Nyam Nyam

Dulu waktu kecil saya alergi dengan cokelat. Makanan cokelat, minuman cokelat, apapun yang mengandung cokelat bahkan walaupun dalam jumlah sedikit. Saya masih ingat bagaimana saya hanya bisa menelan ludah saat teman-teman saya dengan nikmatnya memamerkan camilan mereka setiap hari yang seringnya berupa cokelat di hadapan saya. “Sialan!“, saya cuma bisa memaki dalam hati setiap kali.

Suatu hari teman-teman saya mulai menggandrungi sebuah produk baru dengan gambar macan lucu menggemaskan dan tulisan Nyam Nyam di kemasannya yang berwarna-warni. Sungguh, hanya bisa menyaksikan teman-teman yang berlomba-lomba mencelupkan biskuit batangan sepanjang jari ke dalam krim cokelat yang (nampaknya) lembut kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan nikmat tanpa bisa mengalaminya sendiri bukanlah perkara mudah untuk seorang anak usia 6 tahun. Kalian tidak akan tahu bagaimana rasanya. Nyaris setiap hari saya harus mengalami siksaan batin seperti itu.

Sampai suatu hari saya melihat satu kemasan Nyam Nyam menyembul dari tas sekolah kakak saya yang tergeletak tanpa pengawasan di meja belajar kamar kami. Nafsu saya terpancing. Batin saya bergejolak. Iman saya goyah. Terbayang gurihnya biskuit renyah yang berpadu dengan manisnya cokelat lezat lumer di lidah.

10885433_10152962615144693_822224821394890356_n

Nafsu menang. Iman saya runtuh.

Gigitan pertama…

Gigitan kedua…

Sebatang biskuit yang sudah berlumuran krim cokelat lembut habis masuk ke dalam mulut saya.

Kunyahan pertama…

Kunyahan kedua…

Kunyahan ketiga…

Teman-teman saya tidak bohong. Perkiraan saya tidak meleset. Nyam Nyam ini nikmat, senikmat namanya. Tidak terasa seluruh isi kemasan berbentuk gelas kecil itu sudah berpindah ke dalam perut saya. Saya tersenyum. Puas. Tidak menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.

Belum selesai saya menjilati jejak-jejak krim cokelat yang tertinggal di jari-jari saat kulit saya mendadak memerah seiring sensasi terbakar terasa menjalari seluruh tubuh saya. Gatal. Perih.

Tubuh saya ambruk. Pandangan saya buram. Langit-langit kamar tampak berputar menggila. Tidak pernah saya merasakan siksaan sesakit itu sebelumnya. Napas saya sesak. Ingin mati saja rasanya.

Lima menit…

Sepuluh menit…

Lima belas menit…

Tiga puluh menit…

Satu jam…

Satu hari…

Saya kehilangan hitungan masa saat mata saya akhirnya bisa terbuka. Sepertinya saya habis tertidur. Saya lupa, hari saya lupa waktu. Saya hanya bisa mengenali suara Ibu yang sekonyong-konyong memeluk saya sambil terisak “Jangan makan cokelat lagi ya, Nak… Jangan bikin Bapak sama Ibu khawatir dan takut seperti kemarin…“. Ada nada lega di sana.

(Sambas, 8 Januari 2014 10:15 PM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s