Hantu Lima Tiga Puluh

Ada hantu di kantorku. Hantu lima tiga puluh. Hantu yang tidak berwujud tapi selalu datang tepat waktu. Kamis sore, pukul 05:30. Hantu yang selalu mengganggu siapa saja yang masih berada di kantor pada waktu itu.

***

(35 menit setelah jam 4 sore)
Langkahku tertahan sebelum melewati pintu lobby kantor. Hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya.
Ga bawa jas hujan?“, sapa sebuah suara dari balik bahuku. Aku menggeleng pelan tanpa menoleh. Tiga tahun bekerja di kantor ini membuatku sudah cukup hafal dan bisa mengenali suara-suara orang di kantor ini tanpa perlu melihat wajah si pemilik suara.
Mau ditemani?“, tanyanya lagi.
Aku menggeleng lagi, kali ini sembari membalikkan badan dan tersenyum menatap wajah laki-laki di hadapanku, “Pulang aja duluan. Ga apa-apa“.
Yakin?“, nada dalam suaranya justru berlawanan dengan kata yang diucapkannya.
Iya, bawel…! Sebentar lagi paling juga reda, langitnya terang kok…“, kedua tanganku mendorong bahunya menjauh dengan kekuatan seadanya.
Laki-laki itu akhirnya berjalan terburu menjauh sambil tertawa setelah sebelumnya berseru “Sudah soreee. Ini hari kamis lho…! Hati-hati…!
Tidak aku mengerti apa maksud kata-kata dan tawanya, tapi tak urung aku menjawab “Iyaaa…!!!“, tak kalah seru.

(50 menit setelah jam 4 sore)
Aku sudah kembali berada di ruanganku, bosan menunggu hujan reda di lobby. Komputer sudah kembali kunyalakan. Melanjutkan beberapa pekerjaan yang seharusnya aku selesaikan besok. Suara musik menggema memenuhi ruangan, sengaja kubiarkan dengan volume maksimal untuk meramaikan suasana. “Masih ada satu jam sebelum hari gelap“, batinku.

Sudah tiga tahun aku bekerja di kantor ini. Sudah bukan satu dua kali aku mendapati cerita menyeramkan tentang kantor ini yang seringnya terjadi setelah hari gelap. Sebagai informasi, kantor tempatku bertugas ini terletak di daerah yang terkenal karena pertikaian antar etnis yang pernah terjadi di kota ini. Sialnya lagi, bangunan kantor tempat aku mengais rezeki selama lima hari dalam seminggu ini berlokasi tepat di wilayah yang terkenal sebagai tempat pembuangan mayat korban pembantaian dari pertikaian tersebut. Tak heran kalau banyak orang yang bersaksi pernah mengalami hal-hal aneh dan berhadapan dengan makhluk-makhluk ganjil di kantor ini. Sebut saja makhluk tanpa kepala yang sering berkeliaran saat malam tiba. Atau sebaliknya, kepala tanpa tubuh yang beberapa kali didapati bergelindingan serupa bola dari sudut satu ke sudut lainnya. Atau banyak juga yang mengaku mendengar suara rintihan atau teriakan penuh kesakitan pada waktu-waktu tertentu. Konon, semua makhluk-makhluk ganjil itu adalah korban pembantaian yang arwahnya masih kesakitan karena siksaan semasa hidup atau arwah yang masih penasaran karena tubuhnya tidak utuh.

Brakkk…!!!“, sebuah suara gebrakan keras mengagetkanku. Laci di meja sebelah kananku yang tadi terbuka tiba-tiba kudapati sudah tertutup. “Pasti angin… Pasti angin…“, bisikku pada diri sendiri. Namun tak urung rasa penasaran membawaku mendekati meja itu. Kutarik lagi lacinya, kemudian kudorong dengan lemah untuk memastikan kekuatan angin memang sanggup mendorong laci itu hingga tertutup. Gagal. Sedikit kekuatan kutambahkan. Gagal. Sekuat tenaga aku coba. Pun tetap gagal.

Ingatanku kembali ke beberapa hari yang lalu, saat rekan kerjaku yang menempati meja itu mengeluh karena laci mejanya tidak bisa menutup. Sekuat tenaga dia mencoba, tetap tak bisa. Sejak hari itu laci tersebut dibiarkan terbuka. Sampai sore ini. Angin?

Sekilas mataku melirik ke arah jendela, di luar langit masih terang, “tidak mungkin hantu“, batinku lagi masih mencoba memberanikan diri. Gantian kulihat angka-angka yang tertera di fitur penunjuk waktu di smartphoneku. 05:33 PM. Kamis, 05:33 PM. Dahiku berkerut mencoba mengingat-ingat sesuatu.

Kamprettt….!!!“, reflek mulutku berteriak saat tersadar 05:30 adalah waktu ketika laci meja itu menutup dengan sendirinya. Baru aku mengerti arti teriakan dan tawa laki-laki rekan sekantorku di lobby tadi.

(35 menit setelah jam 5 sore)
Bergegas aku mengemasi barang-barangku ke dalam tas dan secepat mungkin meninggalkan ruangan. Bahkan tak kutunggui sampai benar-benar mati komputerku. Ada yang lebih penting untuk dilakukan saat ini. Meninggalkan kantor. Secepat-cepatnya.

(40 menit setelah jam 5 sore)
Tepat di hadapanku, pintu utama gedung kantor yang tertutup tiba-tiba terbuka. Pintu yang biasanya harus ditarik atau didorong itu kali ini terbuka dengan sendirinya. Pelan. Meninggalkan suara “kreeettt….” yang lemah tapi menyayat telinga. Terlebih karena tak ada seorang pun di sana.

Hujan masih mengguyur. Aku tidak peduli. Sekencang-kencangnya aku berlari menuju parkiran. Meninggalkan suara tawa terkekeh mengerikan yang menggema di belakangku. Selaju-lajunya kupacu kendaraanku. “Brakkk…!!!“, suara pintu utama gedung kantorku ditutup dengan kasar. Tak lagi aku menoleh. Tak lagi aku ingin tahu apa yang terjadi di belakang bahuku. Tak lagi aku ingin tahu makhluk apa yang baru saja menggangguku.

***

Ada cerita hantu lain di kantorku ini. Hantu lima tiga puluh. Hantu yang tidak berwujud tapi selalu datang tepat waktu. Kamis sore, pukul 05:30. Hantu yang selalu mengganggu siapa saja yang masih berada di kantor pada waktu itu.

Tidak percaya? Coba saja…

Advertisements

One thought on “Hantu Lima Tiga Puluh

  1. Jgn sampai deeh.. tp aku lupa ap prnah aku d hari kamis smpai pulang jam sgtu. Emg biasa agak sedikit mendekati jam 6 tp aku lupa prnah hari kamis gak yaaa???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s