Nasi Bungkus

Kenapa dipindahkan ke piring? Bukannya malah repot nanti jadi harus cuci piring? Kan mending makan di bungkusnya dan langsung dibuang“, tanya seorang teman pada suatu hari ketika kami sedang makan bersama di kos bertahun-tahun yang lalu.

Saya tidak suka makan nasi langsung dari kertas pembungkusnya (atau daun pembungkusnya atau styrofoam pembungkusnya). Semacam mengingatkan bahwa saya adalah perantau yang sedang berada jauh dari rumah, and that’s kinda sad to me (beside makan makanan yang sudah terpapar styrofoam itu berdampak buruk bagi kesehatan). Saya masih ingat ketika untuk pertama kalinya saya harus hidup jauh dari rumah (and by “jauh” waktu itu adalah saya tinggal di Semarang sementara keluarga saya di Kendal which is hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan hehehe), malam pertama di kos ketika saya harus makan nasi yang saya beli di warung langsung dari kertas pembungkusnya (you know, kertas pembungkus makanan berwarna cokelat yang ada lapisan ‘plastik’nya) dan di suapan ke-tiga airmata saya menetes, langsung kebayang adegan seorang anak yang hidup seorang diri dan makan nasi bungkus di pinggir jalan. Iya, drama banget emang saya malam itu…(now you know efek buruk bagi otak manusia yang timbul akibat terlalu sering terpapar sinetron Indonesia), tapi sungguh…saya tidak pernah merasakan suasana makan yang sesepi dan sesedih malam itu. Sejak itu saya sebisa mungkin menghindari makan langsung dari kertas pembungkus, bahkan sampai sekarang ketika saya sudah hampir 3 tahun merantau lebih jauh lagi dan berada di pulau yang berbeda dengan rumah dan keluarga, saya masih belum bisa terbiasa makan langsung dari kertas pembungkus, selalu ada ‘nelangsa’ yang terselip setiap kali saya terpaksa melakukannya.

Keadaan sebaliknya justru terjadi saat saya kecil. Keluarga saya adalah keluarga yang sangat sederhana. Bapak saya seorang PNS biasa dan Ibu adalah seorang ibu rumahtangga yang hampir tidak pernah alpa memasak untuk suami dan anak-anaknya. Seingat saya, kami terbiasa untuk makan bersama makanan yang dimasak Ibu, dan membeli makanan dari luar adalah sesuatu yang amat sangat jarang sekali terjadi. Saking terbiasanya, saya kadang bosan. Tidak jarang saya melihat adegan sinetron/film dimana pemerannya makan nasi bungkus and I couldn’t help myself thinkingKaya’nya enak dan seru deh makan dari bungkusan“. Mulailah saya membangun keinginan dalam kepala untuk bisa merasakan makan nasi bungkus. Seberapa inginnya saya makan nasi bungkus saat itu? well, pernah suatu sore saat keluarga saya sedang berada entah di mana, saya diam-diam merobek sehelai daun pisang dari kebun sebelah rumah, membersihkannya dengan lap basah, kemudian membungkus secentong nasi putih hangat dan sepotong ikan goreng didalamnya. Malamnya ketika tiba waktu makan malam, saat semua orang mengambil nasi di piring masing-masing…saya mengeluarkan ‘nasi bungkus’ buatan saya sambil tersenyum lebar dengan mata yang memancarkan kepuasan dan ‘kebuasan’, seperti orang yang sudah tidak makan selama 3 hari penuh. Keluarga saya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala saja melihat saya yang tengah menikmati ‘nasi bungkus’ dengan lahap dan bahagia.

Kebahagiaan yang sayangnya tidak lagi bisa saya dapatkan saat saya harus berhadapan dengan ‘nasi bungkus’ nyaris setiap hari di perantauan.

Ternyata benar kata orang, “Be careful what you wish for, ’cause you just might get it all when you don’t want it anymore

^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s