20 07 16

Mereka bilang aku gila. Mereka tidak tahu aku hanya sedang berpura-pura gila. Orang yang benar-benar gila tidak akan tahu kapan dia mulai gila. Aku tahu. Tentu saja karena aku tidak benar-benar gila. Aku bahkan ingat bagaimana kegilaanku dimulai. Aku ingat dan tidak akan bisa lupa tanggal itu. 20 Juli 2016.

20-07-16.

20 tanggal kelahiranmu, 07 tanggal kelahiranku, 16 tanggal saat kamu dan aku menjadi “kita”, dan kita sudah bersepakat memilih angka-angka itu menjadi hari lahir keluarga baru kita. Hari perkawinan kita.

Harusnya.

Pinangan sudah diterima, undangan sudah disebar, dekorasi beserta catering dan cindera mata sudah dipesan, gaun pengantin dan keluarga besar sudah dibuat, surat-surat sudah diurus.

Harinya tiba. Semua siap. Tamu undangan datang, keluarga besarku datang, keluarga besarmu datang, teman dan sahabatku datang, teman dan sahabatmu datang, penghulu datang, aku datang, kau tak datang.

Mobil yang membawamu terguling dan terbakar setelah tidak sengaja ditabrak oleh pengendara truk yang sedang mabuk. Mobil yang seharusnya membawa kita berbulan madu setelah acara perkawinan nanti mengantarmu menjemput maut.

200716. Sejak hari itu aku tidak mau makan, tidak bisa tidur. Aku hanya bisa diam menatap kosong, aku hanya duduk termenung sepanjang waktu. Cincin bertahta berlian merah jambu berbentuk hati yang ditemukan di dalam kotak kecil di saku jasmu masih melingkar di jari manisku. Itu adalah satu-satunya benda yang tidak aku bolehkan dipisahkan dariku. Aku kehilangan semangat dan kemauan melakukan apa pun sejak itu. Keluargaku bersepakat mengirimku ke Rumah Sakit Jiwa sejak itu. Mereka kira aku gila. Mereka tidak tahu aku hanya berpura-pura gila. Aku sengaja membuat mereka mengirimku ke sini. Aku suka tempat ini. Kapan pun aku mau bertemu kamu, aku hanya perlu berteriak-teriak memanggil namamu sambil sesekali tertawa terbahak atau menangis tersedu mereka pasti akan segera memberiku suntikan agar aku tertidur, dan dalam tidurku kau akan datang menemuiku

Mereka mengira aku gila. Mereka tidak tahu aku hanya berpura-pura gila. Demi bisa berada di tempat ini, demi suntikan penenang yang membuatku tertidur, demi tidur yang membuatku bisa bertemu kamu kapan pun aku mau.

***

(Sambas, hari di mana kita seharusnya mengucapkan janji sehidup semati)

ring 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s