Tiga Tahun

Tiga Tahun.

Buat kamu yang pernah punya hubungan serius dengan seseorang selama tujuh tahun, tiga tahun mungkin bukan apa-apa.

Buat saya yang bahkan pernah punya hubungan yang hanya bertahan selama lima hari dengan seseorang, tiga tahun itu banyak. Tiga tahun itu lama. Tiga tahun itu bukan “bukan apa-apa”.

Kita yang sama-sama suka bepergian sempat yakin traveling bersama pasangan adalah ide paling briliant.

Salah.

Ketika hubungan tiga tahun kita berakhir, ternyata kenangannya masih ada dan kita saya baru sadar kalau kenangan tiga tahun akan membutuhkan waktu yang bahkan lebih panjang dari tiga tahun untuk dilupakan atau paling tidak sekedar untuk tidak sedih saat mengingatnya.

Selama tiga tahun kita mengunjungi berbagai tempat, melakukan banyak hal, membuat banyak cerita. Bersama. Berdua.

Bayangkan rasanya harus patah hati di semua tempat yang dikunjungi. Bandara, pantai, gunung, taman, kuil, pusat kota, mall, bioskop, bahkan lampu lalu lintas dan trotoar mengingatkan saya akan “kita”, membuat mata saya basah dan hati saya terluka karena “kita” sudah tidak lagi ada, membuat saya terpaksa harus merasa patah hati. Lagi. Berkali-kali. (hampir) Setiap hari.

Dan mendadak “traveling bersama pasangan” menjadi ide terbodoh yang pernah kita saya buat.

…jujur aku tak sanggup, aku tak bisa, aku tak mampu, dan aku tertatih. SEMUA yang pernah kita lewati tak mungkin dapat kudustai…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s