanggal lahir mereka berdekatan. Bahan obrolan mereka sama. ketertarikan mereka sama. Sampai kemudian aku tau ‘Dar’ bukan satu-satunya kepribadian yang ada dalam tubuh Dharmawati.

Dharmawati namanya

Sesekali dia mengenalkan dirinya sebagai ‘Dar’, sesekali ‘Darma’, dan di lain waktu ‘Wati’

Dharmawati namanya

Dia adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan satu tubuh yang dihuni tiga jiwa berbeda (tentu saja saat itu aku belum tau itu adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan). Dar yang dewasa dan…normal. Darma yang genit dan centil. Wati yang kekanakan dan menyenangkan.

Dar berteman baik dengan kakakku. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam duduk mengobrol di balkon rumah sambil tertawa-tawa entah membahas tentang apa. Sungguh membosankan.

Darma sangat genit. Aku dan kakakku tak menyukainya. Tapi karena dia juga suka duduk mengobrol seperti Dar, maka kakakku juga menemaninya. Meski seringnya saat Darma muncul kakakku akan pulang ke rumah lebih awal karena obrolannya seputar hal-hal dewasa dan kakakku tak suka.

Wati lebih cocok berteman denganku. Biasanya aku tidak suka berteman dengan perempuan. Mereka membosankan. Kegiatan mereka hanya mengobrol dan mengobrol tentang hati dan perasaan. Sungguh membosankan. Tapi Wati berbeda. Sering aku diajaknya bermain di sungai belakang rumahnya, atau berlarian di kebun milik kakaknya berpura-pura kami adalah dua orang bocah yatim piatu yang menyelinap sembunyi-sembunyi merayap di kebun-kebun sayur yang tak dijaga untuk mencuri makanan dan tetap bertahan hidup. Tidak sepenuhnya berpura-pura karena sungguh kami sedang merayap bersembunyi agar kakaknya yang galak tak tau timun-timun yang sering hilang di kebunnya adalah kami penyebabnya.

Aku suka saat Wati yang mengambil alih tubuh Dharmawati. Wati sangat menyenangkan. Wati selalu tertawa dan terlihat gembira meski sakitnya sedang parah-parahnya.

Bukan hanya Wati. Dar dan Darma juga sedang sakit. Mereka berbagi satu tubuh, remember?

Kanker kulit, katanya. Entahlah aku tidak begitu paham waktu itu, tak ada internet pun. Yang aku tau Wati atau Dar atau Darma, siapa pun yang sedang menempati tubuh Dharmawati harus rutin meminum obat di jam-jam tertentu. Ada banyak obat yang harus ditelannya. Sebagian lagi dioleskan di kulit lehernya yang mengelupas. Ralat, bukan hanya kulit tapi sebagian dagingnya pun ikut mengelupas tapi tak sampai terlepas. Menggantung dan terlihat seperti kutil yang hampir lepas.

Pernah sekali saat sedang mengoleskan obat di ‘serpihan’ daging yang menggantung di lehernya, Wati bertanya “Rei, kenapa kamu mau berteman denganku? Kamu ga jijik dengan luka-lukaku?“. Ingin kujawab pertanyaannya dengan kalimat-kalimat puitis yang menenangkan dan menyenangkan, tapi aku hanya menggeleng dan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lainnya “memangnya kenapa aku harus jijik?“. Wati tertawa. Aku tau aku memberikan jawaban yang tidak buruk.

Wati satu-satunya teman perempuanku saat itu.

Teman yang harus kutinggalkan saat sedang sayang-sayangnya sakit-sakitnya. Kondisinya memburuk. Luka di lehernya semakin melebar dan semakin banyak kulit dan daging yang mengelupas dari lehernya. Kabut putih di mata kanannya. Mereka bilang Katarak dan ia akan kehilangan penglihatannya suatu waktu. Entah berapa lama lagi, yang pasti dia kehilangan temannya saat itu. Aku.

Ayahku harus pindah tugas ke pulau Jawa dan tak mungkin aku tetap tinggal.

Pernah sekali aku bertanya pada ibu apakah boleh Wati ikut bersama kami. Ibu menjawab “tak mungkin kita mengambilnya dari keluarganya“. Lalu ibu menangis. Seperti juga aku, mungkin ibu sedih memikirkan nasib Wati dan Dar dan Darma (hanya aku dan kakakku yang tau tentang keberadaan tiga jiwa dalam satu tubuh Dharmawati) sepeninggal kami. Keluarganya tak pernah memperlakukan dia dengan baik. Ayahnya entah kemana. Ibunya tinggal dengan saudaranya yang lain di tempat yang jauh. Dia bersama dengan kakaknya hidup di rumah abang iparnya, seorang ‘dukun’ yang mengaku bisa menyembuhkan banyak orang. Obat-obatan yang dikonsumsi Wati dan Dar dan Darma bukan obat dokter tapi hasil racikan abang iparnya. Keluarga kami tak pernah berobat kesana, tak percaya dengan obat entah apa yang diraciknya itu. Aku tak pernah suka dengan abang iparnya itu. Meskipun sering tersenyum tapi wajahnya seperti…menyeramkan dan jahat. Baru setelah dewasa aku kembali teringat salah satu cerita Darma yang genit tentang seorang laki-laki yang dikenalnya dan melakukan hal-hal yang tidak pantas kepadanya di rumah dan aku mulai berpikir itu bukan sekedar imajinasi tapi sungguh-sungguh pernah terjadi dan yang melakukannya adalah abang iparnya sendiri. Wati dan Dar juga sering menceritakan ketakutan mereka terhadap abang iparnya itu, tapi sungguh saat itu kami adalah bocah-bocah yang masih tak mengerti apa-apa tentang KDRT dan hanya bisa berkata “kalau kamu takut nanti lari ke rumah aku aja” setiap kali mereka menceritakan ketakutan mereka.

Sebelum pergi sempat aku bertemu Wati untuk terakhir kalinya. Kukatakan padanya aku ingin membawanya pergi bersama kami tapi tak bisa karena kami belum tau bagaimana kehidupan di Jawa nanti dan khawatir akan semakin menyusahkannya kalau dia harus berhenti mengkonsumsi obat-obatan racikan abang iparnya. Wati hanya tersenyum. Lalu kujanjikan padanya aku akan kembali dan menjemputnya saat aku sudah tau bagaimana kehidupan di Jawa nanti. “Jawa itu lebih besar dan modern, nanti aku cari obat yang bagus buat kamu“.

Stupid Rei.

Wati kembali tersenyum. Ku rasa dia lebih dulu tau janji itu tak mungkin bisa aku tepati.

Terakhir sebelum berangkat aku masih bertemu dengan Dharmawati. Meski aku tak lagi tau siapa yang sedang mengambil alih tubuhnya, aku tetap memeluknya erat. Berharap meski jauh terkubur di dalam sana, Wati bisa merasakan pelukanku. Dan kesedihanku.

Tahun berlalu, tak ada lagi berita dari Dar, Darma, atau Wati. Surat-suratku tak berbalas.

Lalu berita itu tiba, abang ipar Wati ditangkap Polisi karena menipu dan Wati bersama kakak perempuannya tinggal bersama keluarga yang lainnya. Wati kehilangan penglihatan di mata kanannya, tak lama sebelum sakitnya yang semakin parah tak tertangani akhirnya mengambil juga nyawanya.

Aku tak pernah lupa dengan janji-janjiku. Aku hanya menjadi tau janji-janji itu tak mungkin aku tepati.

***

Dharmawati namanya

Hari ini, 15 September 2017, usianya genap 32 tahun kalau saja dia masih hidup di dunia.

Selamat hari lahir Dar, Darma, Wati. Tidak ada lagi yang bisa aku kasih selain doa semoga kehidupan yang harus kamu kalian jalani di alam yang sekarang jauh lebih baik dari kehidupan sewaktu di dunia. Aamiin.

 

Best Friend In The World

 

Everybody needs a best friend in this world
We all need one good thing in this cruel cruel world
That we can count on all of our lives
You sounded so alone last night and I could not help but cry
I wanted to reach out to you and just make everything all right
I wish that I could show you just how much I truly care
All my life I promise to be there

I would be your best friend in the world
I would be the one true thing in this untrue world
And I will hold you all through the night
I will be the best friend to you girl
You can tell me all those things that you can’t tell the world
And I will listen all through the night

I would’ve given anything just to wipe all your tears away
I would’ve walked for miles and miles all you had to do was say
If you needed me by morning light, know that I’m on my way
Cause all my life I promise to be there

Cause I would be your best friend in the world
I would be the one good thing in this cruel cruel world
That you can count on all of your life
I will be the best friend to you girl
You can show me all those things that you hide from the world
And I will be here for the rest of your life

When life’s hard to understand
I’m gonna reach out my hand to you
Hold on and you’ll see how much I care

Cause everybody needs a best friend in this world
We all need one good thing in this cruel cruel world
That we can count on all of our lives

Cause I wanna be the best friend in the world
I wanna be the one true thing in this untrue world
Yes I will hold you all through the night
I wanna be the best friend to you girl
Can I be the one good thing in this cruel cruel world

Yes I will be here for the rest of your life

David Corey – Best Friend In The World

Nobody Can

Tom : Look, we don’t have to put a label on it. That’s fine. I get it. But, you know, I just… I need some consistency.

Summer : I know.

Tom : I need to know that you’re not gonna wake up in the morning and feel differently.

Summer : And I can’t give you that. Nobody can.

(500 Days of Summer)

Be OK

I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today
I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today

I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today
I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today

[CHORUS:]
Open me up and you will see
I’m a gallery of broken hearts
I’m beyond repair, let me be
And give me back my broken parts

Just give me back my pieces
Just give them back to me please
Just give me back my pieces
And let me hold my broken parts

I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today
I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today

I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today
I just want to know today, know today, know today
Know that maybe I will be ok
Know that maybe I will be ok
Know that maybe I will be ok

Ingrid Michaelson – Be OK

 

One Day at a Time

It was a few years ago...lupa sih tahun berapa tepatnya, berbagai hal mulai dari urusan rumah, pekerjaan, sampe urusan hati terasa tidak baik-baik saja dan berantakan. I remember waktu itu menghubungi Mia dan berkeluh kesah “I don’t know how to live my life anymore, Mi. I’m so messed up. Everything is a mess“, kata saya jujur. Saat-saat seperti itu memang rasanya Semesta sedang menutup pikiran dan seperti ingin meninggalkan kehidupan saja rasanya.

Saya lupa apa saja yang saya luapkan pada Mia hari itu, tapi saya ingat sekali jawaban Mia saat itu. Singkat dan jelas Mia berpesan “one day at a time, Rei. Live your life one day at a time

Lalu begitulah yang saya laksanakan, sesuai petuah Mia saya hanya menjalani hidup untuk sehari saja. Tak terpikir lagi akan bagaimana besok, yang penting berjuang untuk satu hari ini saja. Setiap kali ingin menyerah dan berharap hidup segera berakhir…selalu teringat lagi “satu hari saja, Rei…bertahan satu hari lagi saja“, berjuang untuk tetap bertahan satu hari saja dari sejak membuka mata di waktu pagi…lalu berakhir di malam hari. Tidur. Mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Begitu terus. Satu hari. Satu hari. Satu hari. Meski hanya menemukan satu saja alasan untuk tetap menjalani hari, meski hanya alasan kecil yang sepertinya remeh…jalani saja setiap hari. Satu hari. Satu hari. Satu hari. Sampai alasan itu bertambah. Sampai kekuatan berlipat ganda dan kembali bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Dan begitu jugalah belakangan ini, termasuk hari ini. Setiap kali ingin berhenti di tengah hari, selalu berkata ke diri sendiri “satu hari lagi, Rei. One day at a time. Bertahanlah sehari ini saja“. Sampai ketika tiba di penghujung hari, letakkan semua beban, sudahi perjuangan untuk hidup hari ini, beristirahat dan peluklah diri sendiri dengan penuh rasa terimakasih “terimakasih sudah berjuang satu hari lagi, Rei. Terimakasih masih bertahan. Terimakasih masih ada

Kehilangan…

Sudah lebih dari seminggu ini saya kehilangan nafsu makan. Awalnya terasa biasa aja sih…biasa juga kalo PMS tiap bulan kalo ga ingin makan gila-gilaan ya nafsu makannya hilang (yes, it is all or nothing at all)…dan mungkin bulan ini jatahnya PMS yang kehilangan nafsu makan. Tapi eh tapi…sampai hari ini tamu bulanannya sudah pergi, nafsu makannya belum juga kembali.

Ga mual, ga sakit, kalo sudah makan pun ya ga ada perasaan ingin muntah atau gimana, ga ada rasa yang gimana juga dengan pencernaan…hanya…tak bernafsu saja ketika melihat makanan. Semacam lidah rasanya…tidak menginginkan apa pun dan makan hanya sekedar…memenuhi hak tubuh saja.

Makanan yang dimakan pun ya hanya semacam finger food aja, atau sayur, atau buah…yang tak perlu banyak tenaga tapi manfaatnya terasa di tubuh dan kenyangnya bertahan lama.

Mungkin sedang ingin makan makanan ‘jahat’, Rei? Ga juga…tak ingin makan mie instan, tak ingin roti atau eskrim, tak ingin makan makanan cepat saji, hanya…tak ingin apa-apa saja.

Atau mungkin makanan yang sedang diinginkan lidah yang tidak bisa didapatkan?

Ingin sayur bayam bening dan tempe goreng buatan Ibu…

Ingin sop sayur dan ikan bakar buatan Bapak…

Ingin makan eskrim disuapin Sasun

Ingin comot ayam goreng di piring si Monster

Ingin curi sate di piring adek

Ingin ambil lontong pecel dari piring kakak

Ingin makan bakwan jagung yang baru saja diangkat mbak Tini dari penggorengan

Ingin makan apa saja

.

.

.

.

.

.

.

di rumah

 

*sepagian Pulang nya Float mengalun memenuhi ruangan dalam kepala*

21 Days

Pernah dengar nasihat yang mengatakan bahwa kebiasaan terbentuk hanya dalam 21 hari?

Beberapa kali saya mendengar dan/atau membaca tentang itu. Salah satunya dalam sebuah ceramah bertema kebiasaan hidup sehat dan sebagainya yang diadakan oleh sebuah organisasi di kantor saya. Salah satu yang disebutkan dalam ceramah itu adalah mengenai waktu yang diperlukan manusia untuk melakukan kebiasaan tertentu. Atau mengubah kebiasaan tertentu. Sama saja.

Menurut pemateri, manusia hanya memerlukan waktu 21 hari untuk membiasakan diri melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Setelah 21 hari kegiatan itu akan menjadi bagian dari kebiasaan dan tidak akan terasa seperti hal baru lagi. Dan ini berlaku untuk apa saja.

Jadi jika ada sesuatu yang ingin dijadikan kebiasaan, seseorang hanya perlu ‘memaksa’ dirinya melakukan hal tersebut selama 21 hari saja. Memperbaiki pola tidur, pola makan, melatih pikiran untuk meredakan pikiran-pikiran buruk, melatih pernapasan, mengubah diet, gaya hidup, menekuni hobi dan pekerjaan baru, memulai interaksi atau menghentikan interaksi dengan orang lain, kebiasaan-kebiasaan sebelum atau sesudah melakukan sesuatu, memberi kabar kepada seseorang sebelum dan setelah pergi, kebiasaan-kebiasaan atau bunyi-bunyian tertentu yang harus ada sebelum tidur, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan saat bangun tidur. Mengubahnya dan menjadi terbiasa dengan hal-hal serta rutinitas baru hanya memerlukan waktu selama 21 hari. Selebihnya yang ‘baru’ tadi akan terasa biasa dan menjadi bagian dalam hidup seseorang.

21 hari banget ya, Rei? Kalau sesuatu itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, harus ya melewati 21 hari penuh penderitaan dan paksaan dulu baru bisa terbiasa dan tak lagi terasa menyiksa?

Well, berita baiknya…belum ada penjelasan ilmiah yang menguatkan ‘mitos’ ini dan angka 21 dianggap hanya sugesti yang ada di dalam kepala saja. Karena sudah terlanjur populer di berbagai kalangan termasuk orang-orang yang disebut sebagai motivator maka angka 21 lah yang menjadi kepercayaan dan mempengaruhi kinerja otak dan tubuh dalam merespon dan menerima sebuah kebiasaan.

Berita buruknya…saya baru saja membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa dalam sebuah percobaan yang hasilnya pernah dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology, dari 96 sukarelawan yang mengikuti percobaan tersebut, rata-rata mereka akhirnya bisa menerima sebuah kegiatan sebagai kebiasaan yang otomatis dilakukan setelah  66 hari. Dan sekarang sebagai pengganti angka 21, angka 66 yang menempel di dalam kepala.

Jadi, kamu…kebiasaan baru apa yang sedang atau harus akan kamu mulai saat ini? Bagaimana rasanya?