To Make You Immortal

kehilangan, dalam bentuk apapun pasti menyakitkan.
Sejauh yang bisa saya ingat saya tidak pernah punya hewan peliharaan. Diawali dengan “keyakinan” bahwa bulu hewan tidak baik buat saya yang sering sakit-sakitan saat kecil dan kemudian saya jadi tidak suka dan tidak tertarik pada hewan peliharaan, apalagi kucing. Saya sama sekali tidak bisa mengerti apa yang menarik dari kucing, hewan berbulu pemalas yang sukanya tidur dan bermanja-manja. Bahkan ketika Mia yang sangat tergila-gila pada kucing berkali-kali menangis saat kucingnya mati karena berbagai hal, saya tetap heran “kok segitunya sih?“. Saya mengerti kesedihannya, bahkan saya menambah satu point di daftar alasan untuk tidak punya hewan peliharaan “kalo sudah sayang trus hewannya kenapa-kenapa pasti sedih banget” tapi saya tetap tidak tahu bagaimana perasaannya. Sampai malam tadi. 
Berawal dari suatu pagi di hari Kamis saat kak Ririn menemukan seekor bayi kucing terlantar di laci meja kerjanya, dan karena iba kami memutuskan untuk merawat bayi kucing yang baru lahir tersebut. Iya, kami. Kamis malam bayi kucing jantan yang diberi nama “Qitty Silvester” a.k.a Q-Vest itu dirawat di kos kak Ririn. Keeseokan harinya kak Ririn harus pulang ke Pontianak, dan saya yang bahkan biasanya teriak-teriak geli saat didekati kucing ini akhirnya memberanikan diri merawat bayi kucing tersebut di kos saya. 
pandangan pertama *hallaaahhh….*
Kalau melakukan sesuatu, lakukan dengan sungguh-sungguh, give it your 100 percent, supaya ketika sesuatu itu pergi kamu tidak menyesal karena sudah berusaha dengan maksimal dan tidak ada ‘what if?’ yang tertinggal di pikiran” demikianlah kira-kira pesan dari orang bijak yang pernah saya dapat yang selalu saya coba terapkan, pun ketika merawat Q-Vest. Dari hasil tanya-tanya sana-sini, google dan baca sana-sini saya belajar hal baru tentang perawatan (bayi) kucing. “Penghangat” kandang, susu khusus, dan sebagainya saya coba usahakan untuk Q-Vest, saya hanya tidak mau kalau ternyata Q-Vest tidak bisa survive saya akan terus-terusan menyimpan ‘what ifs’ di kepala saya karena saya tidak berusaha dengan maksimal.
si “bayi bau” yang rewel kalo jauh dari tangan
Sayangnya, hampir semua sumber yang saya dapat berkata bahwa bayi kucing tanpa induk perawatannya susah, tricky, kondisinya rentan dan kecil kemungkinan bisa survive, dengan itu semua saya kira saya sudah akan siap kalau ternyata Q-Vest ga bisa survive. But I was wrong.
Malam tadi, malam ke-6 Q-Vest, dengan semua perlakuan khusus dan maksimal yang kami usahakan buat dia ternyata kondisinya tetap memburuk dan akhirnya we had to let him go.
Dan akhirnya saya tahu bagaimana rasanya kehilangan seekor hewan peliharaan. Dan akhirnya saya tidak akan bertanya-tanya lagi bagaimana bisa seseorang menangis hanya karena hewan peliharaan.
Atau mungkin saya menangis karena alasan lain…? Entahlah. PMS is a bitch, so they say
 Rest in peace dearest Q-Vest, you’ll be remembered

Ps: Terimakasih untuk semua teman-teman pecinta kucing yang sudah membagi info dan ikut mendoakan Q-Vest, you’re all awesome.
Advertisements

One thought on “To Make You Immortal

  1. smga kitty tenang dsna…yg penting udah usaha maksimal rei…gw udah berkali2 kehilangan kucing gw…yang mati, yang pergi ngilang..tp yang paling menyedihkan memang saat kucing pergi karena mati…hiks2….*edisi curcol*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s