Janji yang Belum Ditepati

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kabar seorang teman meninggal dunia karena sakit, dan hingga berhari-hari setelahnya saya tidak bisa berhenti menangis.

Bukan, bukan teman dekat. Hanya seorang teman yang pernah saya temui dan menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari di tahun-tahun pertama saya kuliah. Saya bahkan lupa bagaimana awal perkenalan kami. Dia bekerja di Yogya dan kebetulan harus menyelesaikan sebuah pekerjaan selama beberapa hari di Semarang. Saya tidak bisa mengingat bagaimana kami bisa berteman, yang saya ingat selama beberapa hari dia di Semarang saya yang menemaninya. Dia berusia beberapa tahun lebih tua dari saya, tapi obrolan kami tidak canggung. Dia mendengarkan dengan serius ketika saya mengeluarkan pendapat, tidak sedikitpun dia terkesan menganggap omongan saya sebagai omong kosong meskipun umur saya masih belum genap 20 saat itu. Saya ingat menghabiskan malam di balkon kamar kosnya, membicarakan berbagai hal dari yang remeh sampai hal se-serius pernikahan dan rumah tangga sambil menyesap bergelas-gelas kopi dan berbagi sekotak Marlboro menthol berdua (keesokan harinya dada saya sesak parah sampai akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar berhenti merokok). Adzan subuh sudah selesai berkumandang ketika akhirnya kami memutuskan menyudahi obrolan kami.

Saya tidak ingat bagaimana kami berpisah. Dia kembali ke Yogya dan kami tidak pernah berjumpa lagi di dunia nyata setelah itu. Di dunia maya kami sesekali saling sapa. Sudah itu saja.

Sampai sekitar bulan April 2016 dia mengabarkan keberadaannya di Pati dan juga sakitnya. TBC kelenjar getah bening katanya. Masih dalam proses pengobatan tapi sudah membaik, katanya. Jujur, saya tidak terlalu mengkhawatirkan penyakitnya karena sebelumnya saya pernah menanyakan tentang penyakit ini sih ke Denpasar Moon waktu Sisilia didiagnosa oleh dokternya dengan penyakit yang sama dan (sepertinya) tidak terlalu membahayakan asal menjalani pengobatan dengan disiplin. Di ujung obrolan yang tidak terlalu panjang itu dia (tanpa bermaksud merendahkan para pembaca, ‘dia’ dalam kalimat ini adalah si teman, bukan Denpasar Moon) berpesan “kirimin makanan khas Sambas donk Rei“, dan saya mengiyakan.

Iya” yang belum sempat saya penuhi. “Iya” yang saya lupa.

Lupa karena terlalu lama memikirkan makanan apa yang bisa saya kirimkan dari Sambas. Lupa karena akhirnya saya memutuskan akan menunggu sampai musim durian tiba dan mengirim lempok durian saja untuknya. Lupa karena saya harus mengurusi perjalanan saya dan beberapa orang kantor untuk menghadiri pernikahan Sisilia di Yogya saat itu. Lupa karena setelah kembali dari Yogya dan tiba di Sambas saya harus langsung mempersiapkan perjalanan pulang ke Kendal.

Sesekali saya ingat, tapi lempok yang saya cari belum ada saat saya kembali ke Sambas. Musim durian yang saya tunggu belum juga tiba sampai berbulan-bulan kemudian. Kabar duka yang duluan tiba.

Tidak sengaja saya membaca sebuah tulisan yang nampak di ‘beranda’ facebook saya, mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya seorang perempuan dengan nama yang sudah tidak asing buat saya. Dua hari sebelumnya.

Seorang teman yang kepadanya saya menjanjikan satu paket makanan dari Sambas meninggal dunia karena sakit sebelum janji saya untuknya terpenuhi.

Saya menangis. Berhari-hari. Tidak bisa memutuskan dengan pasti mana yang lebih perih buat saya, berita kematiannya atau janji saya kepadanya yang belum sempat saya penuhi.

Saya menangis. Berhari-hari. Berandai-andai tanpa henti. Seandainya saja saya tidak menunggu musim durian. Seandainya saya mengirimkan apa saja dari Sambas untuknya. Seandainya saya menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan maaf dan menjelaskan kenapa paket untuknya belum juga tiba. Tidak ada yang saya lakukan yang akan bisa menunda kematiannya tentu saja, tapi ah…seandainya….

P.s. Siapapun yang membaca tulisan ini dan merasa saya pernah menjanjikan sesuatu apapun kepadanya dan belum saya tepati, tolong ingatkan saya. Terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s