Menghapus Ingatan

Semalam saat lampu kamar sudah saya padamkan, selimut sudah saya eratkan ke badan, dan mata saya sudah terpejam, tiba-tiba otak saya mengingat sebuah postingan berjudul “Melupakan yang Mesti Dilupakan” di blog Agus Mulyadi (tidak usah saya cantumkan linknya, khawatir akan makin banyak yang naksir sama si Gus Mul kalau lihat fotonya di blog). Tidak lama kemudian otak saya melompat (it’s really hard having a crazy monkey mind like me) ke percakapan beberapa hari yang lalu saat Denpasar Moon di tengah kegalauannya mendengar lagu Avicii “…one day you’ll this world behind, so live a life you will remember…” menyinggung soal ingatan. “just thinking until now I dont really remember my life“, kata dia. Dan belum sempat saya melaksanakan niat untuk mengirimkan pesan padanya “Blessed are the forgetful, for they get the better even of their blunders (Friedrich Nietzsche)“, kutipan Nietzche tersebut sudah membuat otak saya melompat lagi, kali ini mengajak saya untuk nonton The Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Sebuah film yang bercerita tentang ingatan. And so I did. Yeah, se-impulsive itu saya kadang. Jadilah waktu tidur saya dimundurkan demi memenuhi hasrat menonton The Eternal Sunshine of The Spotless Mind.

Bukan, postingan blog kali ini bukan akan saya isi dengan review film yang entah sudah berapa kali saya tonton ini, bukan… Well ok, sedikit mungkin *nyengir*.

Dalam film ini diceritakan ada sebuah klinik yang menyediakan jasa menghapus ingatan dalam otak seseorang mengenai orang atau hal-hal tertentu. Lacuna, Inc. nama kliniknya. Klien yang ingin dihapus ingatannya hanya perlu melakukan beberapa prosedur mudah dan ketika bangun keesokan harinya, ‘poof!’ kenangan yang ingin kita hapus itu sudah musnah dari otak mereka dan seperti tidak pernah ada.

Kalau saja klinik yang menyediakan jasa semacam ini benar-benar ada, saya yakin akan amat sangat banyak peminatnya. Tengok saja bagaimana populernya lagu “…lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia…” milik Geisha, atau “Ingin Hilang Ingatan” milik Rocket Rockers, atau salah satu yang sering saya dengarkan dulu saat patah hati “…I wish that I could wake up with amnesia…” kepunyaan 5 Seconds of Summer. Atau tebakan saya paling tidak seorang Agus Mulyadi bisa dipastikan akan jadi salah satu pelanggannya.

Tapi benarkah menghilangkan ingatan akan menyembuhkan luka, membuat hidup kita lebih tenang dan bahagia, serta menyelesaikan masalah? Benarkah “blessed are the forgetful, for they get the better even of their blunders” seperti kutipan Friedrich Nietzsche yang beberapa kali disebut-sebut di film ini?

Sembari menulis ini, otak saya melompat ke sebuah adegan di salah satu episode TV series The 100 (kilk di sini) saat Raven diberi ‘pil ajaib’ oleh Jaha dan pil itu membuat Raven melupakan semua derita yang dia rasakan, sedih dan sakit secara mental dan fisik yang dia rasakan seketika terganti dengan rasa tenang dan bahagia. Sampai kemudian Raven menyadari, bukan saja derita dan kenangan yang menyakitkan yang dia lupakan, tapi juga kenangan yang membahagiakan. Dan meski berusaha, dia tetap tidak bisa mengingat bagaimana ciuman pertamanya dengan Finn, dia kehilangan kenangan akan saat-saat bahagia yang pernah dia rasakan bersama Finn.

Kesadaran yang sama yang juga akhirnya dialami oleh Joel, salah satu tokoh utama dalam The Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Dalam proses menghapus Clementine (mantan kekasih Joel) dari otaknya dia sadar bahwa tidak hanya kenangan menyakitkan tentang Clementine yang hilang tapi juga kenangan yang membahagiakan. Dan ketika Joel sadar dia tidak ingin kehilangan kenangan bahagia dengan Clementine, mulailah Joel membawa (kenangan tentang)  Clementine bermain ‘petak umpet’ dengan mesin penghapus ingatan demi tetap menjaga kenangan bahagianya dengan Clementine tetap ada dalam otaknya.

Saya? Sepatah-patah hatinya saya, sesakit-sakitnya saya, seperih-perihnya kenangan yang dimunculkan oleh ingatan tentang seseorang dalam kepala saya, tidak pernah saya benar-benar berharap bisa hilang ingatan. Bahkan meskipun kemampuan otak saya yang cukup bisa diacungi jempol dalam menyimpan kenangan bisa sangat menyebalkan saat kenangan-kenangan menyakitkan tiba-tiba hadir kembali, saya tidak pernah ingin kehilangan ingatan saya. Alasannya? Selain kenangan bahagia yang juga ikut hilang, kehilangan kenangan akan sebuah kejadian (atau seseorang) akan juga menghilangkan pelajaran yang seharusnya kita ingat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu, dan saya…tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Saya, tidak mau tentu saja kalau tiba-tiba bertemu mantan saya dan kemudian kami saling jatuh cinta lagi karena kami sudah saling melupakan dan kemudian mengulang kesalahan yang sama dan mengakhiri kisah kami dengan cerita yang sama. Sama sekali tidak lucu, kan? ^_^

Ps: Joel dan Clementine? Kenangan tentang Clementine akhirnya berhasil dihilangkan dari otak Joel, walaupun itu bukan akhir cerita sih. Go watch this movie deh supaya tahu bagaimana endingnya *kedip mata*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s