Ask The Dead

Kalau kamu diberi kesempatan bertemu orang yang sudah meninggal dan mengajukan pertanyaan, what would you ask?

Me, I’d like to ask “How did it feel? The second when you were about to die, how did it feel? Did you know exactly ‘this is it, this is my time, I should go’? Or did it happen without you even notice, like ‘poof’ and you’re soul out of your body just like that?

Because it did happen to me several times, the moment when I told myself ‘Oke Rei, this is your time. Just close your eyes and you’ll be just fine‘. But everytime, I came back alive. So I guess the voice inside my head was wrong.

Kejadian lagi 2 hari yang lalu, “pengalaman hampir mati”. Saya tenggelam. Dua kali. Kali pertama saat sedang “berendam” di pantai dengan ketinggian air sepinggang. “Kau pegang tangan Anjang, nanti kalau ombak datang kita lompat“, kata seorang teman yang tahu saya sama sekali tidak bisa berenang. Ombak pertama, kedua, dan entah sampai ke berapa semuanya masih baik-baik saja, trik “lompat saat ombak datang” masih selalu berhasil dan membuat tawa. Seru. Sampai satu ombak tinggi datang menggulung saat kaki saya belum berpijak kokoh dan tangan saya tidak sedang menggandeng siapapun. Tubuh saya tergulung ombak entah dengan posisi bagaimana. Mata saya mengerjap beberapa kali mencoba tetap terbuka. Mulut saya yang reflek terbuka saat hidung tak mampu lagi menangkap udara hanya bisa merasakan air asin yang terus masuk tanpa tertahan ke dalam tenggorok. And came the voice inside my head ‘this is it Rei, this is the time. Siap atau pun tidak, this is the end of your life‘. Anehnya seperti kejadian hampir mati sebelum-sebelumnya sama sekali tidak ada rasa takut atau khawatir, and I closed my eyes, diam, berhenti berusaha mencari udara, berhenti menggapai. Lalu mendadak pandangan yang gelap berubah menjadi terang, kaki seakan ditarik dan kemudian terjejak ke pasir. Too bad, kembali menghirup udara justru membuat hidung perih dan paru-paru merasakan sensasi terbakar. Mulut yang sedari tadi cuma bisa menelan air laut bercampur pasir yang entah sudah berapa banyaknya cuma bisa mengeluarkan satu kata berulang-ulang “fuck!”. Kaki buru-buru melangkah sebelum ombak baru datang lagi. Terseok.

Kali kedua adalah ketika tiba-tiba saya yang masih ngos-ngosan di pinggir pantai diseret dan diangkat oleh 3 orang laki-laki iseng dan langsung dihempaskan ke tengah ombak yang sedang menggulung. Persis sama seperti kejadian pertama, dengan tambahan sensasi ‘remuk’ di badan yang baru saja dilemparkan dan beradu dengan ombak. Kali ini sudah benar-benar pasrah, tidak sempat mencari nafas atau menggapai. Di kepala cuma tertinggal satu ‘don’t worry, Rei…they’ll take care of your body and bring it back to your family di Jawa sana‘. But again…kaki kembali menjejak pasir dan udara masuk ke paru-paru. Tidak jadi mati. Hahahahaha…

So, yeah…kalo saya diberi kesempatan untuk menanyakan satu hal kepada orang yang sudah meninggal, I’d like to ask that “how did it feel? The second when you were about to die, how did it feel? Did you know exactly ‘this is it, this is my time, I should go’? Or did it happen without you even notice, like ‘poof’ and you’re soul out of your body just like that?“, because really…I’d like to know

^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s