Pembelajar Yang Buruk

Suatu hari seorang murid yang terkenal sangat pemarah datang bertanya pada seorang Pendeta, “guru,terangkan pada saya sesuatu tentang AMARAH” pinta si murid. Diluar dugaan alih-alih menjawab sang pendeta justru meminta muridnya untuk mengambil sebuah paku dan sebilah kayu yang halus. “sekarang tancapkan dalam-dalam paku itu ke papan yang kau pegang” perintah sang Pendeta. “Sudah guru” lapor si murid ketika paku itu telah tertancap. “Paku itu adalah ibarat semua perkataan yang kamu ucapkan dan perbuatan yang kamu lakukan saat kamu marah. Dan papan itu adalah orang-orang yang merasakan perbuatan dan mendengarkan ucapan yang kamu keluarkan saat kamu marah”, si murid diam sesat “saya hanya menyakiti mereka dengan ucapan dan perbuatan yang saya lakukan saat saya marah” gumam si murid pelan mulai mengerti perkataan sang Pendeta. “Nah sekarang,cabutlah paku itu” sesaat sang pendeta diam memberi kesempatan muridnya untuk mencabut paku di papan tersebut,”dan apa yang kamu liat sekarang?” lanjut sang Pendeta. “Lubang guru,sebuah lubang yang dalam” jawab si murid. “Lubang itu adalah apa yang kamu dan kemarahanmu tinggal. Bahkan ketika kamu sudah meminta maaf berulang kali…lubang itu tidak akan tertutup begitu saja. Saat kamu marah,diamlah…jangan melakukan apa pun atu mengatakan apa pun,karena apa yang kamu katakan atau lakukan saat marah hanya akan meninggalkan luka untuk orang lain dan juga dirimu sendiri”,”Saya mengerti guru” si murid mengangguk dan mengucapkan doa dalam hati “Tuhan…jika api kemarahan datang membakarku,siramilah aku dengan dingin kasihmu agar aku mejadi sabar. Jika kasih dan sabar tak juga bisa mendinginkan hatiku,cabutlah nyawaku untuk sesaat agar aku menjadi diam. Karena sesungguhnya saat marah semua yang aku lakukan dan ucapkan hanya akan semakin menyakitiku…menyakiti orang lain. Dan karenanya…tidak ada lain yang aku butuhkan kecuali diam

Berulang kali saya mendengarkan kisah itu dalam berbagai versi. Paku yang meninggalkan lubang di kayu seperti juga amarah yang meninggalkan luka. Berulang kali saya menyakiti orang lain karena amarah saya,berulang kali menyakiti diri saya sendiri karena ternyata meminta maaf itu tidak mudah *ingat serial Meteor Garden dengan tokoh Tao Ming Tse yang terkenal dengan kalimat “kalo dengan meminta maaf saja semua urusan bisa selesai…untuk apa ada Polisi…?*. Tapi saya pembelajar yang buruk… saya tahu saya seharusnya diam saat marah…”jika kau marah dalam keadaan berdiri maka duduklah,jika kau marah dalam keadaan duduk maka berbaringlah,jika kau marah dalam keadaan berbaring maka bangkit dan berwudhu lah. Karena sesungguhnya marah adalah dari setan dan setan dari api,maka hanya air yang bisa mematikannya” saya ingat saya pernah baca kalimat itu di Al-Quran,tapi saya pembelajar yang buruk…alih-alih diam atau bahkan berwudhu…saya malah duduk di depan komputer dan mengumbar kekesalan saya di blog dan menyakiti orang lain. Tuhan…saya tahu saya pembelajar yang buruk…

Dan Lagu T.A.T.U pun berkumandang di kepala saya…

What I thought wasn’t mine
In the light
Wasn’t one of a kind,
A precious pearl
When I wanted to cry
I couldn’t cause I
Wasn’t allowed

Gomenasai for everything
Gomenasai, I know I let you down
Gomenasai till the end
I never needed a friend
Like I do now

What I thought wasn’t all
So innocent
Was a delicate doll
Of porcelain

When I wanted to call you
And ask you for help
I stopped myself

What I thought was a dream
A mirage
Was as real as it seemed
A privilege
When I wanted to tell you
I made a mistake
I walked away

Gomenasai, I let you down
Gomenasai, Gomenasai,
Gomenasai till the end
I never needed a friend
Like I do now


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s