I Feel Everything

You’re my daughter. You feel everything so deeply. But hey, at least you have the courage to feel (seorang Ayah pada anak perempuannya).

Sudah hampir 2 tahun sejak “relationship” serius saya yang terakhir berakhir. Saya tidak bisa bilang saya masih sedih, masih berharap waktu bisa diputar kembali, atau mengharapkan bisa memperbaiki semuanya dan belum mau membuka hati untuk orang baru bla bla bla. Sudah tidak ada perasaan seperti itu lagi. Tapi saya sadar saya juga belum bisa untuk bilang saya benar-benar baik-baik saja sekarang.

Bukan sekali dua kali saya mendengar orang berkata “move on dong, Rei“, dan saya hanya bisa tertawa sambil dalam hati berkata “I am moving on. What the hell you think I am doing if I am not moving on right now? I am moving on“, because really…I am.

Mungkin buat orang lain terus-terusan menulis dan mengingat masa lalu di blog bukanlah “moving on“, tapi buat saya it is. Mengingat masa lalu bukan berarti saya berjalan kembali ke belakang. Masih punya semangat untuk bangun pagi, pergi bekerja, tersenyum, tertawa, “bergaul”, menikmati hidup, tidak lagi menangis, tidak lagi merasakan perih saat teringat masa lalu, tidak lagi berfikir dan menerka-nerka “what are you doing right now?, who are you with?“, buat saya itu sudah cukup jadi pertanda bahwa saya masih “moving on“.

Moving on” buat saya bukan melupakan, tapi merelakan. And that’s what I am doing right now. Merelakan semua yang sudah terjadi, menerima semua sebagai bagian dari rencana Tuhan, sambil berjalan maju melanjutkan hidup.

Mungkin buat sebagian orang ini hanya pembelaan diri. Mungkin buat sebagian orang saya tidak terlihat sedang “moving on“. Mungkin buat sebagian orang apa yang saya lakukan dan kondisi saya sekarang masih jauh dari standar “moving on” yang mereka yakini. Well, saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi “terlatih patah hati” itu tidak benar-benar ada, tidak untuk saya. Hanya karena ini bukan patah hati pertama saya (tentu saja), tidak serta merta menjadikannya lebih mudah daripada patah hati-patah hati sebelumnya.

And let me tell you, here’s a tricky part about “moving on” after something bad happen, some might say you gotta let gorasa sedih jangan dipelihara, jangan dikasih makan, jangan tenggelam dalam rasa sakit, abaikan dan berbahagialah“, while some sayembrace the feeling. Sakit, sedih, rasakan semuanya sampai tidak bersisa“. Saya? Saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyeimbangkan keduanya. Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk terus berbahagia dan menerima semua yang Tuhan kasih. Dan itu berarti juga menerima ketika sedih tiba-tiba datang (“tiba-tiba” lho ya…bukan karena sengaja mencari-cari kenangan atau stalking-stalking akun mantan, I seriously don’t do that), ketika saya merasa sedang tidak baik-baik saja, ketika saya merasa ada keping hidup saya yang belum utuh…sapa perasaan itu dengan baik, dengan berani, tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga untuk mengusirnya, it will go away dengan sendirinya kok at some point.

Tidak peduli orang-orang menyebut saya “lebay” atau “ratu galau“, I’ll feel EVERYTHING, deeply as how I always be.

P.s: for those who think I have to have a new relationship untuk membuktikan bahwa saya “moving on“, seriously…saya tidak merasa perlu untuk membuktikan apa pun pada siapa pun. Orang yang tepat akan datang di saat yang tepat, no rush… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s