Senja Menjauh

Mau sampai kapan kita seperti ini?
Seperti apa?
Seperti pencuri yang harus sembunyi-sembunyi
Kamu kan emang pencuri. Pencuri hatiku“, Langit menggenggam tangan Senja dan meletakkannya di dada sebelah kirinya.

Gombalan yang biasanya mengembangkan tawa dan rona merah di wajah Senja itu kali ini bahkan tidak berhasil membuat ia tersenyum, “Aku sedang tidak bercanda, Lang. Aku capek harus membohongi semua orang hanya untuk menemui kamu. Aku capek berpura-pura tidak ada apa-apa di antara kita. Aku bahkan tidak bisa menggenggam tanganmu di keramaian. Kamu tahu kan seberapa melelahkannya hubungan ini?“.

Langit terdiam, senyum jahil yang sedari tadi dikembangkan di wajahnya untuk menggoda Senja tiba-tiba hilang. Ada perih yang seketika menikam ulu hatinya. “Saya tahu, sayang. Kamu tidak sendiri, saya juga ada di hubungan ini, kamu ingat? Saya juga lelah harus menyembunyikan perasaan saya ke kamu di depan orang lain. Saya lelah hampir setiap saat harus menahan keinginan saya untuk mengecup kamu, melingkarkan lengan saya di pinggangmu, menggenggam tangan kamu, atau bahkan sekedar menatap kamu mesra hanya untuk menunjukkan bahwa kamu punya saya dan cinta saya cuma kamu yang punya. Saya tahu. Tapi saya bisa apa? Kita bisa apa?

Kita bisa menyerah dan sudahi saja semua

Atau kamu dan saya bisa pergi jauh ke tempat baru. Abaikan semua orang yang menentang hubungan kita. Kita mulai semua dari awal di tempat yang tidak ada yang akan bisa menemukan kita di sana

Bahkan Tuhan dan orangtua kita?

Langit tersentak, tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Senja.

Temui aku saat kamu sudah punya jawaban untuk pertanyaan itu. Dan sampai saat itu tiba, kita jalani sendiri-sendiri dulu saja ya…

But I love you and I know you love me too. Dua orang yang saling mencintai tidak seharusnya berakhir seperti ini. Please…“, dengan suara tercekat Langit memohon. Jutaan kenangan yang sudah mereka kumpulkan bersama selama bertahun-tahun berkelebat satu bersatu dalam kepalanya, tak rela untuk disudahi.

Sekedar cinta saja tidak cukup untuk dua orang bisa bersama, Langit. Saya tahu kamu tahu itu…

Langit membisu.

Senja berjalan menjauh. Langkahnya gontai, sekuat tenaga menahan diri agar tidak kembali untuk memeluk tubuh yang sedang berlutut di balik punggungnya.

(Sambas, 230215 06:55 PM)

“…Baby, I know places we won’t be found and they’ll be chasing our trace trying to track us down. I know places…” (Taylor Swift – I Know Places)

 

Advertisements

7 thoughts on “Senja Menjauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s