Patah Hati Sendiri

Pernah patah hati? Orang-orang yang berusia di atas 20 tahun saya yakin rata-rata akan menjawab “pernah”, bahkan mengamati ‘gaya hidup’ anak muda zaman sekarang…kuat dugaan saya mereka yang masih berusia belasan pun sudah pernah mengalami patah hati. Saya? Berkali-kali, dan belum lama ini saya mengalaminya lagi.

Beberapa bulan yang lalu saya kembali mengalami patah hati, entah untuk keberapa kalinya saya sudah tidak bisa lagi mengingatnya. Tapi yang saya tahu, itu adalah patah hati terberat, tersakit, dan terparah yang pernah saya alami selama saya hidup 27 tahun di dunia. Alasannya ‘simple’, hati saya dikecewakan dan dipatahkan oleh diri saya sendiri.

Berawal dari perkenalan dengan seseorang melalui salah satu sosial media, saya jatuh suka kepadanya. Hal yang jelas-jelas salah karena dari awal saya tahu, dia sudah punya kekasih. Kesalahan pertama yang membawa saya pada kesalahan-kesalahan selanjutnya. Kesalahan-kesalahan yang menumpuk dan membuat saya nyaris tidak bisa mengampuni diri saya sendiri.

Sekarang hubungan kami yang entah apa namanya itu sudah lama berakhir. Saya berhenti saat tersadar kami tidak membawa kebaikan bagi satu sama lain. Ya, penting buat saya untuk bersama seseorang yang bersamanya kami bertumbuh menjadi manusia yang saling membawa kebaikan, yang bersamanya saya (merasa) menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya seperti yang saya alami bersama kekasih saya sebelumnya dalam hubungan kami selama lebih dari 3 tahun, dan bersama dia saya tidak merasakan itu, saya tidak merasa menjadi manusia yang lebih baik…bahkan sebaliknya.

Semua orang yang mengenal saya dengan baik pasti akan tahu bagaimana posisi saya dalam sebuah diskusi mengenai “perselingkuhan”, saya amat sangat menentang dan membenci perselingkuhan. Saya selalu yakin seseorang harus menyelesaikan dulu hubungannya dengan seseorang sebelum dia memulai lagi hubungan yang baru dengan orang lain, seseorang harus menyelesaikan dulu perasaannya pada seseorang sebelum dia memulai hubungan dengan orang lain. “Jika seseorang harus meninggalkan orang lain demi kamu, jangan terima dia. Karena selingkuh itu kebiasaan yang merupa candu, sekali seseorang melakukannya tidak ada jaminan dia akan berhenti. Kali ini dia meninggalkan orang lain demi kamu, tidak ada jaminan suatu hari dia tidak akan meninggalkan kamu demi orang yang lain lagi“, begitu selalu kata saya. Kata-kata yang entah dengan cara apa diambil oleh setan dari kepala saya hingga saya lupa. Atau mungkin bukan lupa… Saya ingat, tapi saya tidak peduli, otak saya bungkam karena terlalu asyik terlarut dengan hati yang sudah terlanjur jatuh. Saya…menjilat ludah saya sendiri. Menjijikkan. Sungguh. Saya bahkan pernah menjadi sangat congkak, “apa yang dia punya yang saya ga bisa kasih buat kamu? Apa yang ada di dia yang tidak bisa kamu temukan di saya?” saya masih ingat saya pernah menanyakan itu padanya, meyakini saya jauh lebih baik dari kekasihnya, meminta dia meninggalkan kekasihnya untuk bersama saya. Ada kalanya saya masih tidak percaya, tapi sungguh saya pernah menjadi manusia secongkak dan sejahat itu. Memuakkan. Sangat. Lebih dari itu, bahkan saya sebenarnya bisa dengan mudah menghancurkan hubungan dia dengan kekasihnya. Saya tahu kekasihnya yang pencemburu pasti akan meradang jika saja saya nekat mengirimkan foto-foto mesra kami pada kekasihnya. Beruntung saya tidak sampai melakukan hal sejahat itu. Beruntung saya tidak menjatuhkan diri serendah itu.

Beruntung saya segera tersadar sebelum sempat menjadi manusia sejahat dan serendah itu. Beruntung saya tidak berhasil membuat dia memilih saya. Beruntung saya disadarkan bahwa kebersamaan kami tidak membawa kebaikan apa pun.
Walaupun saat saya akhirnya sadar…semua sudah terlambat. Saya sudah terlanjur pernah menjadi sangat jahat, saya sudah terlanjur benci dan jijik pada diri sendiri, saya sudah terlanjur mengecewakan diri saya sendiri, hati saya sudah terlanjur dipatahkan oleh diri saya sendiri. And that’s, my friend….adalah patah hati dan kekecewaan terburuk yang bisa dirasakan oleh seorang manusia. Patah hati dan kekecewaan terburuk yang pernah saya rasakan.

Patah hati karena orang lain, kecewa, marah, benci, jijik, muak, murka pada orang lain…kita masih bisa memilih pergi menjauh dari orang itu dan mencari penyembuhan tanpa terbayang-bayang oleh kehadiran orang itu. Tapi dikecewakan dan marah kepada diri sendiri…mau kemana kita pergi? Bagaimana bisa menghindar dari diri yang dengannya kita harus selalu bersama, setiap jam, menit, detik? Setiap saat bertemu dengan orang yang mengingatkan pada kesalahan-kesalahan kita, orang yang merupakan alasan patah hati dan kekecewaan kita. Dan itu yang saya rasakan.

Saya tidak bisa berhenti memaki dan mengutuk diri sendiri untuk semua kesalahan yang saya buat. Saya tidak bisa lagi mempercayai diri saya untuk memilih dan mengambil keputusan karena saat itu melihat track record saya belakangan saya sudah terlanjur yakin semua pilihan yang akan saya buat pasti salah.

Sampai akhirnya di suatu pagi saat saya kembali ke kos (setelah berhari-hari harus menginap di rumah teman hanya karena saya tidak bisa membiarkan saya sendirian bersama diri saya sendiri karena khawatir saat sendirian saya akan membuat keputusan-keputusan yang salah dan melakukan kebodohan-kebodohan yang lain lagi) dan menyaksikan betapa berantakannya kamar juga hidup saya, saya sadar sudah saatnya saya mencari pertolongan.

And I’m glad I found it. Dalam berbagai bentuk. Dengan berbagai cara.

Pelan-pelan saya belajar menerima diri saya sendiri. Belajar memaafkan kesalahan-kesalahan dan kebodohan-kebodohan yang saya lakukan. Belajar mempercayai diri sendiri untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan. Berdamai dengan diri sendiri. Hadir sepenuhnya di saat ini dan tidak terjebak di masa lalu. Dan saya masih terus belajar sampai saat ini.

Tolong, doakan saya… ^_^

Advertisements

One thought on “Patah Hati Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s