Sasun, The Super Baby

Hufh…lamasekali ya tidak menulis di blog ini dan tiba-tiba sadar saya belum pernah ya benar-benar menulis tentang Sasun di blog ini. Will do this time.

05012014

Ini Sasun, keponakan kandung saya yang pertama dan (masih) satu-satunya. Lahir 4 Januari 2014 dan diberi nama lengkap oleh orangtuanya Luthfia Jihan Talita. Saya lupa apa artinya, nanti saya tanyakan kakak saya dulu. Panggilan “resmi”nya sebenarnya Fia, “Sasun” hanyalah nama buatan tantenya yang emang suka iseng. Sasun terlahir dengan dahi sedikit lebar, dalam bahasa Jawa dahi seperti ini biasa disebut “Nonong” atau “Cunong” (versi lebih imut), oleh tantenya awalnya dia mendapat panggilan “Cah Cunong” yang kemudian kembali diimutkan menjadi “Sah Sunong” dan dileburkan menjadi  Sasun and we found this nickname is cute and cool. So yeah, sejak itu dia resmi mendapat panggilan sayang Sasun. Iya, tantenya memang kelewat kreatif.

Saking kreatifnya tante-tantenya, di usianya yang baru 17 bulan Sasun sudah harus menjadi pemeran utama dalam “komik” dan meme-meme yang dibuat oleh tante-tantenya. Well, bukan salah kami kalau muka Sasun dan ekspresinya saat di foto sangat meme-able banget.

IMG_20140626_163657

IMG-20141029-WA0004

collage_20141027201356493_20141027203117759

Sebagai tante yang berkarir di pedalaman dan jauh dari rumah, saya jarang sekali bertemu Sasun. Saya bahkan tidak bisa bertemu dia sampai usianya menginjak 2 bulan. Tidak rugi juga sih menurut saya karena di usia segitu Sasun (dan semua bayi biasanya) belum terlalu seru dan belum bisa maksimal menjalankan tugas utamanya sebagai mainan tantenya. Bayangkan saja, ketika untuk pertama kalinya saya bertemu dia, dia bisanya hanya minum susu, tidur, ngompol dan nangis dan minum susu dan tidur dan ngompol dan nangis dan minum susu dan begitu terus sepanjang hari, betapa membosankan… Kali ke dua saya pulang dan bertemu dia di usianya yang sudah melebihi angka 5 (bulan) barulah dia mulai asyik dimainkan hahahaha. Kali berikutnya saya pulang di bulan Februari usianya sudah genap satu tahun, sudah bisa jalan dan melakukan banyak hal, sudah pandai menirukan banyak hal yang ada di sekelilingnya, sudah memasuki “masa lucu-lucunya” kalo kata orang.

IMG-20140302-00580
cuma bisa dibikin jadi Bayi Unicorn

Sasun (dan seperti juga kebanyakan bayi) adalah pengimitasi yang hebat. Kalau menurut keterangan Psikolog yang khusus menangani anak-anak (Yes, karena sesuatu hal Sasun pernah diajak menemui Psikolog) Sasun ini tipe pengamat. Saat menemukan hal-hal yang baru atau berada di lingkungan yang baru, Sasun bisa jadi sangat pendiam tapi matanya tidak akan berhenti mengamati sampai dia merasa familiar. Kalo dalam teknik Survival dikenal adanya STOP (Stop, Think, Observe, Plan), nah si Sasun ini seperti itu saat menghadapi sesuatu yang asing buat dia. Terakhir kali saya bertemu dia sebulan yang lalu…dia sudah semakin mengasyikkan dibuat mainan jago membuat bahagia hati tante-tantenya, sudah semakin pintar dan mudah diajari untuk menirukan banyak hal. Saking pintarnya menirukan, kadang ada hal-hal buruk yang tidak sengaja dia tiru dari tante-tantenya. Pernah suatu ketika saya mengangkat dia untuk duduk di pundak saya yang sedang berdiri di atas tembok pembatas halaman, sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi saya bilang “Sasun, kamu harus belajar melihat hal-hal dari sudut pandang yang berbeda, jangan mau jadi orang biasa yang hanya melihat segala hal dengan sudut pandang biasa”, di luar dugaan saya…terjadi hal yang tidak biasa keesokan harinya, bukan…Sasun tidak kemudian berubah jadi suka berfilosofi keesokan harinya bukannn… Sasun hanya menjadi suka merengek dan meminta saya untuk menaikkan dia ke pundak saya, saat saya menolak dia akan nekat memanjat tembok pembatas halaman sendirian which is berbahaya… Jadilah saya yang kemudian dimarahi sama Ibu “ga usah ngajarin yang macem-macem ke keponakannya” hmmm….

collage_20150222070607730_20150222070620160
ekspresi ayam bertelur versi Sasun

 Kali lain saya mengajari Sasun untuk mengamati langit dan melambaikan tangan saat ada burung atau layang-layang atau pesawat yang melintas sambil saya bercerita padanya bagaimana tantenya ini dulu saat kecil suka melambaikan tangan ke arah pesawat yang melintas dan kemudian berteriak-teriak “pesawat minta uang…pesawat minta uang…!!!” sambil menadahkan tangan (hey, semua anak kecil normal pernah melakukan hal semacam ini kan? Ga Cuma saya kan? Iya kan???). Saat itu Sasun hanya menatap saya dengan raut muka “aneh banget sih tante gue”, sampai keesokan paginya saat kami sedang berada di halaman berdua seperti biasanya dan melihat sebuah pesawat melintas, Sasun tidak lagi mau melambaikan tangannya…sebagai gantinya dia langsung menadahkan tangannya ke udara dengan ekspresi wajah “bagi duit donk pesawat”. Ah Sasun…Kalau suatu saat Ibumu bertanya siapa yang mengajarimu meminta uang pada pesawat yang melintas, tolong jangan bilang kalau tantemu ini yang melakukannya, okay?

20150522_074820
rutinitas setiap pagi dan sore : mengantar Sasun jalan-jalan

 Di luar kemampuan Sasun yang sangat luar biasa dalam mengimitasi perilaku lingkungan sekelilingnya, Sasun amat sangat malas berbicara. Iya, malas. Saya tahu dia sudah bisa bicara, artikulasinya sudah sangat jelas saat beberapa kali saya berhasil memancing dia untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, tapi dia sangat malas mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Sering saya mengajak dia berjalan-jalan sambil memperkenalkan dia dengan benda-benda di sekelilingnya dengan tujuan dia akan mau mengikuti saya mengucapkan nama-nama benda itu, tapi yang terjadi berbeda dengan harapan saya

Me : “awan”

Sasun : *melihat ke langit*

Me : “burung”

Sasun : *menunjuk ke langit*

Me : “bebek”

Sasun : *menunjuk ke sawah*

Me : “kucing”

Sasun : “eong..”

Me : *mulai tumbuh harapan* “pesawat”

Sasun : *menadahkan tangan ke langit dengan tatapan “bagi duit donk”*

Me : *nyerah*

Tapi dari semua percobaan itu, ada satu kali yang saya anggap paling sukses. Suatu hari saya mengajak Sasun bermain dengan tutup botol susunya. Sambil menempelkan tutup botol susu ke mulut saya, saya akan mengucapkan beberapa kata dan membuat Sasun tertawa geli mendengar suara saya yang menggema. Kalimat yang paling mampu membuat Sasun tertawa geli adalah saat saya mengucapkan “Berang-berang. Kepada saudara berang-berang harap segera menuju pusat informasi karena dicari Ibunya”, berkali-kali saya mengucapkan itu dan dia tetap tertawa geli. Suatu ketika saya bosan dengan kalimat itu dan dengan iseng saya mengucapkan kalimat “panggil aku Papa” dengan suar yang saya buat menggema. Sasun tertawa saat itu, seperti biasa. Dan semua berlalu seperti biasa, sampai beberapa hari setelahnya saat melihat saya berdiri di atas tembok pembatas halaman Sasun mulai merengek sambil menjulurkan tangannya meminta saya menaikkan dia ke pundak saya sambil memanggil-manggil saya dengan satu kata yang mengejutkan “Papa… Papa…!!!”. Oh, Sasun….

collage_20150217100158877
Bayi berwajah tengil

Yah begitulah sementara tulisan saya tentang Sasun, si super baby kesayangan. Sudah saatnya meninggalkan kantor dan akses internet gratis ^_^

IMG_20141120_131632_20150301101605292

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s