Before I Go To Sleep

*bukan, ini bukan review film thriller tahun 2014 yang dibintangi Nicole Kidman, bukan…*

Aku belum pernah nemu orang yang ritual mau tidurnya sebanyak kamu deh kaya’nya“, kata salah seorang teman yang cukup beruntung pernah merasakan pengalaman tidur (malam) bareng saya. Saya hanya bisa cengar cengir aja…seperti biasa hehehe…

Ga, sebenarnya ga sebanyak gimana juga sih… It’s just sleeping is important to me. “Tidur yang cukup supaya kulitnya bagus dan cantik“, kata mbak Anti dulu. Sebagai orang yang tidak terlalu memusingkan masalah kulit dan kecantikan, ‘nasihat’ tersebut tidak terlalu saya pedulikan dulu. Apalagi saat itu sebagai mahasiswa yang hidupnya masih tanpa beban pikiran berarti, tidur malam yang kurang bisa digantikan di siang hari, balik ke kos di tengah hari, atau bolos kuliah untuk tidur di sekre Nebula atau bahkan tidur di kelas saat situasi memungkinkan pun jadi.
Sampai kemudian setelah mengalami yang namanya ‘kerja’, baru saya mengerti betapa berartinya tidur malam yang berkualitas. Karena di dunia kerja tidak ada yang namanya tidur pagi, tidak ada tidur siang, tidak ada tidur sore, tidak ada tidur di kantor apalagi tidur di ruang sidang. That’s why...sebisa mungkin saya menciptakan suasana senyaman mungkin demi tidur yang berkualitas. Dan demi tercapainya rasa nyaman itu, maka ada beberapa hal yang saya rasa perlu untuk saya lakukan.

1. Stretching.
Penting dilakukan terutama jika sebelum tidur saya menghabiskan beberapa jam di depan laptop untuk bekerja atau sekedar menonton. Ringan aja sih…beberapa gerakan sederhana untuk sekedar ‘meluruskan’ punggung dan melemaskan otot-otot yang tegang
2. Mengeluarkan Isi Kepala.
Menulis puisi, cerita, lirik, atau kadang hanya sekedar sebuah coretan penuh berisi kata-kata yang ada di kepala “Ngantuk, Denpasar Moon, BA, kantor, capek, rumah, ibu, Sasun, rumah, monster, film, bapak, Bromo, indomie, pizza, surabaya, kereta, rumah, rumah, rumah, rumah, denpasar moon, rindu, pulang, rumah, pagi, dingin, sepeda, sisilia, jogja, pantai, gunung, Nebula dan bla bla“, basically…mengeluarkan isi kepala supaya tidak perlu mengendap menjadi mimpi. Saya tidak terlalu suka bermimpi saat tidur.
3. Meditasi.
Tidak rutin sih. Pada saat-saat tertentu saja saat menulis tidak cukul membantu menenangkan isi kepala yang akan meledak. Ketika kepala dan pikiran sudah mulai mengembara terlalu jauh ke masa depan dan menimbulkan kekhawatiran tidak beralasan, atau terlalu tenggelam dalam masa lalu dan memunculkan penyesalan yang tidak perlu. Meditasi saya perlukan untuk mengembalikan kesadaran, kembali berada di sini, saat ini.
4. Menon-aktifkan gadget
Kebiasaan ‘baru’ sejak menjomblo karena…well…you know…ga bakalan ada yang nyari juga hahaha…
5. Mematikan kipas angin (kalau tidak terlalu panas), jam dinding yang terdengar bunyi detaknya (saya ga punya jam dinding di kos, jadi ini hanya berlaku jika tidur di kamar orang lain), dan semua yang menimbulkan suara konstan.
6. Membuat kamar segelap mungkin.
Cukup jelas.
7. Minyak dan Balsem
Ini…adalah ritual paling penting sebelum saya tidur. Terdiri dari : Balsem Lang aroma therapi yang warna hijau untuk dioleskan di punggung, pundak, dan tengkuk. Minyak kayu putih untuk perut (kuantitas minyak kayu putih akan meningkat jika udara sangat panas dan kipas harus dinyalakan). Sebenarnya ‘basic’ nya hanya 2 itu saja, beberapa ‘treatment’ lain akan ditambahkan saat diperlukan. Seperti malam ini misalnya, penambahan pengolesan salonpas cream di kaki yang keseleo dan pegal sehabis bertanding sepakbola di kantor pagi tadi. Kali lain saya perlu mengoleskan minyak Tawon di sekujur tubuh, tangan dan kaki, pun vicks vaporub di leher, dada, dan punggung saat sesak napas melanda.
8. Minum Air putih.
Cukup jelas.
9. Berdoa.
Cukup jelas.

Well, meskipun beberapa teman menyebut ini sebagai ‘ritual’, tapi sebenarnya ga segitunya juga harus dilaksanakan kok… Kadang kalo udah ngantuk yaudah tidur aja langsung hanya cukup dengan mematikan lampu, gadget, minum air putih dan berdoa. Apalagi kalo tidur dengan orang yang hidungnya ‘peka’, ga bakalan juga ngotot menjalankan ritual nomor 7 (kecuali emang lagi sakit).

image

Ritual nomor 7

Oh ada satu lagi ritual baru yang masuk dalam ritual nomor 9. Mendoakan kamu. Iya, kamu…Denpasar Moon. Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s