16 Oktober

Angka 16 selalu melayangkan ingatanku kepadamu, kepada ‘kita’ yang dulu pernah ada.

Kenapa sih harus 16?”, protesku pada kak Ririn, teman sekantor yang memutuskan menetapkan 16 Januari sebagai hari pernikahannya.

Kamu juga ikut-ikutan tanggal 16?”, aku aga’ sedikit kesal ketika Sisilia juga mengumumkan akan menggunakan tanggal 16 sebagai tanggal pernikahannya 3 bulan kemudian. Dan si A dan si B dan si C, orang-orang yang tidak aku kenal tapi mencantumkan tanggal 16 di undangan perkawinannya. “Emangnya ga ada tanggal lain ya?”, pikirku setiap kali.

Sudah melewati pertengahan tahun ketika aku akhirnya sadar tahun ini adalah tahun 2016 dan wajar saja banyak pasangan memilih tanggal 16 sebagai tanggal pelaksanaan acara-acara penting dalam hidupnya. 160116. 160216. 160316. 160416. 160516. 160716. 160816. 160916. 161016.

I am doomed.

Hampir setiap bulan aku akan diingatkan pada tanggal 16. Paling tidak sampai tahun berubah menjadi 2017.

Tapi dari semua tanggal 16 di setiap bulannya. Yang paling sulit untuk aku hadapi adalah 16 September dan 16 Oktober.

16 September 2011 adalah kali pertama ‘kita’ resmi ada. 16 September 2013 kita memutuskan menyudahi ‘kita’. 16 September 2014 kali terakhir e-mail darimu ku terima. Satu kejadian di satu tanggal akan datang memanggil ingatan atas kejadian-kejadian lainnya. Bayangkan ada tiga kejadian di satu tanggal yang sama, seberapa besar rombongan ingatan yang datang sekaligus di setiap tanggal 16 September. Berbondong-bondong serentak menghantam otak dan hati dengan serangkaian ledakan kenangan. Luka? Memar? Beuh, ‘untung buatan Tuhan, kalo buatan pabrik pasti sudah hancur otak dan hatimu itu dengan kenangan‘, sering kudapati temanku menggoda seperti itu. Aku tak pernah mengelak. Ku rasa dia benar…

16 Oktober, meski tak akan menang melawan 16 September,  tak urung membuat otak dan hati berdenyut tak tentu arah juga. Ada satu kejadian penting di tanggal itu.

16 Oktober 2012, melalui sambungan telepon aku menghubungimu untuk mengabarkan sebuah berita penting. Berita yang sudah membahagiakan keluargaku dan aku yakin juga akan sangat membahagiakanmu. “Be, ada kabar penting“, kataku sesaat setelah terdengar suaramu membalas salamku. “Kabar apa?”, jawabmu acuh tak acuh sambil melanjutkan pekerjaanmu yang sedang menumpuk. Aku tau kau mengira aku hanya sedang ingin menjahili kamu, mengatakan ada sesuatu yang penting padahal aku hanya ingin menyampaikan ucapan selamat tanggal 16 dan betapa aku mencintai kamu, seperti kebiasaan yang tidak pernah alpa kita lakukan di setiap tanggal 16 selama lebih dari setahun kebersamaan kita. Yah bukannya itu adalah hal yang tidak penting, tapi ada kabar yang lebih penting saat itu.

Ini tentang uang pensiun dan simpanan masa tua kita“, jawabku masih dengan menahan tawa gembira. ‘Uang pensiun’ adalah joke kita berdua. Pekerjaan kamu sebagai branch manager di salah satu perusahaan swasta asing pasti cukup untuk menghidupi kita berdua, tapi kita selalu bercanda bahwa masa tua kita akan lebih nyaman dan bahagia jika salah satu dari kita bekerja di instansi pemerintah. “Ada kabar apa sih, Po?”, tanyamu lagi, kali ini dengan rasa penasaran. “Aku lolos donk seleksi Mahkamah Agungnya“, jawabku akhirnya dengan suara teriak yang tertahan, tidak ingin membuat gendang telingamu pecah. Segera kamu membuka laman website resmi Mahkamah Agung dan tawamu seketika pecah mendapati namaku dalam daftar nama peserta yang lolos seleksi. “Congratulation! Dari 14 ribuan peserta hanya diambil segelintir orang dan kamu terpilih! I’m so proud of you! This is like the best gift ever di tanggal jadian kita“. Dan aku hanya tertawa mendengar ocehanmu, bahagia, tak henti mengucap syukur pada sang Maha Segala.

Kebahagiaan kita terasa semakin lengkap setelah 16 Oktober 2012. Sampai akhirnya pelan-pelan terbukti sebaliknya.

Pekerjaan yang kita sangka akan semakin mendekatkan kita ternyata justru menjauhkan. Pekerjaan yang kita yakini sebagai pelengkap kebahagiaan kita ternyata membuat hubungan kita memburuk karena merasa tidak lagi saling cukup dan akhirnya ‘kita’ tidak lagi ada.

16 Oktober terasa susah dijalani sejak itu. Meskipun dalam hati tak lupa aku selalu bersyukur pernah melewati tanggal itu bersama kamu dengan rasa bahagia tiada terhingga.

Bagaimanapun… Terimakasih Tuhan. Terimakasih untuk pekerjaan yang meski kadang terlupa tapi hamba yakin adalah yang terbaik untuk hamba. Terimakasih kamu yang pernah ada di saat-saat terburuk dan terbaik dalam hidupku. Terimakasih untuk ribuan hari juga puluhan angka 16 yang pernah kita lewati bersama meski ternyata tidak selamanya ^_^

(Sambas, 161016 06:54 PM)

“…meskipun jalan kita tak bertemu, tapi tetap indah bagiku, smoga juga bagimu. Kau tahu aku merelakanmu dan takkan mencoba tuk merebutmu, aku cuma rindu, aku cuma rindu, itu saja…” (The Rain – Gagal Bersembunyi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s