(Malam) Lebaran Bersama Bapak

(Malam) Lebaran kedua yang dilewati hanya berduaan dengan Bapak saja. Bukan apa-apa sih…Ibu dan saudara-saudara saya sudah ‘dikirim’ duluan ke rumah mbah. Saya dan Bapak karena sama-sama tidak terlalu menikmati keramaian dan keribetan persiapan Lebaran di rumah mbah memilih untuk menyusul sehabis sholat Ied saja. Buat saya ini kemajuan…biasanya Ibu akan memaksa saya untuk ikut ‘rombongan’ awal ke rumah mbah, tahun lalu saya masih ditanyai dan ditawari ‘rombongan’ awal ke rumah mbah, tapi tahun ini tanpa dimintai pendapat saya sudah serta merta dianggap akan melewatkan malam Lebaran di rumah berdua bersama Bapak. Mungkin Ibu sudah lelah dan menyerah berusaha agar saya lebih banyak bersosialisasi dengan keluarga besar, seperti juga Ibu sudah lelah bertanya “kamu punya pacar?“, seperti juga adik bungsu saya yang sudah menyerah mencari tahu pacar saya seorang laki-laki atau perempuan (“seorang kapiten“, jawab saya seringnya).

Anyway, ritual saya dan Bapak di malam Lebaran tidak jauh berbeda dengan lebaran tahun lalu : buka puasa, sholat, nontonin kembang api dari teras rumah, pergi (meminjam istilah Bapak) ‘melihat jalan raya di malam Lebaran’, yang berakhir dengan singgah ke toko sepatu dan sandal.

Singgah di toko sepatu/sandal ini tak lain dan tak bukan hanyalah demi supaya menyenangkan hati Ibu saja. Karena saya hanya punya sepasang ‘sandal gunung’ yang saya pakai kemana-mana yang saya yakin akan membuat Ibu tidak senang kalau saya kenakan di hari Lebaran. Aktifitas yang sebenarnya tidak terlalu berfaedah karena ujung-ujungnya saya akhirnya mlipir ke bagian sepatu/sandal gunung juga. Bapak? Ah…Bapak sih malah nawarin mau beliin saya sandal gunung lagi tadi. Untung aja tidak ada warna yang saya kehendaki jadi niatan membeli sandal gunung diurungkan dan saya dengan sukses berhasil membawa pulang sepasang sandal ‘lebaran’ hahahah…

Besok, sudah hampir bisa dipastikan…sholat Ied, sarapan lontong sayur dan rendang masakan Bapak, istirahat sebentar dan kemudian meluncur menggabungkan diri bersama keluarga besar di rumah mbah.

Yah demikianlah ritual lebaran saya bersama Bapak selama dua tahun ini. Semoga masih ada banyak lebaran di tahun-tahun mendatang yang bisa kami rayakan bersama. Aamiin.

Btw, hikmah dari malam Lebaran bersama Bapak adalah saya jadi makin meyakini sedewasa apapun usia saya, se’banyak’ apa pun penghasilan saya, saat pergi sama Bapak…pasti beliau akan memaksa untuk membayari belanjaan saya, bahkan sepasang sandal gunung merk terkenal yang harganya 5 kali lipat harga sandal ‘lebaran’ pun hahahaha… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s