Believe Me

Ada orang yang terlalu sering dikhianati, sampai dia percaya tidak ada orang yang setia di dunia ini. Ada orang yang terlalu sering disakiti, sampai dia percaya tidak lagi ada orang baik di dunia ini. Ada orang yang melihat terlalu banyak pengkhianat di sekelilingnya, sampai dia lupa masih ada orang yang bersedia setia untuknya. Ada orang yang melihat terlalu banyak kejahatan di sekitarnya, sampai dia ragu ketika ada orang datang menawarkan kebaikan padanya.

Saya?

Saya dibesarkan dengan “ajaran” kejujuran. Saya dibesarkan dengan kalimat “Manusia itu yang dipegang omongannya. Kalau manusia sudah tidak lagi bisa dipercaya kata-kata dan janjinya, sudah tidak ada lagi harganya di dunia“. Saya dibesarkan dengan seorang laki-laki-yang-memegang-omongannya sebagai “panutan” saya (mungkin karena itu saya bisa menjadi sangat “terganggu” kalau ada yang mengatakan saya berbohong, entah kenapa wajah kecewa laki-laki kesayangan saya itu terbayang setiap kali ada yang menyebut saya “pembohong” dan saya tidak suka melihat wajah kecewanya). And that’s who I became (or at least I believe so and I hope so…).

Karenanya saya seringnya percaya pada manusia. Percaya dengan berlebihan bahkan. Saya terlalu percaya bahwa semua manusia hidup dengan nilai kejujuran. Saya terlalu percaya ketika seseorang mengatakan sesuatu dan menjanjikan sesuatu, itulah yang akan dia lakukan dan penuhi.

Dan kemudian saya kecewa.

Dan kemudian saya “diingatkan” bahwa tidak semua manusia mau dan mampu memegang kata-katanya.

Dan saya kira saya akan jera.

Tapi kemudian saya percaya lagi.

Dan kemudian saya kecewa lagi.

Begitu…seterusnya…selalu.

Saya pun sadar...this is just who I am. Saya orang yang sangat percaya….pada kejujuran.

Dan seperti juga saya yang terlalu dan selalu percaya pada kejujuran, saya juga tidak punya hak untuk mengoreksi orang yang terlalu dan selalu percaya pada pengkhianatan. Seperti juga saya yang berkali-kali dibohongi dan dikecewakan tapi masih selalu kembali percaya kejujuran, bukan tidak mungkin ada orang yang berkali-kali disayangi dan ditunjukkan betapa dia dicintai tapi masih selalu percaya bahwa semua orang akan mengkhianatinya, that’s just who he/she is. After all…saya tidak bisa meyakinkan siapa pun untuk mempercayai apa pun yang tidak ingin dipercayainya. Semua orang berhak mempercayai apa yang dipercayainya, dan saya tidak punya kekuatan membuat dia percaya sebaliknya.

Ps : Untuk kamu, iya kamu. Saya tidak tahu peristiwa apa dan pengkhianatan macam apa yang sudah kamu jalani/alami sampai-sampai kamu tidak percaya masih ada orang yang bisa setia dan mengisi hatinya hanya dengan satu nama dalam satu waktu di dunia ini. Mungkin juga karena kamu pun tidak bisa menyimpan hanya satu nama dalam hatimu dalam satu waktu. Entahlah… Yang saya tahu, sesuka dan sesayang-sayangnya saya sama kamu, sekuat apa pun saya coba untuk bikin kamu percaya betapa hati saya sudah memilih ingin bersama kamu dan hanya kamu saja…tapi kalau kamu sudah terlanjur meyakini sebaliknya, saya bisa apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s