Saya dan Hujan

Saya kehujanan semalam.
Mengayun langkah dengan lesu Simpang 5 – Pleburan…tidak saya pedulikan air yang menggenangi jalan. Sepatu basah,black-white-pinky shoes kesayangan saya yang bahkan BIASANYA akan saya “liburkan” saat hari habis hujan dan jalanan basah ato akan saya masukkan tas saat hujan mengguyur. Benar2 tidak ada yang saya pedulikan semalam kecuali diri saya sendiri…dan “…Its a private emotion that fills you tonight…” yang mengalun dari music Player yang saya dengarkan.

Tidak…tidak ada yang salah dengan hari saya kemarin…semuanya sempurna. Daddy,Ibu dan si monster pulang tepat waktu saat saya akan meninggalkan rumah,duit mingguan juga sudah di tangan..cukup (bahkan sedikit berlebihan)lah untuk menyokong hidup seorang “saya”.

Mungkin memang mood saya saja yang bawaannya pengen mellow melulu…bahkan hanya sebuah kalimat dari Daddy bisa bikin perjalanan Kendal-Semarang saya dipenuhi dengan pikiran-pikiran sentimentil…

Atau mungkin sebuah kalimat dari Daddy itu yang bikin perasaan saya berkecamuk dan memporakporandakan emosi saya? *ok rei….kita cukup tahu loe lagi emosi dan pengen numpahin semuanya….tapi kalimat loe barusan lebay bgt rei….*

Atau memang hujan yang membawa semua emosi itu?. Karena semalam dalam perjalanan saya bertemu seorang teman yang juga sedang berdiri di tengah hujan sambil mendekap tubuhnya *dia yang sedang mendekap tubuhnya sendiri*….dari kejauhan saya sempat melihat kekasihnya yang meninggalkannya dalan hujan. Ah…entahlah apa yang terjadi pada kedua sejoli itu *Reiiiii…..loe bener2 harus berhenti berlebay2 saat ini…terlalu berlebihan bahasa loe Rei…!!!!!!*. “ujian apaan loe Rei besok” sapanya,”acara pidana lanjut” jawab saya. Yah…hanya sekedar bertukar sapaan…dan sama sekali tidak ada keinginan untuk datang menghampirinya…apalagi memberikan pelukan simpati *oh c’mon…..*. Mungkin memang bukan sebuah pelukan simpati yang sedang ia butuhkan…hanya siraman hujan untuk mendinginkan hati dan kepala….

Ya…hujan…bukankah hujan pernah membawa ketenangan dan kenangan manis?mungkin itu juga yang sedang saya butuhkan.

Sempat terfikir untuk melipat payung dan membiarkan tubuh saya basah *kalo kalimatnya diteruskan menjadi “tubuh saya basah oleh peluh” kok jadi kaya’ novel bokep yah…?*. Tapi ada tas yang sedang saya bawa…tas yang (isinya) ga boleh basah…ada badan yang masih harus datang ke kampus…ada kepala yang otak di dalamnya harus berfikir untuk ujian keesokan harinya.Badan dan Otak yang tidak boleh sakit…tidak untuk dua minggu kedepan. Ah…kalo saja tubuh dan otak ini bisa saya tanggalkan sejenak…. Toh hanya kepala dan hati ini saja yang butuh bersua dengan hujan.

mendadak saya ingin mendengarkan “HUJAN”nya Utopia (P.s : lirik lagu ini tidak ada hubungannya dengan ke “sentimentil”an emosi saya dan penyebabnya)

Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala aku mengingatmu
dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak’kan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri ooohhh..ooo

Selalu ada cerita
trsimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku ooohhh…

Advertisements

2 thoughts on “Saya dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s