Cafe Hopping (di Sambas)

Selama hampir 3 tahun saya di Sambas, “Seperti apa Sambas?” adalah pertanyaan yang bukan sekali atau dua kali saya dapatkan dari orang-orang yang belum pernah ke Sambas. Most of the time saya akan menjawab “Bayangkan sebuah kota yang hanya memiiliki satu lampu merah yang kadang beefungsi kadang tidak, dan tidak mempunyai Indomaret atau Alfamart. Mall dan bioskop terdekat berjarak 5-7 jam perjalanan. Dan tempat nongkrong paling ‘gaul’ bagi anak mudanya adalah di pinggir sungai” dan jawaban saya akan membuat mereka tertawa, entah tidak percaya atau iba.

Tapi, coba tanyakan kepada saya “Bagaimana Sambas?” sekarang, niscaya jawaban saya akan sedikit berubah “Bayangkan sebuah kota yang hanya memiliki satu lampu merah dan sudah tidak berfungsi. Sudah ada beberapa Indomaret juga Alfamart sejak beberapa bulan lalu dan Mall serta bioskop terdekat sudah bisa dicapai dengan hanya 2 jam perjalanan. Dan, sudah ada banyak cafe di Sambas“.

Yes. Cafe. Di Sambas. Seberapa ‘cafe’ kah cafe-cafe di Sambas ini? Well…tidak sefancy dan se’cafe’ cafe-cafe di kota besar tentu saja, tapi sudah cukuplah disebut cafe beneran…bukan sekedar pedagang makanan dan minuman di sepanjang waterfront (klik di sini untuk cerita saya tentang Waterfront Sambas).

Sebenarnya sudah sekitar 2 bulan belakangan ini cafe-cafe di Sambas ini bermunculan, tapi entah kenapa saya belum benar-benar meniatkan diri untuk mencoba ‘mencicipi’ cafe ini. Sampe akhirnya beberapa minggu yang lalu, dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas rasa penasaran dan kebosanan saya dengan ditemani Sisilia sampai juga masuk ke cafe-cafe tersebut. Iya, “cafe-cafe” karena dalam semalam kami sekaligus mengunjungi 2 cafe.

D’Laron

image

Dari luar kesan pertama dari cafe ini adalah “remang-remang” dan “suram” hahahaha. Saat melangkah masuk, kesan suram tadi berangsur menjadi tenang walaupun tetap remang-remang mungkin karena sedang tidak banyak pengunjung saat kami tiba. Lokasi yang sedikit ‘terpisah’ dari pusat kota dan pusat keramaian aga’nya membuat cafe ini belum banyak dikenal orang meskipun sebenarnya mereka telah hadir selama 2 bulan di Sambas.

image

image

image

Furniture dan elemen kayu mendominasi cafe ini. Hiasan-hiasan yang tergantung di dinding ditambah dengan berbagai ornamen-ornamen dan aksesoris “antik” yang diletakkan di berbagai penjuru ruangan semakin menjadikan cafe ini terkesan “vintage” dan “tidak biasa”.

Selain lokasi, jumlah menu yang sangat terbatas sepertinya menjadikan cafe ini bukan pilihan yang ‘populer’ di kalangan Anak Gaul Sambas. Hanya tersedia menu minuman saja, sedangkan pada menu makanan di daftar menu terdapat tulisan “mohon maaf semua makanan kosong“. Selidik punya selidik ternyata cafe ini kekurangan staf untuk bekerja menyiapkan makanan di dapur (aha! Ini lowongan pekerjaan…!hehehe…).

Saya tidak ingat minuman apa yang saya dan Sisilia pesan. Something “chocolate” for me and something “white” for her. Walaupun akhirnya minuman kami ditukar oleh Sisilia karena dia merasa minuman pilihan saya lebih enak. Dari efek tidak bisa tidur semalaman yang saya rasakan malam itu, kuat dugaan saya minuman yang dipesan Sisilia adalah “white coffee“.

FYI, minuman di The Laron murah-murah lho… Untuk dua gelas minuman yang saya dan Sisilia habiskan kami hanya perlu membayar sebanyak Rp.8.000,-. Iya, delapan ribu rupiah saja. Untuk rasanya? Well, minuman yang kami pesan malam itu sih terasa seperti minuman instant sachet yang hanya perlu diseduh dengan air panas dan diberi tambahan gula. Mungkin lain kali saya akan mencoba mencicipi minuman yang lebih ‘tradisional’ seperti kopi Sambas atau kopi ‘klasik’ lainnya baru saya akan mengomentari lagi hehehe…

Selanjutnya, karena merasa minuman malam itu terlalu murah (suombooong!!!) dan belum memuaskan nafsu kami akan camilan, maka setelah bermusyawarah…saya dan Sisilia memutuskan melanjutkan petualangan Jumat malam kami ke cafe lain lagi.

DPAP
Saya lupa apa kepanjangan dari DPAP ini. Cafe ini kami pilih karena sejujurnya, dari tampilan luar, cafe ini adalah cafe yang paling ‘cafe’ di Sambas.

image

Pertama kali masuk, yang langsung menarik perhatian saya adalah panggung kecil lengkap dengan seperangkat alat sholat soundsystem. Dugaan saya di hari-hari tertentu (kemungkinan Sabtu malam) ada hiburan live music di sini.

image

Berbeda dengan D’Laron yang ‘tenang’ tampilan DPAP lebih ‘tajam’, lebih modern, dan lebih ‘pop’.

image

Kesan ini juga berlaku untuk suasana yang ditimbulkan. Dari segi bangunan cafe ini lebih besar, jelas menampung lebih banyak orang, dan memang dikunjungi lebih banyak orang. Para pengunjung cafe ini pun mayoritas adalah remaja dan lebih ‘berisik’ dibandingkan pengunjung di D’Laron. Tidak heran sih kalau musik yang diperdengarkan pun lebih riuh.

image

Selain itu daya tarik dari DPAP adalah tersedianya beberapa macam permainan seperti catur, kartu remi, ular tangga, halma, ludo, domino, dsb. Tempat yang cocok untuk dikunjungi beramai-ramai dengan teman atau keluarga.

image

Sambil menunggu pesanan kami tiba, saya dan Sisilia sempat memainkan permainan ular tangga beberapa set.

image

Dari menu, DPAP jauh lebih bervariatif daripada D’Laron (saya memesan something “almond” dan Sisilia pesan something “orange” atau “tropical” gitulah…), meskipun harus saya bilang rasa yang ditimbulkan di lidah saya pun masih biasa-biasa saja meski tidak se-instan minuman di D’Laron rasanya.

image

Anyway… Kalau harus menyimpulkan hasil petualang ngafe kami malam itu, saya akan bilang…meskipun menu yang disajikan DPAP lebih unggul, tapi sebagai orang yang tidak terlalu suka keramaian…saya lebih memilih untuk berkunjung ke D’Laron lagi daripada DPAP.

Sisilia? Nampaknya dia masih penasaran untuk kembali ke DPAP (karena belum sempat menghabiskan pisang goreng cokelat keju pesanannya hahahaha)

2 cafe aja Rei di Sambas? Oh, tentu tidak… tunggu postingan selanjutnya ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s