Petualangan Hore-Hore

Hari Jumat kemaren diajakin Kak Rina, salah seorang teman kantor untuk berkunjung ke kebun durian milik keluarganya. Lagi musim durian sih…tapi karena yang namanya durian itu harus nunggu jatuh jadilah berangkat kesana aga’ gambling juga. Nekat aja, kalo ternyata ga ada durian yang jatuh…kita beli aja di pinggir jalan.
Berangkat berenam sekitar jam 2 siang, 3 motor, 5 perempuan dan 1 bocah laki-laki. Namanya juga kebun, di Kalimantan pula, jadi harus jalan kaki dulu menembus “hutan” untuk sampai ke kebun yang dimaksud. Setelah tanya-tanya dengan beberapa orang yang kami temui, sampailah ke kebun yang dituju. Setiap musim durian tiba, pada umumnya pemilik kebun akan mendirikan pondok kecil untuk tempat beristirahat sembari menunggu durian jatuh, tapi di kebun keluarga kak Rina hari itu ternyata belum dibangun pondoknya. Alhasil kami “numpang” di pondok kebun sebelah yang kebetulan sedang kosong. Tidak lama kemudian mulai berasa angin berhembus yang disusul dengan suara “bukkk!!!“, yups…ada durian jatuh yang berasal dari pohon di kebun keluarga kak Rina. Tidak menunggu lama langsung si buah durian dibelah… *di sini harusnya ada backsound Jupe “dibelah, Bang…dibelaaaahhhh….” diikuti dengan suara desahan*
 durian mentega, bukan nama sebenarnya…that’s just how I call it

dinikmati beramai-ramai
Apa yah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan rasa durian yang baru jatuh… Uhmmmm…enak yang pasti. Buttery, lembut, manis, legit, dan hangat. Iya, hangat. Mungkin karena alkohol yang masih banyak terkandung… Atau mungkin karena kena panas matahari selama di pohon…hahahahaha….
Hari itu selama kami di sana cuma 2 durian yang jatuh. Tapi….sebelum kami tiba ternyata sudah ada yang mengumpulkan durian-durian yang jatuh dari pohon di kebun keluarga kak Rina, jadi kami bisa menikmati sampai puas  \(^_^)/
Beberapa jam kemudian karena cuaca mendung dan menghindari risiko kehujanan, kami pun memutuskan pulang. Sebenarnya selain Durian ada juga pohon Manggis yang sedang berbuah, tapi saya ga liat ada yang matang sih… Jadi hari itu cuma menikmati durian saja.
Pada hari minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka ternyata saya diajak lagi oleh orang yang sama ke kebun durian yang sama. Bedanya kali ini bawa 1 manusia kelaparan yang penasaran karena hari Jumat sebelumnya dia ga ikut ke kebun durian, sebut saja namanya kak Ririn. Sekitar jam 11.30 waktu kami bertiga (Rina, Ririn, Merina yang terbentuk dalam girlband TRIO RIN) tiba di kebun. Kali ini ternyata di kebun keluarga kak Rina sudah dibangun pondok kecil, jadi ga perlu numpang di pondok kebun sebelah lagi. Di sana kami bergabung dengan beberapa orang keluarga kak Rina, the more the merrier kan katanya…
Dan benar saja, suasana jadi lebih seru daripada hari Jumat. Dan karena hari masih siang, jadi ada lebih banyak waktu untuk “main-main” di kebun. Hal pertama yang kami lakukan saat tiba di kebun adalah……menikmati manggis, sambil menunggu durian jatuh. Ini manggis bukan sembarang manggis, ini manggis yang baru saja dipetik dari pohon, langsung ditangkap tangan dan masuk ke mulut…nom nom nom… \(^_^)/
 
 manggis baru dipetik, masih belum benar-benar masak

kalau batang buahnya sudah bisa tercabut begini, berarti sudah tua

belum terlalu berair, tapi tetap segar, manis dengan sedikit rasa asam

ini man(gg)is hehehehehehe……

Sambil menikmati manggis saya dan kak Ririn asyik bermain, memainkan apa saja yang kami temukan yang sekiranya bisa buat mainan… Sempat merasa seperti 2 anak kota yang tiba-tiba masuk kebun dan kemudian bertingkah aneh, but “hey, I don’t care…this is fun anyway
Saya : *memegang sebilah bambu* Ayo kita main perang-perangan
Kak Ririn : Ayok! kamu jadi apa?
Saya : Ceritanya kita main perang-perangan di Star Wars yah…
Kak Ririn : Oke, aku jadi Raden Kian Santang aja
Saya : *bengong*
Kak Ririn : *menjelaskan siapa Raden Kian Santang*
Saya : Oke *mengayun-ayunkan bambu yang pura-puranya adalah lightsaber (pedang laser, senjata di Star Wars)*
Kak Ririn : *komat-kamit sambil posisi kuda-kuda*
Saya : Kak Ririn ngapain? mana senjatanya?
Kak Ririn : Raden Kian Santang ga pake’ senjata, pake’nya doa dan tenaga dalam
Saya : *bengong* ga jadi maen perang-perangan deh…
Untungnya tidak lama kemudian ada durian jatuh…langsung deh diserbu…
ini manis…..duriannya…

Oh…saya belajar hal baru lagi *selain pelajaran tentang Raden Kian Santang tentunya* kemarin. Saya tidak tau apa istilahnya kalau di Jawa, tapi di Kalimantan, well…di Kalimantan Barat ada istilah “kucing tidur” dalam dunia per-durian-an. Jadi “kucing tidur” atau “kucing tidok” (dengan “o” yang dilafalkan mirip vokal “u” dan “k” di akhir frasa diucapkan dengan samar) dalam logat Kalimantan (atau Melayu, sepertinya) adalah istilah untuk menyebut durian yang hanya ada satu biji dalam 1 bilik
“kucing tidur” pic taken from Google

Selesai makan durian…saatnya kegiatan selanjutnya, memetik Jengkol. Hah??? Jengkol??? Iyah Jengkol. Jadi ceritanya di kebun tetangga ada yang nebang pohon Jengkol, dan menawarkan buah Jengkolnya boleh diambil sesukanya. Karena pohon jengkolnya sudah rubuh, jadi gampang sih metiknya, tapi tetap harus manjat-manjat dikit…
Ini buah Jengkol

sebenarnya saya pengen manjat juga, tapi mengingat berat badan dan risiko bahaya yang ditimbulkan, biarkan kak Ririn yang melakukan…

Jujur, di Jawa keluarga saya tidak akrab dengan Petai dan Jengkol, mencicipi Jengkol untuk pertama kali pun baru bisa saya alami di Kalimantan, jadi yah masih takjub juga melihat bentuk Jengkol yang masih asli di pohon…hehehehehehe….
Selesai “panen” Jengkol, balik ke kebun keluarga kak Rina dan menyaksikan Ibu dan kakak kak Rina mulai memproses buah Jengkol hasil pencarian kami. Cuma dikupas sih, nantinya di rumah akan diolah menjadi rendang Jengkol katanya…
sebagian Jengkol hasil buruan kami sedang dikupas….

kulit “limbah” hasil kupasan Jengkol

Dari kak Ririn saya dapat info baru. Bukan, bukan info bahwa Raden Kian Santang juga sangat doyan Jengkol, bukan…. Bahwa ternyata kulit jengkol bisa dibuat mainan cubit-cubitan..hahahahahaha…. 
bukan sulap, bukan sihir, kulit Jengkol ini bisa menempel tanpa perekat, hanya perlu teknik “cubitan kulit Jengkol”

Puas mainan cubit-cubitan kulit jengkol dan beberapa permainan menggunakan kulit Jengkol, kami pergi ke sungai yang letaknya tidak jauh dari kebun durian.
sungainya sepi, sejuk, adem ditambah angin sepoi-sepoi…damai rasanya

Raden Kian Santang eh…Kak Ririn… bahagia menemukan sampan di sungai
galau pengen berenang di sungai tapi ga bawa baju ganti…

“bagus nih pemandangannya buat foto pre-wedding” kata kak Ririn

 tampang fotografer yang pasrah dipaksa pose oleh modelnya

Sebenarnya suasananya enak banget buat duduk ngobrol dan curhat, tapi untungnya sudah dapat SMS ajakan pulang dari kak Rina yang menunggu di kebun, jadi kami terselamatkan dari kegalauan… *tsaaaahhhh….*. Di perjalanan pulang dari kebun menuju jalan raya sempat nemu pohon Lada dan pohon Langsat/Duku
biasanya liat pohon ini cuma di iklan-iklan produk lada kemasan di TV

pohon Langsat/Duku

Yah demikianlah, catatan si Boy petualangan saya weekend kemarin. Seru. Sebagai bocah yang masa kecilnya dihabiskan di kebun-kebun dan “hutan” di Sulawesi, senang rasanya bisa kembali bermain-main di tempat seperti ini, melihat dan belajar mengenal hal-hal baru, bring out the little kid inside of me. \(^_^)/
Panjang yah postingan kali ini… Yagitudeh… Udahan ah, saya mau makan rendang jengkol buatan Ibu kak Rina dulu…. ^_^
jangan jadi orang dewasa yang membosankan, tetaplah jadi seperti anak kecil yang selalu ingin bertualang dan penasaran dengan hal-hal baru” << I heard that somewhere...
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s