Story Teller

Berawal dari sebuah postingan yang ditulis Dewi (klik di sini) yang berjudul “Terjebak Nostalgia“.

Di luar hujan turun dengan derasnya. Membasahi bumi yang rindu akan tetesan air dari langit. Sudah lama hujan tidak membasahi bumi, tapi air mata ini hampir setiap hari membasahi pipi. Hujan deras membuat ku sedikit menggigil, bersama hati yang masih mencoba melupakan kenangan tentangmu. Aku termenung sendiri. Di dalam rumah, di sebuah meja bundar di depan jendela. Pandanganku menatap ke arah luar. Menangkap pemandangan tetesan air yang turun bergantian. Tapi tetap saja wajah mu yang sangat jelas terlihat. Padahal kamu saat ini hanyalah sebuah objek dalam imajinasi ku, tidak akan menjadi nyata lagi. Di luar kendaraan berlomba menerobos hujan, dan cipratan genangan air di aspal jalan terdengar bagai melodi pengiring lamunanku malam ini. Jendela besar di depan ku itu ku biarkan terbuka. Biasanya ada kau yang selalu bergegas menutupnya saat hujan mulai turun. Harusnya saat ini kau ada disini. Menikmati hujan di malam hari. Hujan yang selalu kita sukai. Harusnya ada dua cangkir kopi yang kita seduh bersama. Tapi aku memilih untuk tidak menyeduh kopi lagi, karena aku tak akan sanggup menghabiskan nya sendiri. Aku sendiri, ya hanya sendiri disini. Tapi suaramu begitu jelas terdengar di telingaku. Segala ucapan sayang dan cinta mu tak bisa ku lupa rasanya. Kamu tidak di sini tapi suaramu masih saja ada di dalam fikiranku. Rasanya aku tak ingin lagi bertemu dengan hujan. Hujan yang memiliki sejuta kisah tentang kita. Hujan yang selalu membawa lamunanku terbang ke masa dimana masih ada kamu. Mungkin sekarang kamu masih menyukai hujan, dan mungkin sekarang kamu sedang menikmati hujan bersama perempuan lain.

Iseng saya membuat tulisan ‘balasan’ untuk postingan itu…

Di luar hujan turun. Deras. Sederas airmata yang membasahi pipi saat terakhir kita berjumpa. Pipimu tentu saja. Tabu bagiku membiarkan pipiku basah. Derasnya airmata yang membanjiri luka di hatiku tentu saja lain cerita. Cerita yang tak perlu kau tahu. Luka di hati yang sebaiknya tidak kubagi. Tidak denganmu.

Di luar hujan turun. Sudahkah kau menutup jendela besar di kamarmu itu, sayangku? Aku belum lupa bagaimana kau betah berlama-lama memandang ke luar dari jendela besar itu setiap hujan turun, terkadang sampai lupa waktu. “Aku suka melihat rintik-rintik hujan, bukankah kau juga menyukai hujan?”, selalu katamu setiap aku mengingatkanmu untuk menutup jendela saat hujan turun. “Dengarkan saja suaranya. Angin malam yang datang bersama hujan akan mengganggu kesehatanmu. Aku tidak suka itu”, selalu jawabku sambil bergegas menutup jendela di hadapanmu.

Di luar hujan turun. Dua gelas kopi di hadapanku. Di atas meja persegi. Bukan meja bundar seperti yang ada di depan jendela besar kesayanganmu. Sengaja kuseduh dua. Berpura-pura di hadapanku kamu ada. Berpura-pura kita masih bersama. Berpura-pura cinta kita selamanya.

Berpura-pura hatiku tidak terluka ketika harus mengucap “mulai sekarang kita tidak lagi bisa bersama”.

Di luar hujan turun. Deras. Di mataku ada aliran yang tidak lagi bisa dibendung. Tak kalah derasnya.

Adakah hujan menyampaikan rinduku padamu?

Tidak lama dia membalas lagi

Jikalau rindu itu benar adanya. Mengapa kau tak melepas rindu itu secara nyata? Tak perlu lah lewat perantara hujan. Kau tau bagaimana aku menahan rindu ku sendiri? Rinduuu, rindu akan pelukan hangatmu saat kita berdua bercanda di depan jendela itu. Pelukan mu yang seakan menenangkan ku saat petir menggelegar dengan kerasnya. Datang lah lagi kemari wahai sayangku, cangkir kopi mu menunggu mu. Jendela besar ini juga menunggu engkau menutupnya lagi. Dan hatiku menunggu untuk bisa memilikimu lagi~

Dan saya iseng (lagi)

Andai semudah itu melepas rindu. Andai semudah itu merengkuhmu kembali dalam pelukku. Andai semudah itu untuk cinta kita bisa bersatu. Andai semudah itu menjelaskan semuanya kepadamu…

Mengertilah, meski tak mudah…perpisahan ini adalah yang harus terjadi pada kita.

Siapa bilang sebuah cerita hanya bisa ditulis berdasarkan kisah dan suasana hati penulisnya?

A story teller will tell story. Any kind of story… Saya bisa menceritakan kisah patah hati bahkan saat hati saya sedang berbunga, atau sebaliknya, saya bisa menulis cerita cinta bertabur kalimat romantis yang manis di pagi hari dengan mata bengkan sisa tangis patah hati semalam. I am a story teller… I can fake story.

Saya ga kenal akrab dengan Dewi kok, saya tidak tahu cerita hidupnya, saya tidak tahu postingan tersebut berkisah tentang apa, saya bahkan tidak tahu apakah tulisan ‘balasan’ saya pada tempatnya atau tidak. Iseng saja, berasumsi, mereka-reka kemana ‘cerita’ yang dia tulis bisa saya bawa.

And I found it pretty fun. Menemukan sebuah cerita dan melanjutkannya dengan versi berbeda. That way imajinasi saya masih bisa terus berkembang. Tanpa perasaan… ^_^

Ps: I wish I could do it more often. With anyone… *nyengir*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s