LA Light Indie Movie

di postingan sebelumnya (beberapa menit lalu…hehhe….)saya cerita saya nonton pemutaran pilem Indie ma teman LIA saya… nah…saya jadi pengen sekalian bercerita tentang pilem2nya dech…

Ada 8 film yang diputar di acara tersebut (sebenarnya plus 1 “film” yaitu adegan nyata si artis WG yang sedang bermesraan dengan kekasihnya yang kebetulan duduk persis di depan saya dan teman saya *sebenarnya cuma ngobrol dan becanda biasa aja,tapi karena setiap kali berbicara si WG harus mendekatkan mulutnya ke telinga sang pacar dan sebaliknya…teman saya menganggap kegiatan WG dan sang pacar sebagai “bermesraan*). 4 film pendek buatan “orang biasa” dan 4 film pendek yang disutradarai oleh artis. 4 film pendek yang dibuat oleh “orang-orang biasa” tersebut adalah :

“Bulan Luka dan Senja” (Seorang cewek,Bulan membunuh kucing kesayangannya karena teringat pesan neneknya. Di kampungnya ada kepercayaan kalau menyakiti kucing akan mendapatkan karma. Bulan sangat membenci ayahnya yang telah memeprkosanya. Dengan harapan agar pesan neneknya benar-benar terjadi,bulan menyakiti kucingnya. Ternyata ayahnya benar-benar meninggal dunia dengan cara yang sama dengan si kucing…kecemplung kali a.k.a sungai.) Bagian paling saya suka adalah adegan di akhir film pas nenek mendatangi bulan untuk mengabarkan kematian ayahnya. Sang nenek dengan menangis memeluk bulan yang diam tertegun,and pas kamera zoom in…tampak seulas senyum “misterius” samar terbentuk di wajah Bulan,bersamaan dengan gambar yang dikasih efek fade out to white… Wuih…senyum yang dahsyat…seru…. *rugi bgt mia ga nonton ni film,next time ketemu Mia saya akan menceritakan “cara pembunuhan yang ampuh” yang baru saya temukan ini.*.

“Anak Porong

“Merah Putih di Rumah Parjo

Dan film “orang-orang biasa” yang saya sukai bgt selain Bulan Luka dan Senja berjudul “100 kata” (Sebuah cerita komedi satir di sebuah negeri yang penuh omong kosong. Pemerintah membuat peraturan pembatasan jumlah kata menjadi 100 kata per orang dalam sehari. Seorang lelaki *cakeppp…..*tak bicara seharian,jatah tersebut akan digunakan untuk menelepon kekasihnya. Dia membacakan puisi berjumlah 100 kata. Saat jatah telah habis mereka hanya diam dan saling mendengar desahan nafas melalui telepon.) Adegan di film ini sebenarnya bisa dibikin lebih minimalis karena dari yang saya tonton kemaren ada beberapa adegan yang sebenarnya ga penting untuk membangun cerita. Tapi dari segi ide cerita…film ini patut diacungi jempol.

Untuk film pendek buatan artis juga ada 4 judul, “Bidan Lelaki” (Wulan Guritno) yang dimainkan oleh gading Martin dan Shaloom *hohohoho…memakai anak sendiri sebagai pemain…gampang dicari dan ga perlu bayar…hehehe…* dan “Cahaya Gelap” (Indra Birowo). Jujur saya ga begitu ngerasa “wow…” nonton 2 film ini…*padahal di Cahaya Gelap adalah Lukman Sardi lho….* gambar-gambarnya terlalu sulit dipahami…mungkin karena melibatkan unsur “imajinasi” tokoh kali ya…. Apalagi Cahaya Gelap…Imajinasinya berpindah-pindah. Kalo menurut saya untuk sebuah film pendek yang berdurasi kurang dari 15 menit…pengambilan adegan di tempat yang berpindah-pindah itu aga’ ga nyaman aja diliatnya…

2 film lainnya justru saya suka bgt…adalah “Real Love” yang disutradarai Olga Lidya *saya suka sekali dia…eitss….tapi sama sekali bukan karena dia cover majalah GAIA edisi kali ini lho yah….* dan dimainkan oleh Putri Felisha,Ariyo wahab, dan Donny Alamsyah (yang juga maen di Cahaya Gelap). Ni film bener2 Cuma ngambil gambar di 2 tempat, rooftop dan halaman depan Gedung recapital (itu juga yang di halaman Cuma take beberapa detik doang). Dari segi cerita sech sebenarnya biasa…(2 orang cowok yang berseteru memperebutkan seorang cewek …*sampe akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri bersama loncat dari rooftop*,2 orang cowok yang ternyata Cuma ada dalam imajinasi si cewek doank) tapi ya karena penyutradaraan yang baik cerita yang “biasa” itu bisa diwujudkan dalam film pendek yang “luar biasa” *sumpah ya…adegan perseteruan yang singkat dan padat,bener2 memancing emosi dari menit pertama*. Hohohoh…Olga Lidya memang punya “thing” untuk jadi sutradara…

Film terakhir yang sekaligus film yang jago bgt….dari ide cerita dan penggambarannya. “Mengejar Untung”,disutradarai olah Agus Ringgo *langsung kebayang dech apa genre film ini…*. Di brosur yang dibagiin panitia sech dituliskan sinopsis awal film itu “Syarkawi,seorang bapak yang kocak. Suatu hari ia memberikan uang Rp.50 kepada anaknya yang berumur 3 tahun dan oleh anakanya uang itu ditelan. Syarkawi memberikan anaknya obat pencahar dengan harapan uang logam itu keluar,namun yang keluar adalah uang kertas 50.000. Syarkawi dengan mimpinya berharap mendapat keuntungan besar. Dia pun menelan uang Rp.50.000 tersebut dan meminum obat pencahar. Dan keluar juga selembar kertas dalam kotorannya,namun kertas itu bukan uang melainkan kertas biasa yang bertuliskan ANDA BELUM BERUNTUNG” Hwahahahahaa…..baru ngebaca sinopsisnya aja saya ma temen-temenku dah ngakak-ngakak… Tapi pas filmnya diputar…ternyata ceritanya sedikit berbeda dengan synopsis awalnya. Film terakhir ini pengen saya ceritakan secara lengkap… aga’ panjang (kalo cuma pake’ story board mah cuma saya yang ngerti maksudnya…)jadi saya ceritain di postingan selanjutnya aja yah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s