Aku Jerman, Kamu Belanda

Ternyata kamu pengecut yah?“, katamu setelah mendengar ceritaku sore itu. Cerita tentang aku yang sedang tergila-gila dan jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa ku sebutkan namanya dan orang itu tidak pernah tahu apa yang ku rasa.
Langit yang aku kenal berani ternyata tidak lebih dari seorang prajurit yang mengalah sebelum bertempur“, katamu lagi sambil tertawa dan mendaratkan sebuah tinju kecil di lengan kiriku.

Aku ikut tertawa, tidak yakin untuk apa.

Aku bukannya mengalah sebelum bertempur, andai kau tahu itu. Aku hanya merasa tidak perlu terlibat dalam pertempuran yang hasil akhirnya sudah dengan pasti aku tahu.

Aku mencintaimu. Kamu tidak pernah tahu.

Kamu tidak pernah tahu betapa seringnya aku ingin meninggalkan posisiku di sebelahmu, beralih untuk berdiri di hadapanmu dengan seikat bunga mawar merah kesukaanmu di tanganku, mengungkapkan perasaanku, kemudian berlutut dan meminta dengan sungguh padamu untuk menjadi kekasihku atau mungkin hubungan yang lebih serius dari itu. Tapi buat apa aku lakukan itu kalau aku sudah tahu dengan pasti bagaimana nanti reaksi dan jawabamu?
Pertama, kamu akan tertawa mengira aku sedang bercanda seperti yang biasa aku lakukan. Lalu tawa itu akan hilang menjadi senyum tipis yang canggung saat aku akhirnya berhasil meyakinkanmu semua kalimatku aku ucapkan dengan bersungguh-sungguh. Kamu akan menggigit sedikit bibir bawahmu seperti yang selalu kamu lakukan saat sedang berpikir serius.
Setelah kalimat yang tepat kamu temukan, kamu akan menggenggam tanganku dan berkata “Langit, saya harap kamu percaya saya juga sayang sama kamu. Tapi sayang saya ke kamu bukan seperti sayang kamu ke saya. Saya sayang kamu sudah seperti sayang saya ke kakak saya sendiri. Kamu sudah jadi kakak buat saya dan saya tidak bisa berada dalam hubungan yang lain dari itu bersama kamu“. Lalu pelan-pelan kamu berubah. Pelan-pelan kamu akan berhenti menjadikanku tempatmu bercerita. Kamu akan mulai dengan berhenti bercerita tentang dia yang kamu cinta karena merasa ada perasaanku yang harus kamu jaga. Pelan-pelan kamu mulai menyimpan rahasia dariku. Pelan-pelan aku akan kehilangan kamu, dan aku akan seumur hidup menyesal untuk itu.

Jadi, di sinilah aku sekarang. Alih-alih berada di hadapanmu mengungkapkan perasaanku, menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah aku tahu, menjalani pertempuran yang hasil akhirnya sudah aku tahu, aku lebih memilih untuk tetap berada di sampingmu. Aku memilih mendengarkan semua ceritamu tentang apa saja termasuk tentang dia yang kamu cinta.

Aku bukan pengecut. Aku berani. Berani menelan sakit karena luka di setiap kali kamu menyebut namanya. Berani menerima semua penderitaan sebagai akibat yang harus aku tanggung karena mencintaimu dalam diamku. Berani mencintai. Mencintai dengan berani.

Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia. Sudah cukup buatku untuk tahu bahwa kamu bahagia.

(Sambas, 240315 03:55 AM)

Aku Jerman, kamu Belanda. Akunya udah sayang beneran, kamunya ternyata cuma bercanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s