Step Forward

As selfish as it may sound, ada masanya ketika aku sangat merindukan kamu lebih dari waktu-waktu biasanya. Siang tadi misalnya saat aku sedang berada di sebuah toko fashion untuk membeli sepasang sepatu baru (setelah keputusanku untuk akhirnya menyudahi hubungan baik dengan sepatu merah kesayangan hadiah darimu yang penuh dengan cerita dan sudah setia menemani bertahun-tahun kemarin) dan mengalami kebingungan.

Berkali-kali aku membuka aplikasi obrolan online, mencari kontakmu hanya untuk mengetik lalu menghapus dan mengetik dan kembali menghapus pesan singkat “pilihin donk buat aku” beserta foto dua pasang sepatu berwarna sama dengan model berbeda. Sekuat tenaga mengingatkan diri sendiri bahwa menghubungi kamu untuk hal sepele macam ini akan menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan lagi sekarang.

Mendadak siang tadi aku ingin memaki diriku sendiri yang sudah terbiasa punya seseorang untuk memutuskan pilihan.

Sungguh aku tidak pernah terbiasa memilih untuk hal-hal “sepele” seperti ini. Sejak kecil ada Ibu yang dengan sukarela aku biarkan memutuskan apa yang baik untukku. Model baju, warna sepatu, makan apa hari ini, film apa yang akan ditonton…

Bukan, bukan aku tidak bisa memilih. Aku bisa memilih dengan mudah, aku hanya…tidak suka. Buatku hal-hal “sepele” macam itu tidak akan banyak berpengaruh apa pun pilihan yang diambil jadi aku tidak terlalu peduli dengan pilihan apa pun yang diambil, I’d rather save tenaga untuk memutuskan pilihan hal-hal yang lebih “besar”. Dan kemudian keterusan. Keterusan untuk memilih tidak memilih sendiri dan membiarkan orang lain yang memilihkan. Apalagi sejak aku “punya” kamu. Bahkan aku sering meminta kamu memutuskan hal super duper sepele semacam apakah aku akan menyantap mie instan rebus atau goreng atau apakah aku harus mandi dulu lalu kemudian makan atau sebaliknya.

Ada kamu biasanya. Ada kamu dan saran-saranmu yang (sepertinya) selalu masuk akal. Ada kamu yang (sepertinya) selalu tahu apa yang aku mau dan aku perlu.
Sudah lama tidak mengatakan ini, tapi sungguh…aku rindu kamu.
***

Beruntung ada yang mengingatkan aku siang tadi, “makanya jangan suka bergantung sama orang. Kan yang pake’ kamu, kamu yang tahu mana yang nyaman buat kamu. Ingat, yang orang lain suka belum tentu kamu suka” and yes she’s right.

Dan akhirnya, dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, plus menyadari sepenuhnya bahwa saat ini sedang tidak ada orang yang bisa aku “gantungkan” untuk memilih…maka aku pun akhirnya memilih sendiri barang yang akan aku beli.

Hasilnya? Sebuah ikat pinggang biru dan sepasang sepatu yang keren dan nyaman, and I gotta admit…aku sangat puas dengan pilihanku. And really, memilih sendiri itu menyenangkan rasanya. Melegakan ^_^

Advertisements

2 thoughts on “Step Forward

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s