That’s What I Am

Ga nulis cerita lagi?“, tanya seorang kawan suatu hari. “Ga. I gave up writing” jawab saya. “Pacar kamu siapa sekarang?“, tanya kawan yang lain di hari yang lain lagi. “Ga ada. I gave up love“, jawab saya sekenanya sambil tertawa.

But, really?

Saya sangat suka menulis. Entah sejak kapan, saya sudah tidak ingat. Tapi sungguh, saya sangat suka menulis. Menulis apa saja.

Pernah bercita-cita menjadi penulis, meskipun akhirnya sadar selama bertahun-tahun saya tidak pernah berhasil merampungkan satu cerita panjang pun karena monkey-mind saya yang sangat suka berlompatan kesana kemari. Pun menulis cerpen.

2008 ketika saya mengenal “blog”. Tahun kedua di bangku kuliah. Awalnya karena dikenalkan oleh seorang senior yang sama-sama suka nulis dan bercita-cita jadi novelis juga, mas Akbar. “Bikin blog deh, Rei. Tar gue kenalin sama teman-temen blogger lainnya“. Entah bagaimana akhirnya saya terbujuk untuk bikin blog juga (mungkin karena sering malas kuliah dan lokasi warnet hanya berjarak sepelemparan batu saja dari ruang sekretariat Nebula), dan sejak itu mulailah saya menuliskan semuanya di blog (klik di sini untuk baca tulisan pertama saya di blog).

Konsep awalnya sih sederhana. Blog yang saya beri nama BeBetterRei ini isinya adalah kisah keseharian saya, kemudian di setiap akhir cerita saya mencantumkan ‘hikmah’ atau ‘pelajaran’ yang saya terima dari kejadian seharian tersebut, dengan tujuan untuk bisa membentuk seorang Rei menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin *duh…mulia sekali yah tujuan Rei muda dulu hahahaha*. Walaupun kemudian isi blog jadi lebih banyak berisi cerita konyol seharian di kampus dan sekre Nebula bersama teman-teman atau saudara-saudara di Nebula.

Dari blog itu juga saya berkenalan dengan banyak blogger. Ada yang memang ternyata ‘dekat’ di dunia nyata karena merupakan mahasiswa Undip juga, ada juga yang kenalan baru hasil berkunjung ke blog orang lain melalui link di blog orang lain (istilah kerennya sih blogwalking).

Bla bla bla, zaman berubah, blog sudah tidak lagi populer. Banyak link yang mati. Banyak blog yang tidak diupdate lagi. Blog saya pun sempat terbengkalai. Tapi bukan karena saya berhenti menulis, saya terlalu suka menulis sampai-sampai saya tidak bisa berhenti menulis meski teman-teman blogger saya sudah hilang satu per satu. Saya menulis di blog lain. Blog yang khusus saya buat untuk menulis kisah perjalanan hati dan hubungan saya yang karena satu dan lain hal saya tidak ingin orang lain ketahui… #tsaaaahhhh hahahhaha.

Sepertinya sejak itu saya jadi terbiasa menulis tentang “hati”, tentang hubungan, tentang perasaan. Sampai-sampai bahkan ketika blog itu sudah tidak saya update lagi karena perjalanan asmara saya terhenti, saya tidak tahu lagi bagaimana caranya menulis tanpa memasukkan perasaan berlebihan.

Saya kembali ke blog ini, blog yang namanya sudah saya ganti dan tema serta templatenya entah sudah berapa kali saya ubah. Blog provider yang saya pakai pun sudah berpindah. Tapi karena baru saja patah hati, tulisan saya pun jadi penuh dengan patah hati, luka, kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, dan sungguh…sangat memuakkan. Sungguh, saya sebenarnya capek menuliskan perasaan, tapi masih belum tahu bagaimana menulis tanpa memasukkan perasaan. Dan saya berpikir “writing is not for me“. Tidak ada orang yang mau membaca tulisan yang isinya dipenuhi kesedihan, Rei. You’re not a writer.

Bersyukur sebagian diri saya masih bisa mengingatkan “Hey, Rei… Do you know what makes a writer, a writer? Bukan pembaca, bukan tulisan bagus. Seorang penulis hanya perlu menulis“.

Menulis. Apa saja.

And so I write again… Because that’s what I am. A writer.

Beside…saya punya solusi bagaimana tetap menulis kreatif tanpa memasukkan perasaan. Menulis…Berita Acara Persidangan.

No, please don’t laugh…It’s not a joke. Next time saya akan cerita tentang Berita Acara Persidangan thingy ini.

And love? Nah, I didn’t mean it when I said I gave up love. I am a hopeless romantic. Orang yang bisa jatuh cinta pada langit, pada bintang, pada suara teriakan anak-anak kecil yang bermain di halaman kos, pada riuh suara jangkrik di malam hari, orang yang bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada apa saja ini… Bisakah dia menyerah dan berhenti mencinta? ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s