Prehistoric Monster Syndrome

Pernah dengar ga sih “Perempuan PMS kalo nabrak tembok, temboknya yang minta maaf“? Well…ga segitunya juga sih…tapi serius deh…PMS bukan sekedar mitos. Kebanyakan perempuan (kalo tidak bisa dibilang semuanya) pasti pernah mengalami fase yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata ini hampir setiap bulan. Termasuk saya (yeah, for some of you this might be a shocking news…but yes, saya perempuan *senyum manis*).

image

PMS ini bisa beda-beda sih pada setiap individu, ada yang menderita secara fisik (ada orang yang saya kenal yang pasti demam beberapa hari sebelum menstruasi, bahkan ada yang sampe guling-guling karena sakit yang nyaris tidak tertahan dan harus minum obat), ada juga yang mengalami ‘masalah’ secara emosional saja. Some bahkan dua-duanya.

Saya beruntung hanya harus mengalami salah satunya. Emosional.

Serius deh kalo PMS udah datang…ga bakalan bisa ditebak suasana hati. Kadang nelangsa dan sedih dan merasa macam manusia paling menderita di dunia, kadang tiba-tiba emosi pengen marah-marah pengen ngamuk. Kadang…perpaduan keduanya…bergantian. Atau bersamaan.

Seperti dua hari ini. Nonton film…bahkan film happy ending pun…nangis, liat foto Sasun…nangis, dengar suara sasun…nangis, dengar lagu…nangis (dan pengen ngamuk trus bakar rumah tetangga yang hobinya karaoke lagu-lagu patah hati). Rasanya seperti habis putus cinta. Bahkan lebih sedih dari itu. Bahkan lebih parah dari putus cinta karena disertai dan/atau diselingi dengan rasa marah yang ga ngerti untuk apa dan untuk siapa.

Obatnya? Well, saya belum nemu sih… Palingan saya lebih memilih untuk ‘sembunyi’ dan membatasi diri dari dunia luar sih. Berdiam di kos, mendengarkan playlist PMS yang isinya lagu-lagu patah hati supaya nangisnya tersalurkan (and today playlist PMSnya terdiri dari : Gavin Degraw – Not Over You, 5 Seconds of Summer – Amnesia, The Script – Breakeven, Deadman Walking, Long Gone and Moved On, Six Degrees of Separation, Man on Wire, Adele – All I Ask), mengurangi kemungkinan bertemu dan/atau bersinggungan dengan hal-hal yang bisa memicu emosi karena seriously…sekecil apa pun ‘kekecewaan’ bisa jadi besar untuk perempuan yang sedang PMS. Seperti sore ini, saat saya akhirnya memutuskan untuk keluar dan pergi ke kafe yang setahu saya menyajikan spaghetti paling enak di Sambas. Guess what happened? Mungkin yang masak adalah orang yang berbeda dengan yang biasanya…spaghetti yang datang ke hadapan saya adalah spaghetti overcooked yang lembek daaaannnn ditaburi banyak sekali oregano kering di atas parutan keju seolah-olah oregano kering itu topping dan bukan bumbu. Patah hati. Pengen nangis…pengen banting piringnya…pengen obrak-abrik kafenya…pengen gebukin tukang masaknya.

Yahsudahlah…semoga suatu saat akan tiba masanya saya bisa mengendalikan ledakan emosi akibat PMS ini. Sementara ini…saya akan kembali pada mengurung diri dengan film serta playlist PMS dan menangis sampai ketiduran ^_^

Advertisements

3 thoughts on “Prehistoric Monster Syndrome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s