Dear Senior Merah Keren

Dear mba’ Anti,
Apa kabar mba’? Sehat? Bolehkan tulisan ini aku mulai dengan permintaan maaf. Maafkan adikmu yang durhaka karena tidak pernah memberi kabar padamu ini. Aku harap aku punya satu atau dua alasan supaya mba’ maklum, tapi sejujurnya, tidak ada alasan apa pun. Maaf karena “one day or two” yang aku janjikan untuk membalas suratmu  ternyata sudah berubah entah menjadi angka berapa saat tulisan ini berhasil aku selesaikan dan sampai padamu. Maaf karena mungkin tulisan ini akan menjadi tulisan terpanjang yang pernah ditulis manusia di kolom “komentar” postingan sebuah blog sepanjang sejarah per-blog-an (terlalu panjang sampai tidak muat di kolom “komentar” dan akhirnya harus dipost sebagai postingan sendiri)

Mba’ Anti,
Ternyata seperti ini ya rasanya menerima “surat cinta” dari seorang “pujaan”?. Aku sedang berada di rumah tengah bersiap untuk sowan ke rumah Eyang saat surat mba’ Anti “tiba”. Mba’ Anti masih sering touring? Kapan terakhir kali mba’ Anti melintasi jalur Pantura? ingat kan seberapa jauh Kendal – Batang? And you know what, Mba’? I couldn’t help but smiling from ear to ear sepanjang perjalanan Kendal – Batang itu? Ternyata benar kata orang, sepucuk “surat cinta” punya kemampuan membuat seseorang tampak seperti orang gila. Terimakasih sudah memberi aku kesempatan merasakannya hahahahaha…

Sayangnya menulis surat cinta tidak semudah dan semenyenangkan membaca surat cinta, hahahaha… Bahkan menulis blog pun rasanya tidak semudah dulu lagi akhir-akhir ini. Sepertinya aku sedang kehilangan kemampuan menulisku, entahlah. Tulisanku akhir-akhir ini hanya sebatas postingan di Path, seringnya berupa cerita patah hati yang terinspirasi dari lirik lagu (yang tidak jarang diprotes teman-temanku yang membacanya karena terlalu menyedihkan katanya). Mungkin sesekali nanti akan aku post cerita-cerita itu di blog, atau lewat e-mail supaya mba’ Anti bisa membacanya untuk sekedar memberi masukan (para pembaca ceritaku saat ini tidak pernah memberikan kritik atau masukan teknis, aku merasa kemampuan menulisku tidak meningkat). Blog dengan alter-akun ku pun sudah lama sekali tidak aku isi, bahkan tidak pernah lagi aku kunjungi. Aku terlanjur sakit hati saat mantan kekasihku memintaku menutup blog itu dengan alasan dia ingin memulai kehidupan yang baru dan khawtir orang-orang di kehidupan barunya nanti menemukan cerita tentang kami di masa lalunya. Terakhir yang bisa aku ingat aku menghabiskan hampir setengah jam di toilet kantor menangisi perihnya menjadi bagian yang ingin dibuang dan dilupakan dalam hidup seseorang sebelum akhirnya aku memutuskan mengambil jalan tengah, mengubah settingan blog, memilih opsi “sembunyikan blog” agar tidak dapat ditemukan oleh mesin pencari Google, kemudian mengganti nama dan alamat blog dengan nama dan alamat yang tidak bisa aku ingat lagi setelahnya hahahaha…

Mantan kekasih? Iya, mantan. Atau aku lebih suka menyebutnya sebagai “alumnus hati”. Hubungan aku dan W (apakah mba’ Anti akan keberatan kalau aku minta kita menyebut nama si alumnus itu dengan inisialnya saja?) akhirnya harus disudahi. Bukan sebuah perpisahan penuh kebencian. Keputusan untuk mengakhiri hubungan cinta kami adalah keputusan yang kami sudah sepakati berdua. Klise mungkin, tapi kami akhirnya menyerah pada Tuhan. Kepada semua teman-teman yang menanyakan alasan perpisahan kami, aku akan selalu berkata “Saya terlalu sayang sama dia untuk membiarkan dia terus-terusan menentang Tuhannya bersama saya. Sayang saya sama dia sudah sampai pada titik di mana saya ingin dia bahagia dunia dan akhirat, meski itu artinya saya harus belajar rela melihat dia bahagia bersama seseorang yang bukan saya, meski itu artinya saya harus belajar memulai bahagia bersama orang yang bukan dia. Begitu juga dia.”. Pada akhirnya kami harus saling mengikhlaskan. Kami sedang belajar untuk saling mengikhlaskan.

Iya mba’, adikmu yang sempat mba’ anggap berani ini ternyata tidak seberani itu ketika hidup mengharuskan dia berhadapan dengan agama dan Tuhannya. Seingin-inginnya dia menjadi berani seperti sifat yang dilambangkan warna merah yang menjadi warna kesukaannya sejak kecil itu, ternyata dia masih takut dengan dosa, masih takut dengan ancaman siksa neraka, bukan hanya untuknya, tapi untuk orang yang dicintainya. Demi orang-orang yang dicintainya, demi untuk bisa mendoakan orangtua yang dikasihinya karena dari kitab suci yang dia imani dia mengetahui hanya doa anak-anak soleh dan solehah yang bisa menolong kedua orangtuanya di akhirat.

Ah, kenapa jadi depresif begini yah tulisan ini. Maaf (lagi), sungguh aku tidak bermaksud seperti itu.

Dear mba’ Anti,
Aku mungkin belum pernah cerita, aku membenci Jakarta. Bahkan ketika pertama kali menerima pengumuman kelulusanku mengikuti seleksi CPNS instansi yang mempekerjakanku sekarang ini, hal pertama yang aku minta pada Tuhan adalah semoga aku tidak ditempatkan di Jakarta. Ketidaksukaanku pada Jakarta bertambah saat membaca suratmu dan tahu apa yang Jakarta ambil darimu (walaupun aku yakin dia tidak akan bisa mengambil ke-keren-anmu). Tapi, banyak orang-orang yang aku sayangi juga tinggal di Jakarta, jadi aku bisa apa selain berdoa semoga Tuhan senantiasa menjaga kalian di sana.

Dear mba’ Anti,
Tanpa bermaksud membuatmu iri, Sambas buatku justru sebaliknya. Aku merasa hidupku membaik di sini. Kesehatanku terutama. Aku bisa dibilang amat jarang sakit di sini. Kondisi yang cukup mengejutkan untuk seorang aku yang sejak kecil sering sakit-sakitan ini. Saat masih di Jawa dulu hampir di setiap bulan ada minimal satu kali saat aku akan mengalami sakit  dan harus mengkonsumsi obat-obatan. Setahun lebih aku di sini dan seingatku baru sekali aku merasakan flu berat sampai kepayahan melakukan aktivitas. Saat itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Lebaran pertamaku berada jauh dari rumah dan keluarga, aku merasa sendiri dan kesepian, mungkin itu juga berperan dalam memperparah kondisiku. Selebihnya, aku rasa aku baik-baik saja. Tidak ada mall di sini tentunya, tidak ada supermarket besar, tidak ada gerai produk merk-merk terkenal, tidak ada tempat makan sushi yang jadi makanan kesukaanmu, tidak ada bioskop atau toko buku besar yang jadi tempat kesukaanku. Tapi aku baik-baik saja.

Ada kabut dan dingin menusuk yang menyambutku setiap kali membuka pintu saat subuh, ada aroma tanah basah bercampur segar dedaunan menyerbak, ada suara burung riuh berkicau menghiburku setiap pagi, ada sungai yang dari tepiannya aku bisa melihat langit senja paling indah yang pernah aku temukan, ada langit terhampar luas yang hampir di setiap hari dipenuhi awan seputih kapas bergumpal dan dipenuhi dengan bintang yang berkelap-kelip indah di setiap malam. Tidak jarang aku masih bisa menemui burung bangau dan kunang-kunang di sini. Mba’ tahu kan apa kata orang-orang tentang burung bangau dan kunang-kunang? mereka hanya bisa hidup di daerah dengan kualitas udara yang baik. Dengan semua itu, bagaimana mungkin aku tidak baik-baik saja.

20140620_072735_20140817102413591

20141214_112955

IMG_20150112_175354_20150112180617229_20150112193331757

Satu-satunya yang membuatku terkadang merasa tidak tenang dan ingin pulang ke jawa adalah keluarga. Aku punya seorang keponakan sekarang, mba’ tahu?. Seorang balita perempuan lucu dengan rambut keriting dan pipi gembil. Baru saja menggenapkan usia satu tahunnya, sudah lancar berjalan, pintar menirukan orang dan mengerti perkataan dan perintah orang-orang dewasa tapi dia belum lancar berbicara. Kalimat paling panjang yang sering keluar dari mulutnya hanya “babayapayapayapayapa” yang akan dia katakan berulang-ulang sambil sibuk membolak-balik buku bergambar hewan-hewan seolah sedang sibuk membaca. Sangat menggemaskan. Membayangkannya saja sudah membuatku kembali ingin pulang padahal baru dua hari aku kembali ke perantauan.

IMG_20150104_155607collage_20150217100158877

Dear mba’ Anti,
Hampir pukul 16:30 saat ini, aku baru ingat ada janji untuk pergi bersama rekan-rekan kantor mengunjungi beberapa kenalan yang merayakan Tahun Baru Imlek. Oh iya, perayaan Imlek di sini sangat meriah, lampion di hampir semua ruas jalan, ada acara berkunjng dari rumah ke rumah seperti perayaan Idul Fitri dan Natal. Perayaan Imlek bahkan lebih meriah di Singkawang yang berjarak 2 jam dari Sambas. Mungkin suatu saat nanti aku bisa menemani mba’ Anti berkunjung ke sana.

Dear mba’ Anti,
1180 kata, bahkan tidak menjawab semua pertanyaan di surat mba’ Anti untukku. 1192 kata dan pasti jumlahnya bertambah saat tulisan ini selesai nanti. Sebentar lagi. Maaf kalau tulisanku terlalu panjang, aku sudah memperingatkan mba’ Anti kan? Hahahaha…

Terimakasih sudah menulis “surat cinta” untuk adikmu ini. Semoga obrolan kita tidak berhenti di sini.

Hugs,
terREItory

*) postingan ini dibuat sebagai balasan surat yang ditulis mba’ Anti “Untuk Si Merah” (klik di sini) pada hari ke-20 event #30hariMenulisSuratCinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s