Dua Puluh Enam April Ketiga

Bapak punya teman intel tugas di Sambas“, kata Bapak saya suatu hari. Berhari-hari sebelum saya berangkat ke perantauan untuk pertama kali.

Pa, aku bukan anak kecil…ga perlu dijaga“, jawab saya menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini berlanjut

Bukan begitu…”, kata beliau sebelum memberi jeda dan kemudian melanjutkan kalimatnya “Bapak mau minta tolong teman Bapak itu bukan untuk jaga kamu supaya ga diapa-apain orang, tapi Bapak mau dia ngejaga kamu supaya kamu ga ngapa-ngapain orang di sana

Asem!“, jawab saya spontan bersamaan dengan suara laki-laki kesayangan saya itu terbahak.

Bertambah lagi joke yang sudah sering saya dengar tentang betapa ‘preman’nya saya, betapa mengkhawatirkannya keberadaan saya bagi orang-orang di sekitar saya, betapa sebegitu berbahayanya saya. Orang yang sudah lama mengenal saya secara pribadi pasti mengerti dan mengimani joke ini.

Kalimat beliau hanya candaan tentu saja. Candaan yang bermuara pada pesan “Baik-baik jaga diri di mana pun berada, apalagi sebagai pendatang yang ‘bertamu’ ke tempat orang lain. Jangan bikin masalah. Jangan bikin malu orangtua dan keluarga“. Pesan yang tidak bosan dirapalkan oleh Bapak dan Ibu saya sampai sekarang setiap kali saya akan berangkat kembali ke perantauan.

Dan bersyukurlah saya selama TIGA tahun saya berada di perantauan ini, belum pernah sekali pun saya terlibat masalah serius dengan siapa pun di sini, terutama dengan orang-orang di kantor.

Tiga tahun, Rei?

Iya. 26 April hari ini saya menggenapkan tiga tahun saya belajar dan mengabdi untuk negara sebagai bagian dari keluarga besar Pengadilan Negeri Sambas. Dan selama tiga tahun ini, tidak terhitung lagi sudah berapa banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat di tempat ini. Meskipun jauh dari rumah, meskipun jauh dari Ibu Bapak, meskipun berangkat ke kota ini mengharuskan saya merelakan berakhirnya sebuah hubungan asmara terlama yang pernah saya punya (the one I thought I’d spend the rest of my life time with), tapi di tempat ini saya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan penjagaan sosok ‘keluarga’. Dan kalau saja Tuhan mengharuskan saya kembali ke masa lalu untuk mengulang takdir serta membolehkan saya untuk memilih kembali di kantor mana saya ingin mengabdi, saya akan menjawab dengan pasti “mohon jangan rubah apa pun, Tuhan. Tidak di kota yang lebih dekat dari rumah, tidak di tempat yang lebih memudahkan kehidupan asmara saya. Di sini saja, Tuhan. Di tempat saya sekarang, di Pengadilan Negeri Sambas“.

Tiga tahun. Dibandingkan dengan rekan-rekan dan senior-senior saya, tiga tahun saya di sini tentu belum ada apa-apanya, dan berkaca dari mereka juga entah masih berapa tahun lagi harus saya mengabdikan diri saya di sini. But, the hell with future… I’m content in this moment, here and now… And I’ll sure just enjoy it.

Terimakasih Tuhan. Terimakasih untuk semua yang saya punyai dan tidak saya punyai saat ini. Terimakasih untuk semua yang sudah terjadi, sedang terjadi, semua yang belum terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Terimakasih Ibu Bapak, seluruh keluarga dan teman serta sahabat-sahabat saya yang meskipun jauh dan jarang bertemu tapi tidak pernah lupa melimpahi saya dengan semangat dan alasan untuk tersenyum serta berbahagia.

Terimakasih juga kalian, rekan-rekan di Pengadilan Negeri Sambas, orang-orang yang meski tidak sedarah tapi dengan bangga bisa saya sebut sebagai ‘keluarga’.

Saya sayang kalian semua… ^_^

IMG_20160422_083134-01[1]DSC_0164 copy20160419_085308-01[1]IMG_20160401_135757-01[1]IMG_20160401_164901[1]3317

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s