Soundtrack

In life ada lagu-lagu tertentu yang ketika diperdengarkan akan membawa kembali kenangan-kenangan tertentu tentang orang-orang tertentu. Seperti misalnya lagu Depapepe – Don’t You Think It Was A Good Day akan mengingatkan saya tentang Mia, atau Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing mengingatkan saya pada Zer.

Setiap kali mendengarkan Depapepe – Don’t You Think It Was A Good Day memori saya akan terbawa pada hari Senin dan Rabu, pada sosok berbaju ungu di saat masih kuliah dulu. Mia, she was my favourite girl zaman kuliah dulu, one of my very-best-friend dan saat sudah pisah “penjurusan kuliah” di semester-semester akhir kami hanya mengambil beberapa mata kuliah yang sama yang kebanyakan ada di hari Senin dan Rabu. Datang kampus pagi-pagi, sarapan bareng, kuliah, makan siang bareng (kami punya jadwal “Monday Lunch” yang sempat bikin saya terharu waktu ternyata pulang dari Amerika Mia masih mengingat kebiasaan kami itu), nongkrong bareng, ngobrol, nongkrong lagi sama D’Devils sampe malam. Dan saat sudah kembali ke kos, I would smile sampe ketiduran thinking “It was a GOOD day“. Dan sampai sekarang Depapepe – It Was A Good Day masih mengingatkan saya tentang itu.

Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing mengingatkan saya pada Zer karena 1. Ini soundtrack Armageddon yang merupakan film kesukaan Zer (Saya bahkan masih ingat di Ulang Tahun ke-23 nya Zer pernah memasukkan “menonton Armageddon di Bioskop” ke dalam wishlistnya), dan 2. begini ceritanya…

It was patah hati serius pertama saya. Patah hati yang sangat menyakitkan sampai di titik saya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Sampai di titik bahkan lagu Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing yang biasanya bikin saya banjir air mata sudah tidak lagi bisa membuat mata saya basah. Dan di suatu senja di sebuah ruang di sebuah tempat karaoke di Semarang, saya sedang duduk melantai saat D’Devils menyanyikan lagu ini. Tanpa berkata apa-apa Zer tiba-tiba ikut melantai mengambil tempat di sebelah kanan saya, she put her left arm around my shoulder, menambahkan beberapa tepukan kecil di sana, tetap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dan saya tiba-tiba yakin saya akan baik-baik saja. I’ve got all the supports I need. Semua akan baik-baik saja.

***

Dan sekarang saat saya sedang berada di titik itu lagi, di titik saya merasa sangat sedih sampai tidak bisa menangis lagi, merasa sangat sakit sampai tidak bisa merasa lagi, merasa sangat takut sampai tidak ingin merasa apa-apa lagi, sangat kecewa sampai tidak ingin mengharap apa-apa lagi, how I wish I could go back to that moment now. Kembali ke suatu senja saat saya duduk melantai dan ada seseorang di samping kanan saya, ada lengannya di pundak saya yang tanpa perlu berkata apa-apa sudah mampu membuat saya merasa yakin semua akan baik-baik saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s