This Is How We Do It

Setiap keluarga punya caranya masing-masing untuk menjaga anggota keluarganya. Itu yang selalu saya percaya. Sebuah keluarga mungkin akan memastikan semua anggota keluarganya berkumpul di satu kota, saya bahkan mengenal sebuah keluarga yang menginginkan semua anggota keluarganya hidup di satu rumah besar. “makan ga makan, asal kumpul” demikian mungkin nilai yang diyakini kepala keluarga tersebut.
Ada keluarga yang memastikan semua anggota keluarga dimana pun berada tau apa yang terjadi dengan anggota keluarga lainnya. “eh, kemarin si A masuk RS karena diare“, “eh, tau ga si B cerai lho dari si C karena bertahun-tahun nikah ga punya anak“, “si D kemarin nangis-nangis dan ga mau makan karena diputusin pacarnya“, “eh, si E makin gendut lho sejak melahirkan“, “pohon mangga di depan rumah sudah berbunga lho…sebentar lagi berbuah“, “kemarin Mama masak rendang, enak deh…“, semua hal sekecil apapun pasti akan dikabarkan kepada anggota keluarga lainnya.
Keluarga saya?
Jangankan hal kecil dan detil, bahkan ketika Ibu saya sakit atau kakak saya mengalami masalah yang (bisa dibilang) berat pun, orang di rumah tidak akan menceritakan itu pada saya. Simple, mereka tidak mau saya menjadi terbebani, ikut memikirkan dan mengkhawatirkan masalah di rumah. Ibu saya bahkan hampir tidak pernah mau berbicara di telepon dengan saya, kalaupun mau…itu pasti adalah untuk menyampaikan hal yang sangat penting dan dengan durasi beberapa menit saja. Bukan, bukannya saya dan Ibu sedang bertengkar atau apa… Ibu saya (dan kami semua) tau, Ibu saya akan menangis mendengar suara saya yang berada sangat jauh dari rumah (FYI, Ibu saya menangis karena kangen, bukan karena suara saya menyakitkan telinganya) dan mendengar Ibu saya menangis saya pasti akan ikut sedih dan (semakin) kangen rumah dan ingin pulang dan mengakibatkan saya tidak bisa hidup dengan tenang di perantauan. 
Bahkan si Monster (klik di sini untuk tau siapa “Monster”) sempat dilarang untuk bilang ke saya kalau dia kangen saya, dan akhirnya hanya bisa menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal di kamar, atau terisak-isak dalam tidurnya karena mimpi ketemu saya. Belakangan saya dengar cerita ini ketika saya pulang bulan September kemarin
Monster : Dedek kangen mba’ Rina
Ibu : Jangan bilang-bilang mba’ Rina
Monster : kenapa?
Ibu : Nanti mba’ Rina pengen pulang, nanti sedih di sana, kasian…
Monster : *diam*
Saya? Oh please…tak perlu kau tanya lagi siapa pemilik hati ini… *lhaaaaa…..kenapa jadi nyanyi Armada gini sik?* ga perlu ditanya seberapa kangennya saya dan seberapa besarnya keinginan saya untuk pulang. Tapi, seperti juga anggota keluarga yang lain di keluarga saya, saya memilih untuk tidak mengatakan itu semua sama mereka. Dengan alasan sama… Saya tidak mau mereka menjadi sedih karena memikirkan saya… Toh saya yakin tanpa perlu saya katakan, mereka tau saya kangen dan mereka tau seberapa sayangnya saya sama mereka.
Saya : Halo, assalamualaikum
Daddy : Waalaikumsalam. Apa kabar?
Saya : Baik, Pa…
Daddy : kok suaranya beda?
Saya : Aga’ flu, Pa. Di rumah apa kabar? sehat semua?
Daddy : Alhamdulillah sehat semua. Yaudah kamu istirahat, cepat sembuh ya…
Saya : Iya. Papa juga jaga kesehatan ya… jangan capek-capek
Daddy : Iya. Assalamualaikum
Saya : Waalaikumsalam.
*”tuut tuut tuutsambungan telepon terputus*
Saya tau Papa saya tau kalo saya tidak sedang flu dan sedang sibuk mengusap airmata…
Tuhan, ditengah semua keterbatasan, hanya kepada Engkau hamba percayakan penjagaan atas mereka semua, orang-orang yang hamba sayang dan hamba cinta…
Advertisements

2 thoughts on “This Is How We Do It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s