Untuk Kamu yang Membawa Semua Kerumitan Ini Dalam Hidupku

Hidup (terasa) menjadi lebih ribet dan rumit dan tidak tenang dan entah apalah namanya sejak kamu datang.

Kau tak percaya?

Sebelumnya di awal kedatanganmu kamu membuat aku tertarik mengikutimu dan berjalan jauh dari satu-satunya orang yang pernah aku cintai sepenuh hati (selain keluargaku). Yah…meskipun memang 4 tahun kebersamaan kami mulai goyah saat dia mulai sering berkata akan segera pergi, tapi akhirnya harus aku akui aku yang lebih dulu pergi sementara dia masih di sana, di ‘rumah’ yang kami bangun selama 4 tahun.

Aku tidak ingin menyalahkanmu, sungguh… Tapi nyatanya begitu…kehadiranmu dan ketakutanku justru membuat aku berani meninggalkan dia dan mengikutimu. Iya, aku ketakutan saat itu, bayangan harus hidup sendirian setelah 4 tahun bersama seseorang yang selalu bisa saling mengandalkan terus datang. Dia belum pergi, tapi setiap kali dia mengisyaratkan dia akan pergi, dia akan meninggalkanku dan itu hanya soal waktu. Aku yang berulang kali mengutip salah satu penulis favoritku Dee “seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutannya akan sepi” ini ternyata adalah orang yang paling ketakutan akan sepi dan sendiri.

Dan di tengah ketakutanku, kamu hadir. Di tengah kebimbangan memilih “pergi atau ditinggal pergi”, kamu datang. Dan tanpa banyak kata, tanpa banyak waktu, tanpa banyak mengenal kamu, tanpa banyak menimbang, aku memilih pergi mengikutimu. Mengikutimu melangkah semakin jauh dari ‘rumah’, ‘rumah’ yang dibangun selama 4 tahun oleh sepasang kekasih yang saling cinta.

Aku meninggalkan dia yang sudah bersamaku melewatkan entah berapa banyak tawa dan airmata. Meninggalkan dia yang bersamanya aku melihat keutuhanku tercermin, hanya karena ketakutanku akan sepi. Ironis.

Bodoh? Mungkin…tapi sudah bukan rahasia lagi seberapa kekuatan yang bisa dihasilkan oleh ketakutan (dan aku tiba-tiba teringat dia yang aku cinta pernah tanpa sadar memanjat pagar tinggi karena ketakutannya pada segerombolan anjing yang datang mendekat).

Tapi, sekuat-kuatnya rasa takut, “ketakutan mengacaukan pilihan, dan seburuk-buruknya pilihan adalah yang dikarenakan rasa takut” demikian yang aku pelajari dari seseorang bernama Adjie Silarus baru-baru ini (ah, andai saja aku kenal mas Adjie lebih awal mungkin dia bisa membimbingku melewati masa-masa ‘menakutkan’ itu), dan itulah yang terjadi…pilihanku dikacaukan rasa takut. Pilihanku salah. Kamu tidak berencana membawaku serta sejak awal, aku yang mengikutimu dengan rela tanpa tahu kemana tujuanmu sebelumnya. Baru di tengah perjalanan kita yang singkat itu aku akhirnya tahu bagaimana kamu sebenarnya, dan ke arah mana kamu akan pergi selanjutnya, ke arah yang tidak aku suka. Dan aku akhirnya berhenti mengikutimu. Memilih untuk mengambil jalan yang berbeda meski tak tahu mengarah kemana.

Dia yang kucinta? Ah, sempat aku bertemu dengannya di sebuah simpang jalan, sudah ada orang lain bersamanya, dia sudah benar-benar pergi akhirnya dan aku terpaksa harus merelakannya.

Hahaha…lihatlah aku, manusia yang pergi karena ketakutannya akan sepi ini akhirnya harus menjalani konsekuensi pilihan yang diambilnya sendiri. Meraba-raba kembali, mencoba mencari jalan untuk memulai hidupnya lagi, berusaha berbahagia dengan dirinya sendiri kali ini.

Bagaimana? Kau sudah percaya bahwa hidupku menjadi lebih rumit setelah kehadiranmu?

Oh, tentu saja itu baru bagian pertama.

Hari ini, saat aku mengira sudah mulai bisa mengurai satu per satu kerumitan di hidupku, seseorang datang lagi, seseorang dari masa lalumu yang menyangka aku masih memiliki hubungan istimewa denganmu. Setelah akhirnya aku meyakinkan dia aku sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi darimu, setelah aku katakan padanya bahwa aku tidak menginginkan pendamping hidup sepertimu, aku kira dia akan membiarkanku. Tapi tentu saja semua yang berhubungan denganmu tidak akan pergi tanpa meninggalkan jejak kerumitan, bukan?

Kau tahu apa yang dia lakukan selanjutnya? Dia memintaku membantunya. Kau tahu bantuan apa yang dia minta? Dia memintaku membantunya menyulut pertengkaran antara kamu dan kekasihmu. Jangan khawatir, aku katakan padanya aku tidak bersedia membantunya karena memang aku tidak merasa perlu melakukan itu. Aku katakan padanya kalau saja aku menginginkan pertengkaran antara kamu dan kekasihmu, pasti sudah kulakukan sejak dulu (kau tahu seperti aku juga tahu seberapa mudah membuat kekasihmu itu meradang, tapi aku tidak pernah melakukannya kan? Sungguh, itu semua bukan karena aku masih menyayangimu, tapi karena memang tak ada gunanya untukku). Aku katakan padanya kalau itu tak ada untungnya buat dia apalagi buat aku. Mungkin dia ingin melihatmu sengsara, tapi aku katakan juga padanya bahwa pertengkaranmu dengan kekasihmu tidak akan membuatmu sengsara…bukankah kau masih punya banyak kekasih-kekasih lain selain kekasihmu yang satu itu, iya kan?. Tak lupa aku katakan juga kepadanya, hidupku sudah rumit dan belum beres, aku tidak mau lagi menambah kerumitan hidupku.

Ah, betapa aku merindukan Sabtu yang tenang di masa-masa lalu. Sabtu yang hanya dihabiskan dengan “kencan” di supermarket, dan satu-satunya kerumitan adalah memutuskan menu apa yang akan dimasak hari itu atau menemukan cara untuk memperpanjang waktu yang bisa dinikmati berdua. Bukan berdua denganmu tentu saja. Berdua dengan dia. Dia yang masih aku cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s