Calon Istri

Aku dikenalin dengan seseorang. Dia Polisi. Bapak Ibunya orang Jawa tapi tinggal di Pontianak”, kami sedang menikmati sarapan bersama (roti cane dengan topping susu keju untuk saya sementara kak Ririn lebih memilih roti cane dengan kari ayam) pagi itu saat kak Ririn bercerita tentang seorang laki-laki yang mulai “dekat” dengannya. Bukan pertama kalinya tentu saja kami bercerita tentang orang spesial dalam hidup masing-masing. Seperti perempuan cantik pada umumnya, kak Ririn pun tentu saja punya banyak “penggemar”, dari yang sekedar iseng sampai yang benar-benar serius dan cukup membuat kak Ririn pusing (karena dikejar-kejar dengan nekat oleh seorang laki-laki yang sayangnya sekuat apa pun dia berusaha…kak Ririn tidak sedikit pun menaruh hati padanya hahahaha…), tapi entah kenapa pagi itu ada yang berbeda rasanya. Ada yang berbeda dengan laki-laki yang kali ini.

Good! Bapak kak Ririn yang Polisi pasti akan lebih mudah dimenangkan hatinya oleh sesama Polisi”, jawab saya. Saya tahu orangtua kak Ririn tidak akan mudah mempercayakan anak perempuan “kesayangannya” kepada sembarang laki-laki, sudah beberapa laki-laki yang dekat dengan kak Ririn mengalami kendala di “parents department” ini. “Dan karena aku orang Jawa…so, yeah…I approve” jawaban yang sama sekali tidak perlu tapi somehow bisa lulus sensor keluar dari mulut saya hahahaha…

Dia suka sama anak-anak. Beberapa hari yang lalu kami pergi bersama, waktu aku pergi sebentar ninggalin meja, dari jauh tanpa dia tahu aku merhatiin dia dan saat itu dia sedang ngeliatin anak kecil yang lagi main di dekatnya. Dia tuh ngeliatin anak itu dengan tatapan penuh sayang gitu Rei… Ke-Bapak-an bangetlah pokoknya”. Dalam hati saya pengen nyeplos “Mungkin anak yang sedang dia liatin itu adalah memang anak kandungnya dari perkawinan sebelumnya”, tapi niat itu segera saya urungkan ketika melihat kak Ririn dengan ekspresi This-Guy-Is-So-Adorable yang tidak bisa dia sembunyikan dari wajahnya dan sepertinya asumsi saya yang tidak beralasan tadi berpotensi besar membuat Kak Ririn melemparkan piring di hadapannya ke muka saya.

Dia kembar tiga lho…” lanjut kak Ririn. “Awww kak! Kakak jadian aja sama dia…seriusin sampe nikah. Aku mau keponakan kembar” sambar saya tanpa peduli betapa alasan saya itu lebih bermuatan kepentingan pribadi saya daripada kepentingan kak Ririn.

Dan ada banyak hal yang kami bicarakan pagi itu. Ngobrol ini dan itu sambil menikmati makanan di piring masing-masing.

Sampai di satu titik, entah bagaimana awalnya…kak Ririn cerita “Dia bilang ada tiga hal yang tidak boleh dijadikan becandaan, yaitu nikah, cerai dan rujuk”. Demi mendengar kalimat itu saya langsung buru-buru menyelesaikan kegiatan mengunyah saya dan meneguk segelas air minum untuk melancarkan tenggorokan bersiap menyampaikan sesuatu yang serius. “Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius yaitu nikah, talak, dan rujuk. Tidak banyak orang yang aku tahu membicarakan Hadist ini. Fakta bahwa si Abang Polisi Kembar ini menyebut-nyebut tentang Hadist ini buat aku menandakan dia orang yang ngerti ilmu agama. I like him. I like this guy” kata saya setelah memastikan sudah tidak ada sisa makanan di mulut saya yang akan menyembur keluar saat saya berbicara.

Saya tidak bercanda saat itu. I like this guy bahkan meskipun kami belum pernah bertemu atau berbincang secara langsung dan hanya sebatas mendengar cerita tentangnya saja. I don’t like the previous guy, laki-laki nekat yang membabi buta mendekati kak Ririn sampai sempat membuat kak Ririn menyusun strategi meminta saya menculik dia (tanpa bermaksud merendahkan tingkat intelegensi para pembaca, “dia” yang dimaksud di kalimat ini adalah Kak Ririn, bukan the-guy-that-I-don’t-like) kalau orangtuanya memaksa kak Ririn untuk menikah dengan laki-laki itu. But I like this one, entah kenapa somehow saya merasa laki-laki yang kali ini sangat berbeda dan diam-diam saya meminta pada Tuhan untuk menjodohkan mereka kiranya mereka membawa kebaikan bagi satu sama lain.

***

Hari ini, Jumat, 11 September 2015, beberapa bulan setelah perbincangan di sela sesi sarapan roti cane pagi itu…foto ini sampai ke saya melalui sebuah aplikasi obrolan yang terinstal di smartphone saya. Kak Ririn dan si Abang Polisi Kembar berdiri berdampingan sambil sama-sama menunjukkan cincin yang tersemat di jari manis kiri masing-masing. Senyum lebar yang mengembang di wajah keduanya jelas bukan senyum yang dibuat-buat. Mereka bahagia. Setelah melalui perjuangan yang tidak bisa dibilang mudah, akhirnya restu dari keluarga pun mereka dapatkan. Kakak cantik yang sudah hampir dua tahun saya “ikuti” cerita asmaranya akhirnya menemukan seseorang dan hari ini resmi menjadi seorang calon istri.

IMG_20150911_232723look at those smiles and happy faces, aren’t they adorable?

Mata saya tiba-tiba basah. Haru. Saya tersenyum, bukan senyum yang saya buat-buat tentu saja. Saya bahagia untuk mereka. Pelan-pelan dalam hati merapal doa semoga Tuhan memudahkan, menguatkan dan melancarkan semua usaha mereka untuk bersama mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah serta meridhai mereka dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Baik-baik yah kalian berdua…you’re lucky to find each other, never ever take it for granted. Semoga segera dapat tanggal baik untuk pernikahannya, dan segeralah keinginan saya untuk punya keponakan kembar diwujudkan ^_^

A happy sister,

-Rei-

Advertisements

3 thoughts on “Calon Istri

  1. aaawwwww…. terharu aku…
    aku aja lupa lho obrolan kt wktu itu… tp kemudian aq inget smuanya… tengkyu dex… aamiin buat doanya…mmmmuuaach

  2. Pagi ini dapat kabar gembira dr pak polisi kembar 3, subuh2 jam 5an dibbm foto diatas itu.
    Pak polisi inilah yg pernah menyisihkan waktu dan rizkinya utk hadir di resepsi pernikahanku yg jaraknya diseberang kalimantan.
    Berharap keduanya diberi kelancaran dalam melangsungkan pernikahan dan dikokohkan ikatan cintanya.

  3. Haru bacanya..
    ditamabab lg liat ke akraban k ririn sm merry…

    Selamat menempuh hidup baru kak ririn.
    maaf ye tak bise hadir.
    Semoga jadi pasangan yg samawa… cepet dapat momongan.Aamiin.

    Barakallahu fik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s