Sebelum Lepas Landas

Halo, iya… kok udah bangun? Ini sudah di pesawat lagi nunggu antrian take off pesawat. Kenapa nangis? Oh…itu cuma mimpi. Sebentar lagi Papa pulang. Tidur lagi sana… Nanti ketemu Papa lagi di mimpi, kita main bareng. Iya, papa juga sayang Starla”. Aku menatap laki-laki yang duduk di bangku sebelahku lekat. Dia laki-laki yang baik dan sangat menyayangi keluarga batinku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya nanti saat dia pergi. Ralat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya nanti saat aku mengambilnya dari mereka.

Jengah.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ada sekitar 113 orang di dalam pesawat ini. Laki-laki, perempuan, dewasa, balita, bahkan ada seorang bayi dalam dekapan seorang perempuan muda yang nampak bahagia di samping laki-laki yang aku duga adalah suaminya. 35, 47, 30, 15, 5, 1, usia mereka bisa terlihat dari angka yang tertera di kening mereka. Jangan tanya bagaimana bisa aku melihatnya.

Ada sekitar 113 rekan seprofesiku juga, sebagian besar dengan ekspresi wajah dan pikiran yang kurang lebih sama denganku juga. Mereka semua terlihat tidak dapat dibedakan dengan pakaian yang seragam, tapi aku bisa mengenali mereka. Salah satunya Seth.

Seth merupakan yang paling muda di antara kami, baru lulus pendidikan dan ini adalah tugas profesional pertamanya. Pandangan kami bertemu, ada rasa bangga aku temukan di matanya. Dia pasti bangga bisa berada dalam satu penugasan denganku. Tidak bermaksud sombong, tapi aku adalah salah satu senior di antara kami semua yang ada di pesawat ini, aku bahkan sempat menjadi pembicara di salah satu kelas yang diikuti Seth di awal pendidikannya. Aku masih ingat bagaimana wajahnya dulu memucat saat pertama kali aku menjelaskan teknik-teknik dasar pengolahan jiwa manusia yang sesungguhnya tidak semudah bayangan orang-orang selama ini. Jiwa yang sudah dicabut (tahapan ini dijelaskan dalam kelas yang berbeda) akan dimasukkan ke dalam tabung untuk diperas dan diekstrak, menyisakan dua jiwa inti manusia, baik dan jahat untuk kemudian masing-masing diukur dan menjalani tahapan selanjutnya. Aku senang ketika Seth berhasil bahkan menjadi lulusan terbaik di angkatannya.

Pintu pesawat ditutup. Pilot memberi pengumuman melalui pengeras suara. Ada telapak tangan menaungi kepala masing-masing orang di pesawat ini. Aku dan rekan-rekan seprofesiku yang ada di pesawat ini bersiap menunaikan tugas kami.
Sekilas aku melihat laki-laki yang duduk di bangku sebelahku tadi menyempatkan mengirim sebuah pesan singkat untuk istrinya sesaat sebelum mematikan telepon genggamnya, ‘Jaga diri baik-baik ya, I love you. Tell Starla I love her too. ‘till death do us part‘.

Mesin dinyalakan. Pesawat mulai bergerak pelan. Para Pramugari memberi demonstrasi tindakan keselamatan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat Seth. Telapak tangannya tengah menaungi kepala bayi yang sedang berada dalam dekapan ibunya, rasa bangga di mata Seth sudah berubah menjadi iba. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Semua demonstrasi tindakan keselamatan ini tidak akan berguna kali ini. Sebentar lagi.

Di bawah kakiku aku bisa merasakan roda pesawat bertambah laju.

“BOOOM!”, ledakan keras terdengar sesaat setelah pesawat lepas landas, sebuah bola api raksasa terbentuk di udara. Mataku terpejam, dalam hati memohon “Tuhan, bolehkan aku memilih pekerjaan lain selain menjadi Malaikat Maut untuk-Mu”.

(Bandara Supadio Pontianak, 120215 10:11 AM)

Advertisements

4 thoughts on “Sebelum Lepas Landas

      1. Alhamdulillah baik… aku kan seperti udara, tak terlihat tapi ada dimana-mana, hahaha… aku jarang ngetwit sekarang, ngeceknya kalo ada notif dari twitter ke email aja. Paling di IG, lagi seneng aplod foto, tp ntar kalo bosen lagi ya wes… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s