Bukan Penaklukan…hanya Pencapaian (Semarang – Lawu – Semarang)



Sumpah…naek gunung itu capek…!!! *ga cuma sejam doank Jean…*. Terakhir aku naek Merbabu setahun yang lalu *nyampe puncak pas Ultah Daddy* aku bilang “ga lagi-lagi dech naek gunung !!!“*buat “seseorang*you know who you are*” yang berencana “nembak” aku di puncak Semeru… urungkan saja niatmu anak muda…*,tapi ternyata…aku salah,naek gunung itu bikin ketagihan juga rupanya. Ada kerinduan yang memanggil setiap kali melihat langit sore ato saat melihat puncak gunung dari kejauhan. Kerinduan itu yang akhirnya memaksaku melanggar kalimatku sendiri dan kembali berngesot-ngesot ria mendaki tapak-tapak jalan pegunungan,dan kali ini…Gunung Lawu yang berhasil aku sambangi puncaknya.

Jumat,18 Juli 2008 pukul 13.30 WIB tim yang terdiri dari 5 orang Nebulis (*3 cowok*: Nanda,Noel,Doni, *1 cewek*: Rani, dan*1 manusia yang sedang mengalami kebingungan gender*: Rei) mengawali perjalanan panjang menuju puncak Lawu.
Sepanjang perjalanan Semarang-Solo banyak hal menarik yang aku catat,misalnya : “Seorang Pendaki ditemukan tewas di sebuah bus dalam perjalanan Semarang-Solo. Penyebab kematian diduga kuat karena kehabisan nafas akibat tertimbun carrier *FYI, tas ransel segede gaban yang biasa dipake pendaki* rekan-rekan setimnya” yupz…kalimat berita itu muncul di kepalaku ketika di dalam bus sepanjang perjalanan aku harus tidur dengan posisi “Kepala-menyandar-jendela-Rani-tidur-di-pundakku-dan-carrier-carrier-ditumpukkan-di-pangkuanku-sampai-menutup-mukaku”yang membuat aku lumayan sesak napas juga. Sampe di terminal Tirtonardi pukul 17.30 untuk pindah bus menuju Tawangmangu

Perjalanan ke Tawangmangu sekitar 2 jam. Doni and Nanda tidur,Noel sibuk ngegodain Rani,dan aku…sibuk mengamati orang-orang yang berdesak-desakkan *eh…ada cewek yang mirip Pia Zebadiah…pake cardigan ungu* dan pastinya memandangi Bulan Purnama *yang bikin aku tambah semangat buat segera memulai pendakian*.

Sampe di Tawangmangu kami masih harus berganti angkutan lagi. Dan akhirnya setelah proses tawar menawar yang sedikit alot kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian Cemoro Sewu menaiki Angkot yang supirnya tak henti-hentinya memainkan lagu-lagu lawas Bang Haji Rhoma Irama *Gosh…have to admit it…he played my favourite song…hehehe…hidup Bang Haji!!!*

cowok-cowok di pos Cemoro Sewu

Sampe di pos Cemoro Sewu pukul 20.30 WIB kami sempat bertemu beberapa pendaki dari Jogja *Anjrittt…ada yang cakep bgt…pake topi “REI” huhuhu…cowok pendaki emang tipeku bgt…mupeng mode on* dan juga 3 orang dari Semarang yang ternyata mengenaliku *hohoho…aku cukup terkenal ternyata…*
Cowok Semarang Baju Kuning (CSBK) : dari Semarang ya?
Doni : iya mas *lagi nunggu pesenan nasi goreng*
CSBK : heh…cah Nebula tho?Hukum Undip?*sambil nunjuk aku* (heh…anak Nebula kan?Hukum Undip?)
Aku : Iya mas *tampang senyum-senyum bego takjub bangga “wah..terkenal gue…”* kok tahu?
CSBK : yo ngerti…aku tongkrongane ning Matra. Koncone Bunder kan? (ya tahu…aku nongkrongnya di Matrapala kok *Pecinta Alamnya anak Sastra Undip*. Temennya Bunder kan?) *Bunder adalah pria berkacamata yang “berjualan pisang goreng” dan berteriak-teriak aneh pada saat aksi hari Lingkungan Hidup di Tugu Muda*

Kedua rombongan itu memulai pendakian malam itu juga,sedangkan kami karena kelelahan dan kedinginan *sumpah kalo mo tahu gimana rasanya ada di sana…bayangin aja pake 2 jaket tebal,kaos kaki,kaos tangan duduk dekat api unggun tapi tetep kedinginan and gigi gemeletukan ga karuan* kami memutuskan untuk memulai pendakian besok paginya aja dan nginep di basecamp Cemoro Sewu. Di Basecamp ini kami kenalan ma 2 orang ranger gunung Lawu dari Pos Cemoro Sewu. Ngobrol sambil mengelilingi api unggun dan menikmati purnama dan bintang yang bertaburan… *Subhanallah langit…indah bgt…*. Sebenarnya api unggun itu adalah bakaran sampah. Jadi tiap pendaki biasanya mengumpulkan sampah plastik mereka dan dibawa kembali ke basecamp untuk dibakar. Dengan niat untuk sedikit mengurangi rasa dingin dengan bergerak aku ikut-ikutan ngelemparin satu per satu sampah plastik ke dalam api,sampe kemudian mas Ranger yang baju merah kelihatan bingung mencari sebungkus rokok Bentoel Biru Sejatinya,yup…yang barusan aku lempar ke api ternyata bungkus rokok yang masih ada isinya *Ok…cacat otak akut gue kambuh*,Rani yang tahu apa yang terjadi langsung senyum-senyum ngelirik aku dan aku…senyum-senyum najong memandang langit…hehe…

Paginya rencana untuk mulai mendaki jam 6 gagal…hehehe..biasalah kalo dah tidur kita suka lupa bangun. And finally setelah sarapan yang kami siapin sendiri dengan hebohnya, kami pun bergerak meninggalkan basecamp yang diiringi dengan lambaian tangan dan sedu sedan mas-mas Ranger yang 2 orang itu…*hohoh…lebay…*

poto-poto sebelum naik…*anak 2006 ajah….*

Ada 5 pos dengan total jarak sekitar 7 km yang harus kami lewati untuk sampai ke puncak Lawu (Puncak Hargo Dumilah) dari basecamp Cemoro Sewu ini. Gunung Lawu merupakan gunung wisata yang ramai dikunjungi baik oleh pendaki biasa atau pun oleh orang-orang yang mengunjungi Lawu untuk mengharap berkah,”orang-orang ritual” begitu mereka biasa disebut. Memang gunung lawu ini merupakan gunung yang suasana mistisnya masih kental banget,dan kemistisannya itu yang juga dimanfaatkan untuk menjaga kawasan gunung Lawu ini. Misalnya saja aturan “barangsiapa ketemu atau diikuti oleh burung Jalak Gading,jangan diganggu karena dapat menyesatkan”,jelas banget aturan beraroma mistis ini adalah untuk menjaga populasi burung Jalak Gading.

peraturan di gunung Lawu *pos Cemoro Sewu (Jawa Timur)*

“altar” di Cemoro Sewu *aroma dupanya bo’….*

Terlepas dari masalah “mistis” yang mungkin ga semua orang mempercayainya mayoritas pendaki apalagi “orang-orang ritual” ga berani melanggar peraturan-peraturan seperti ini. *jadi kepikiran…gimana kalo semua peraturan tertulis diberi embel-embel sanksi berbau mistis…kaya’nya akan lebih berhasil daripada sanksi pidana atau sanksi lainnya,misalnya “Dilarang merokok di sini.Barangsiapa melanggar akan dihantui oleh suster ngesot penunggu ruangan ini yang alergi dengan asap rokok” atau “Dilarang buang sampah di sini karena kuntilanak penunggu taman ini cinta kebersihan” ato “Dilarang kencing di sini karena Gendruwo penunggunya bisa marah kalo kebauan”,ok…kalo kata Jean…Pokus Rei…Pokus…!!!*.

Sama seperti pendakian sebelum-sebelumnya…aku sering berjalan sendirian,Noel dan Rani sudah jauh di depan dan Doni masih jauh di belakang menunggui Nanda yang sakit. Yupz…sakit,dalam perjalanan ke pos I Nanda dah menunjukkan tanda-tanda ga fit seperti tubuh letih,lesu,lemah dan mata serta hidung dan mulutnya mengeluarkan darah bercampur nanah *ok…lebay mode on…* ga lah…Nanda cuma beberapa kali aja muntah…masuk angin *belakangan ketika dah nyampe Semarang Nanda menuduh Aku dan Noel yang menyiapkan sarapan sebelum pendakian sebagai penyebab muntah-muntahnya dia…keracunan makanan katanya. Tapi aku dan Noel sepakat bahwa perut Nanda yang biasa makan nasi putih+kecap+kerupuk doang itu ga bisa mentolerir makanan “barat” seperti sosis tumis kecap yang kami masak pagi itu yang kemudian hal ini dibantah lagi sama Nanda dengan kalimat “Aku ga biasa makan Sosis merk murahan kaya’ gitu…” yang langsung disambut jitakan dan lemparan batu dari orang-orang yang mendengarkan percakapan ga penting kami…*. Berjalan seorang diri buatku ada kesyikan dan kekurangan tersendiri. Asyiknya aku bisa menikmati perjalanan tanpa gangguan penampakan orang-orang ga penting yang hampir setiap hari aku lihat…tapi kekurangannya adalah…aku susah untuk mengexplore *emang loe Rei The Explorer?* pemandangan yang luar biasa untuk dijadikan background bernarsis-narsis ria…hehehe… alhasil aku Cuma berhasil mengabadikan secuil keindahan panorama alam *najong bgt dech bahasa gue…*yang aku lihat tanpa ada tampang kerenku…hehehe.

secuil Indonesia yang indah…

Tapi bukan Rei namanya kalo ga bisa memanfaatkan kamera yang ada di tangan…meski susah tetep harus ada lah fotoku…hehehe…

single fighter doesn’t matter…

di atas awan cuy….

Singkat kata…setelah berngesot-ngesot mendaki gunung lewati lembah *sumpah… jalannya ajib bgt. untuk orang Semarang:jalur-jalur untuk nyampe ke puncak gunung lebih kejam dari jalur di Perumahan Papandayan dan jauh lebih kejam dari jalur di Tinjomoyo*

jalur curam Cemoro Sewu

Tangga batu menuju Hargo Dalem

selama 8,5 jam (menurut keterangan di Basecamp Cemoro Sewu jarak tempuh ke Cemoro Sewu kalo cepat Cuma 4-5 jam dan untuk pendakian yang biasa 7-9 jam) sampailah kami di daerah bernama “Hargo Dalam” daerah yang dipercaya sebagai tempat pertapaan dan makam Prabu Brawijaya V (Eyang Lawu),ga heran kalo di tempat ini juga kami menemui banyak “orang-orang ritual” bahkan larut malam ketika kami menginap di pondok-pondok *jangan bayangin ni pondok kaya’ villa,tapi cuma berupa barak berdinding dan beratapkan seng tanpa ventilasi yang di dalamnya ga ada pencahayaan sama sekali* sempat ada bapak-bapak *yang kata Noel ga keliatan wajahnya* nawarin tumpengan *sisa sajen ato selametan* yang dengan halus kami tolak karena dah kenyang and dah mo tidur juga. Yup…kami tidur cepet malam itu…padahal di luar Subhanallah…langit terang banget..bayangin aja…Bulan purnama dengan kumpulan awan putih berkilau sebagai “alas”nya dan bintang bertaburan di langit serta lampu-lampu kota yang dari atas nampak seperti bintang juga,that’s what I call “Purnama dengan taburan bintang di langit dan di bumi”,Cuma sayang…dingin bgt…bgt…bgt…menusuk tulang bgt dinginnya.

Besoknya pagi-pagi jam 4 aku dah bangun siap-siap buat muncak *naek ke puncak*. Doni yang semalam sangat bersemangat dan gembar-gembor “siapa yang mo ikut aku ngejar sunrise besok jam setengah lima???” justru masih ngelungker di tenda,Nanda and Rani juga. Cuma Noel yang berhasil aku paksa bangun *serem juga kalo aku harus naek ke puncak gelap-gelap kaya’ gitu sendirian,ok…dah terang karena purnama…tapi tetep aja…sendirian…ga berani*. Biz nyiapin minuman panas di termos dan sebatang Silverqueen+sebungkus Cha-cha aku and Noel bersiap jalan. Pas kami mo keluar…Nanda dan Rani bangun…disusul Doni dan akhirnya…ber 5 kami muncak pagi itu. Sekitar 30 menit kemudian tepat ketika sun mulai rise *halah….* kelima Nebulis yang merupakan bocah-bocah ingusan *beneran kami semua mendadak jadi ingusan di tempat sedingin itu*menginjakkan kaki di Puncak Lawu. Untuk kesekian kalinya aku bergumam “Subhanallah…” memandangi pemandangan yang sedang dibentangkan di hadapanku, segera kujabat tangan teman-teman se tim satu per satu “we did it…!!!”.

5 bocah ingusan di Puncak Lawu

Bersama Bahagia…hahaha

mas-mas-mas yang dari Semarang juga…

Acara selanjutnya…Foto-Foto lah….seperti biasa…aku jadi fotografer dadakan untuk mengabadikan moment

DONI


NOEL

RANI

NANDA

Doni,Noel,Rani dan Nanda “bersua” dengan Matahari pagi.

Ehm…sebenarnya aku kurang puas dengan fotoku yang hasil jepretan Nanda,tapi ya sudahlah…*piss Nanda…*. Ga lupa DT ikutan aku jepret-jepret juga *DD…berapa puncak lagi yang harus aku daki bersama DT supaya kamu mau baikan ma aku lagi????*.

DT in action…

Kurang dari 1 jam kami di puncak,angin yang kencang dan dingin membuat kami memutuskan untuk segera kembali ke pondok di Hargo Dalem dan melanjutkan turun ke Basecamp.

pemandangan dari puncak Lawu

Setelah sarapan dan packing pukul 9 pagi kami pun memulai perjalanan turun. Berbeda dengan jalur naik…kami memilih jalur Cemoro Kandang untuk turun. Kalau jalur Cemoro Sewu terdiri dari tangga-tangga batu yang curam dan terjal …jalur Cemoro Kandang merupakan jalur tanah yang cukup landai sehingga kebanyakan pendaki memilih jalur Cemoro kandang ini untuk naik dan turun. Di tengah perjalanan turun *sekitar Pos II (Pos Taman Sari Atas)* kakiku keseleo ampun…sakit banget kaki kananku ga bisa ditekuk,well ok…aku akui itu sebenarnya karena “kualat” juga. Jadi ceritanya ada cewek-cewek “hore” yang lagi tamasya di Lawu,pas aku lagi duduk buat istirahat…tu cewek sambil lari-lari lewat di depanku bilang “kok masih di sini mba’?saya duluan ya…” anjritt…nadanya melecehkan bgt…si Doni Cuma senyum-senyum aja lagi… trus dalam hati aku bilang “sialan loe…iya loe bisa lari-lari bawa tas Barbie kaya’ gitu…ga liat apa gue bawa carrier segede lemari ini?gue sumpahin jatoh juga loe…”. And guess what…ga lama setelah itu aku mulai jalan lagi dan bukannya tu cewek yang jatuh…malah kakiku yang tiba-tiba sakit btt…anjritt lah… *oops…tapi pas di Lawu ga berani lah gue ngomong anjritt…yang ada gue bilang “Astaghfirullahaladzim…”biar ga tambah kualat…hehehe…*

Dan akhirnya…setelah 6 jam perjalanan turun…sampailah kami di Basecamp Cemoro Kandang,

Cemoro Kandang dari kejauhan

“peraturan” di Cemoro Kandang

Peta lokasi pendakian jalur Cemoro Kandang (Jawa Tengah)

eh…di sana aku ketemu sama cowok Jogja yang cakep yang pake topi tulisannya “REI”,trus aku baru nyadar..baju lapangannya hitam The North Face juga kaya’ punyaku…tapi dia pake’ lengan pendek. Trus aku sempet mencuri dengar dia dan temen-temennya ngobrolin aku…oh…senangnya…Oops…tapi ternyata eh ternyata mereka bukan mebicarakan aku…tapi baju lapangan The North Face yang aku pake huh…*jadi di baju The North Faceku itu di bagian punggungnya ada ventilasinya…jadi ga panas kalo pake tu baju…hadoh…gimana ngejelasinnya…pokoknya cari aja dech tu baju di toko-toko trus loe pantengin bagian punggungnya…nah loe bakalan tahu dech apa yang gue omongin*. Pas dah di semarang Noel baru cerita…jadi tu cowok sempet nanyain aku di Cemoro Kandang
Tu Cowok : Lho…mba’nya yang satu belum nyampe? *jadi emang aku lebih lambat turunnya dibandingin Nanda,Noel and Rani*
Noel : iya…teman kami itu (aku) lagi demam jadi aga’ lama turunnya *dengan logat medan*
Tu Cowok : oh…hebat juga ya…udah cewek…lagi sakit pula…masih kuat bawa carrier
Hohohoho…Noel I luv you…terselamatkanlah reputasiku….hehee…aku kan ga demam.. emang jalanku aja yang lambat trus kecapekan…hehehe… *Tapi sayangnya menurut cerita rani tu cowok dan temen-temennya “mengukir” nama mereka di dinding pos di Lawu…huh…jadi ga respek lagi ma tu cowok…orang yang ga bisa menghargai alam, apa pentingnya coret-coret seperti itu…*

Ok…dan akhirnya pulanglah kami naek angkot ke tawangmangu,dilanjutkan naek Bus ke Solo. Trus sampe di daerah banyumanik Semarang dah malam.dah ga ada bus trus bingung nyari angkot ke kampus sementara duit dah mepet dan akhirnya pake’ duit Rani…hehe…

Hohohoho…dan kalo di SD dulu…tulisan seperti ini akan aku akhiri dengan kalimat liburanku yang tidak terlupakan…

Hahaha….

Finally…atas keberhasilan mencapai puncak Lawu ini…saya mengucapkan terima kasih kepada :

Allah SWT,Tuhan yang memberi saya kehidupan dan kekuatan sejauh ini
Daddy,Ibu dan saudara-saudara saya atas dukungan dana,doa dan restunya
Rekan-rekan setim saya Rani,Nanda,Noel,Doni yang sudah mendampingi dan dengan sabar menyertai saya dalam perjalanan ini
Saudara-saudara di Nebula untuk pendampingan selama persiapan
Teman-teman blogger yang mensupport dan mendoakan saya
Jeannie Octaviani,seorang penggemar yang sangat bernapsu meminta foto saya *gatel-gatel dech loe Jean…hahaha…*untuk dijadikan header blognya…hahaha…
Tody dan sahabat-sahabat yang selalu mendukung saya
Five,Lee Ann Rimes,Steps,David Cook,dan semua musisi yang suaranya memberikan saya kekuatan untuk tidak berhenti
Meeangel_mia yang sangat sibuk saat ini *kapan kita perang lagi?kangen ma cubitan dan jitakanmu…*
Special thanx to Tanjung Diningrum,supportmu means a lot to me..

Last, untuk seorang adek yang aku panggil “Badung”, puncak ini hadiah untuk ulangtahun yang tidak bisa lagi kita rayakan bersama.

WE DID IT…DT…!!! (bukan penaklukkan,hanya sebuah pencapaian…)

Advertisements

One thought on “Bukan Penaklukan…hanya Pencapaian (Semarang – Lawu – Semarang)

  1. jadi ingat waktu saya hobi “naik” waktu SMA dulu :-phanya modal 1 backpack mencoba tinggal 3 hari dialam, rokok habis, teh pun dilinting jadi rokok, Parafin habis, kitapun urunan kolor masing2 buat dibakar, HAHAHAHA…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s