Walau Badai Menghadang (Part 1)

The thing about “cobaan” adalah…seringnya aku tidak tahu apakah itu adalah cara Tuhan untuk menguji sekuat apa tekad dan kemauanku untuk mendapatkan sesuatu, atau justru itu adalah cara Tuhan untuk berkata “Stop it kiddo. Berhenti berusaha, yang satu ini tidak Kutakdirkan untukmu“.

So far…aku masih percaya pada point pertama.

Kepercayaan yang membawaku berada di jalan ini malam ini. Sendirian. Mengendarai sepeda motor merah kesayanganku di tengah hempasan hujan badai yang tidak juga berhenti sepanjang perjalanan. Hanya demi membuktikan pada Tuhan sebesar apa keinginan dan sekuat apa tekadku memperjuangkan apa yang aku yakini ditakdirkanNya untuk aku. Kamu. Kamu dan cinta kita.

Aku sudah sampai di hotel. Cepetan ke sini, aku kangen“, sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat aku kenal masuk ke ponselku siang tadi.
Jam 5 selesai kantor aku baru bisa berangkat, jam 6 harusnya sudah sampai di sana. Tunggu. Aku juga rindu“, balasku langsung. Sial, hujan mengguyur dengan deras sesaat sebelum jam kantor usai, dan satu-satunya kendaraan yang aku punya adalah sebuah sepeda motor berwarna merah.

Hujan semakin menggila sejam kemudian, bahkan membawa serta angin yang menderu. Beberapa pohon di halaman kantor tumbang tak kuat menahan terpaannya. Langit gemuruh, petir menggelegar, persis seperti efek suara saat seorang tokoh di sinetron Indonesia atau film India baru saja mendapatkan berita yang sangat buruk dan mengejutkan.

Bisa. Tentu saja aku bisa membatalkan keberangkatanku menemui kekasihku. Cukup aku mengatakan kondisi yang sebenarnya dan dia pasti mengerti. Dia akan kecewa tentu, tapi pasti mengerti, toh hujan badai ini pun sedang berlangsung dengan tidak kalah buruknya di hotel dia berada sekarang. “Badainya memburuk. Sorry, I’ll see you tomorrow, okay?“, cepat aku ketik sebuah pesan singkat di ponselku, siap untuk kukirimkan padamu saat mendadak aku dikagetkan sebuah dentuman yang keras, sebuah papan reklame besar di depan kantorku ambruk tak kuat menahan terpaan angin dan hujan. Bersamaan dengan itu sebuah suara menggema dalam kepalaku “Kamu bukan pohon di halaman kantormu, Theo. Kamu bukan papan reklame yang ambruk tak kuat menahan badai. Kamu Theo. Kamu kuat. Kamu Theo yang kuat yang akan melalui apa pun demi sebuah senyum bahagia di bibir kekasihmu. Tuhan sedang mengujimu dengan badai ini, seberapa besar cintamu pada kekasihmu, seberapa kuat keinginanmu untuk bersama dia. Kamu, bukan papan reklame, bukan pohon di halaman kantormu. Badai tidak akan membuatmu ambruk, kamu tidak akan membuat kekasihmu harus menahan rindunya lebih lama lagi“.

Dan…suara yang menggema dalam kepalaku itu yang mendorongku berada di jalan ini malam ini. Sendirian. Mengendarai sepeda motor merah kesayanganku di tengah hempasan hujan badai yang tidak juga berhenti sepanjang perjalanan. Di tengah jalanan becek yang dipenuhi kendaraan dan macet akibat jembatan yang ambruk sehingga memaksa semua kendaraan berputar melewati jalan alternatif. Hanya demi membuktikan pada Tuhan sebesar apa keinginan dan sekuat apa tekadku memperjuangkan apa yang aku yakini ditakdirkanNya untuk aku. Kamu. Kamu dan cinta kita.

*bersambung. atau tidak. bergantung pada mood*

(Sambas, 081215 07:01 PM, seusai perjalanan kantor – kos di tengah badai)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s