Duka Pagi Ini

“…Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda…” (Soe Hok Gie)

Namanya Nadia. Saya tidak pernah tahu nama lengkapnya (atau hanya lupa, entahlah…). Saya juga tidak tahu pasti berapa usianya. Yang saya ingat, dulu ketika adik bungsu saya (si Monster) duduk di bangku TK “nol kecil” (sekitar tahun 2010), Nadia belum cukup umur untuk ikut mendaftar.

Rumah kami berdekatan. Bersebelahan, bahkan. Dia dan keluarganya menempati rumah itu beberapa tahun setelah keluarga saya tinggal di sana. Saya ingat kala itu tidak jarang saya mengajak dia menjemput adik saya dari TK (yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah). Saya ingat tubuh gemuknya yang berdiri di depan jok sepeda motor matic saya. Saya ingat rambutnya yang berkibar dan tak jarang masuk ke mata atau mulut saya. Saya ingat saya sering bertanya “dek Nadia mau sekolah di mana nanti?”. Kadang dia akan menjawab panjang lengkap dengan analisis seperti orang dewasa “belum tahu, mungkin di dekat rumah mbah aja nanti yang di sana biar ada yang nganterin sama jemput kalo bapak ibu kerja“, kadang hanya jawaban singkat “di sekolahnya mbak Karen aja, banyak mainan“. Saya ingat setiap kali adik saya keluar kelas mendapati saya membawa Nadia ikut serta dia akan tersenyum dan berteriak “dek Dia…..!!!”, lalu Nadia akan membalas dengan teriakan yang tidak kalah seru “mbak Karen….!!!”, atau sebaliknya. Persis seperti dua kawan akrab yang lama tidak bertemu. Lebay memang mereka itu. Lebay yang menggemaskan. Sampai di rumah Nadia akan mengikuti adik saya kemanapun dia pergi. Melepas sepatu, berganti baju, cuci tangan, kemudian mereka akan makan bersama sambil adik saya menceritakan kegiatannya di sekolah, mengajari Nadia lagu-lagu yang dipelajarinya di sekolah, menunjukkan gambar-gambar atau prakarya yang dibuatnya, basically apa saja yang dia lakukan di sekolah akan dia ceritakan kepada Nadia. Acara makan bersama mereka kemudian akan berlanjut dengan nonton TV dan ngemil bersama.

Setahun kemudian saat adik saya sudah di bangku “nol besar”, Nadia pun mendaftar dan masuk di kelas “nol kecil”. Di TK yang sama dengan adik saya akhirnya. Saya ingat sering dia terlambat masuk kelas karena susah bangun pagi. Kadang dia baru datang jam 9, sementara jam pulang adalah jam 10. “Yang penting kan udah datang“, begitu jawabnya kalau saya bertanya dan cubitan saya pun akan mendarat di pipinya yang gembil. Gemas. Ritual siang mereka tidak banyak berubah ; makan bersama, nonton bersama, menggambar atau mewarnai bersama, ngemil bersama, jajan bersama, menggendut pun mereka bersama.

Mereka bertumbuh. Adik saya masuk sekolah dasar. Setahun kemudian Nadia menyusul. Di sekolah yang berbeda kali ini. Ritual siang bergeser menjadi ritual sore, atau malam. Kadang sehabis maghrib Nadia akan datang ke rumah saya bersama kakaknya yang hanya berjarak sekitar 2 tahun dengannya (atau 3 atau 4, saya tidak tahu), membawa buku pelajaran dan alat tulis lengkap mereka mengerjakan PR bersama dilanjut dengan main bersama tentu saja. Kadang adik saya yang mendatangi rumah mereka.

Waktu berlalu, saya ke Kalimantan, keluarga saya pindah ke rumah baru, saya jarang bertemu dengannya. Pernah Ibu bercerita beberapa kali Nadia datang ke rumah bersama kakaknya mengendarai sepeda. “Mau main sama mbak Karen“, katanya. Hanya sesekali saya masih berkunjung ke rumah keluarganya (atau sebaliknya) saat saya pulang. Kadang saya bertemu Nadia dan Nabila (kakaknya), kadang juga tidak. Beberapa bulan lalu saya sempat berkunjung dan bertemu dengan mereka. Nadia masih gendut dan menggemaskan. Sudah duduk di kelas 3 sekolah dasar. Semakin pintar dan mandiri karena tidak lama lagi akan jadi kakak, jelasnya sambil malu-malu. Ibunya sedang mengandung anak ketiga.

image

Siapa sangka itu adalah terakhir kali saya berjumpa dengan bocah perempuan gendut dengan pipi yang menggemaskan itu.

Pagi ini saya mendapat sebuah kabar duka cita. Nadia yang lincah dan selalu ceria itu telah dipanggil kembali kepada Yang Maha Segala setelah berhari-hari mendapatkan perawatan di Rumah Sakit akibat penyakit Demam Berdarah yang dia derita. Penyakit yang sama yang membuat kakaknya sampai saat ini masih harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit.

Selamat jalan, Nadia… Di mana pun kamu berada sekarang, semoga ada banyak teman, mainan, dan makanan yang membahagiakanmu dan membuatmu tertawa. We’ll miss you, dek Dia…

“…Berbahagialah mereka yang mati muda. Mahluk kecil…kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaan mu…” (Soe Hok Gie)

Ps. Adik Nadia sudah lahir beberapa bulan yang lalu. Seorang bayi perempuan yang sangat mirip Nadia. Gendut, bulat, dan menggemaskan. Persis Nadia, kata Ibu.

Advertisements

One thought on “Duka Pagi Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s