A Man Called "Daddy"

Postingan kali ini…aku persembahkan untuk seorang Lelaki. Lelaki sederhana tanpa embel-embel Profesor,Doktor,Dokter dsbnya di depan atau belakang namanya. Lelaki yang hanya hidup dengan satu gelar…”Ayah”. * Hmmm…baru mulai ngetik aja dah langsung basah ni mata…*.

Ga banyak yang bisa aku tulis tentang Daddyku. Ga banyak…karena aku emang ga tahu harus mulai dari mana.

Kalo biasanya anak-anak cewek lebih cenderung dekat ma Ibu daripada Bapaknya…beda ma aku,aku deket bgt ma Daddy. Dekat bukan dalam arti selalu ketemu…ngobrol bareng…curhat-curhatan (*what????*)ato bahkan pergi ke mall ato salon bareng (*busyet… nyalon bareng Bokap??? who does…????*).Dekat…karena Daddy yang paling ngerti aku.

“Back when I was a child, before life removed all the innocence
My father would lift me high and dance with my mother and me and then
Spin me around ’til I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved
If I could get another chance, another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again
When I and my mother would disagree
To get my way, I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me yeah yeah
Then finally make me do just what my mama said
Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet”

Daddy yang punya caranya sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Dalam hal “materi” misalnya…beliau bukan tipe orangtua yang akan nurutin semua nafsu anak-anaknya akan benda-benda. Jaman aku sekolah dulu…saat mayoritas teman-temanku heboh saling memamerkan HP terbaru mereka…aku bahkan belum punya benda bernama HP itu. Waktu aku minta ma Daddy…beliau malah ngasih jawaban yang ga aku harapkan “you’ll be the one who use that stuff,then why should I buy it for you???” Gubrakk….!!intinya… aku harus nyari duit sendiri buat beli HP. Sumpah dech waktu itu sempat mikir “gila…kejam juga ya Bokap gue…”,tapi seiring berjalannya waktu (halah…lebay…) setelah akhirnya benda bernama HP itu terbeli dengan uang yang aku dapat dari imbalan bekerja sebagai penjaga warnet selama 9 bulan 10 hari *hah?jaga warnet apa bunting loe Rei?* ga dink…Cuma 3 bulan, aku akhirnya bisa ngerti maksud Daddy ngelakuin itu…bahwa itulah cara beliau ngajarin ke anak-anaknya untuk menghargai barang-barang yang kami punya (di tingkat lanjut…menghargai semua hal yang kita punya dalam hidup). Seorang teman berinisial “A” di sekolah sering bgt kehilangan HP,frekuensi kehilangannya bisa sampe 3 kali dalam setahun,ga tanggung-tanggung…HP yang hilang itu HP “tingkat tinggi” semua *yang mungkin baru bisa terbeli kalo aku jaga warnet selama 5 tahun*,dan si A itu nampak tenang-tenang saja kalo HPnya hilang…karena dia tahu segera setelah HPnya raib,maka HP baru yang lebih “tinggi” lagi akan langsung dibelikan ma ortunya *belakangan menurut pengakuan si A tersebut,dia sering berdoa supaya HPnya hilang dan segera digantikan dengan HP baru*tanpa perlu jaga warnet and ngumpulin duit rupiah per rupiah dulu… Dari situ aku belajar “kita akan menjaga dan tidak menyia-nyiakan sesuatu yang kita dapatkan dengan bersusah payah”.

Kisah itu hanya sebagian kecil dari pelajaran yang aku dapatkan dari Daddyku.

Daddy…Lelaki yang darinya aku belajar bahwa keluarga adalah segalanya,beliau yang mengajari aku arti “berbagi” dan “berbaik hati”. Lelaki yang menunjukkan bagaimana sepantasnya perempuan diperlakukan. Daddy yang selimutnya selalu aku pakai waktu berada jauh dari rumah. Daddy yang menunjukkan padaku untuk tidak berteriak bahkan memaki pada pejalan kaki yang sembrono yang membuat kita nyaris menabraknya. Daddy yang disegani oleh seluruh keluarga besar. Daddy yang memberikan kecupan selamat malam sebelum tidur di pipiku yang juga pernah ditamparnya karena berkelahi ma adekku (well…bukan Cuma aku sech yang dapat “cap merah” di pipi saat itu…adekku juga…). Daddy yang masuk ke kamarku sehabis sholat malam untuk mematikan radio yang mengantar tidurku. Daddy yang mengajariku bermain bola,membuat senjata mainan dari bambu,membangun tenda, memancing,berenang *biarpun sampe sekarang kemampuan berenang Daddy ga kunjung turun padaku*dan menangkap gurita *he did…*. Daddy yang menunjukkan padaku cara memakai GPS…mengajariku masak *he’s the best chef ever…*. Daddy yang tahu bagaimana cara gimana bikin aku nurut dan juga mendiamkanku saat nangis. Pernah dengar “Dance With My Father”nya Luther vandros? Nah…kaya’ gitu lah kurang lebih aku ma Daddy.

Tapi percaya dech…Daddyku juga bukan buku pelajaran Kewarganegaraan yang isinya kebaikan semua… Daddy Cuma manusia biasa yang kadang beberapa sikapnya ga bisa aku terima. Daddy yang selalu ingin anaknya ngasih yang terbaik “kenapa ga 100?” pertanyaan itu yang Daddy ajuin waktu liat angka 97 di raportku untuk pelajaran Bahasa Jepang. “kenapa ga juara 1?” Tanya Daddy waktu aku dapat juara 2 di Porda *Cuma tingkat kabupaten sech…* untuk cabang Tenis Meja. Beliau ga mau tahu kalo aku udah ngasih usaha maksimal. “kenapa Penjaga gawang bukan Penyerang?” saat aku cerita betapa bangganya aku masuk tim inti Sepak Bola di sekolah, dan “kenapa kelas Bahasa bukan IPA” waktu aku mulai penjurusan di SMA…beliau ga ngerti kalo itu semua karena aku yang mau,aku suka perasaan “bertanggung jawab penuh atas keamanan gawang, saat penyerang sudah gagal dan pemain belakang ga bisa nahan serangan lawan…sebagai pertahanan terakhir kesebelasan dalam sebuah pertandingan”. Beliau ga pengen tahu kalo aku suka belajar bahasa…aku mampu dan aku mau ada di kelas bahasa. Beliau ga pernah pengen tahu apa aku suka ada di Hukum…apa aku menikmati statusku sebagai mahasiswa fak Hukum UNDIP?yang Daddy tahu aku harus jadi yang terbaik,aku harus punya IP tinggi. Daddy ga tahu aku sering nangis…nangis hanya karena teman-temanku bercerita betapa asyiknya kuliah mereka,betapa mereka menikmati mata kuliah “chokai”,”Bunpo”, “Dokai” , “Kaiwa”, grammar,fotografi, sementara aku…memilih untuk menyakiti diri sendiri demi kemauan Daddyku.

Hey dad look at me,Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t pretend that
I’m alright,And you can’t change me

I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’s alright

Nothing’s gonna change the things that you said
Nothing’s gonna make this right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand”

Yah…after all…in fact I’ve chosen dan aku harus ngejalanin apa yang udah aku pilih. Seseorang pernah bilang “Fight for what you have started, never think of giving up, a real fighter wont ever think of it,now I’m asking you rei,are you a fighter?” and I said “yes,I am a fighter” karena Daddy pasti ga mau aku nyerah… untuk apa pun.. yah…after All..emang semua demi daddy…

p.s : lirik lagu yang aku warnain tu “aku” bgt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s