Si Bodoh yang Mencintaimu

Aku tidak percaya ada orang yang akan benar-benar tulus melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya tanpa mengharapkan cintanya berbalas seperti itu. Cinta tanpa syarat itu tidak ada. Ah, nyatanya dua orang yang sudah bertahun-tahun mengaku saling mencintai dan memiliki saja pun akhirnya berpisah“, kita sedang menyaksikan satu episode drama Korea saat kalimat itu keluar dari bibirmu. Berkali-kali sebelumnya kau mengungkapkan kekesalanmu akan cerita drama ini yang menurutmu terlalu dibuat-buat romantis dan tidak realistis. Setiap kali aku hanya bisa mengangguk-angguk saja menanggapi. Aku bahkan tidak tahu apa judul drama ini. Aku hanya sesekali menggumam dan mengunyah pop corn bergantian hanya supaya tetap terjaga di sampingmu.

Malam ini adalah idemu. Drama Korea ini juga idemu. Aku di sampingmu malam ini adalah satu-satunya ideku. Cerita panjang melalui sambungan telepon yang penuh isak tangis tentang keputusan kedua orangtuamu untuk bercerai siang tadi adalah pemicunya. Sebagai seseorang yang sudah mengenalmu selama hampir dua puluh tahun lamanya, ini bukan kali pertama aku menjadi saksi kesedihanmu. Berkali-kali sampai entah sudah berapa. Cerita yang berbeda, waktu yang berbeda, hanya kebiasaanmu saja yang tetap sama. Kesedihan selalu membuat hidupmu kacau sementara. Kamu yang sedang bersedih tidak boleh dibiarkan sendiri. Perutmu bisa kau biarkan tidak terisi dengan benar selama berhari-hari. Tidur malammu bisa berganti isakan panjang tanpa henti sampai menjelang pagi.

Kamu yang sedang bersedih tidak boleh dibiarkan sendiri.

Aku masih ingat kesedihan terakhirmu sebelum yang siang tadi. Kekasih yang kau cintai ternyata mengkhianatimu dan memilih untuk bersama dengan orang lain yang bukan kamu. Masih sempat ku dengar tangisanmu melalui sambungan telepon, sayangnya pekerjaanku membuatku harus berada di luar kota dan membiarkanmu larut dalam kesedihan seorang diri kali itu.

Kamu yang sedang bersedih tidak boleh dibiarkan sendiri.

Sebotol cairan pembasmi serangga sudah nyaris kau pindahkan semua isinya ke dalam perut sewaktu aku tiba dan menerobos masuk ke dalam apartemenmu. Garis-garis luka yang masih basah aku temukan di lengan kirimu. Inisial nama kekasihmu juga tertoreh di sana, berdarah.

Aku di sampingmu adalah satu-satunya caraku memastikan semua itu tidak terulang lagi malam ini. Tidak akan ku biarkan lagi perpaduan kesedihan dan kesendirian membuatmu nekat mengambil tindakan gegabah menyakiti diri sendiri seperti waktu itu.

Bagaimana kalau orang seperti itu ternyata ada di dunia nyata?“, tanyaku akhirnya setelah jeda yang lumayan panjang
Orang seperti apa?”, kali ini kepalamu sudah berpindah ke atas bantal di pangkuanku
Orang yang benar-benar tulus melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya tanpa mengharapkan cintanya berbalas
Orang itu benar-benar bodoh…“, jawabmu acuh tak acuh dengan mata terpejam

Aku terdiam mendengar jawabanmu. Kukatupkan rahangku rapat-rapat. Sekuat tenaga menahan mulutku untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menggema di dalam kepala, “Iya, si bodoh seperti itu ada di dunia nyata. Iya, aku bodoh. Si bodoh yang tak pernah berhenti memikirkanmu. Si bodoh yang tidak tega melihatmu resah. Si bodoh yang duka terbesarnya adalah melihatmu meneteskan air mata. Si bodoh yang rela menghabiskan waktunya mencoba segala cara untuk melihat senyummu dan mendengarmu tertawa. Si bodoh yang berpikir keras menciptakan lagu ulangtahun untukmu meski dia tahu telinganya tidak peka mendengarkan nada. Si bodoh yang merelakan tangannya pegal hanya untuk memelukmu atau menggenggam tanganmu erat supaya kau merasa terlindungi bersamanya. Si bodoh yang hanya berada di dekatmu saja sudah cukup membuat dirinya merasa utuh. Si bodoh yang merasa ketenangannya sudah sempurna dengan mengetahui kau baik-baik saja. Si bodoh yang rela menunggu seumur hidupnya sebelum menyatakan cintanya padamu. Si bodoh yang percaya bahwa kelak dirinya akan tetap bahagia melihat kau bahagia meski bersama dengan orang yang bukan dia. Si bodoh ini yang mencintaimu setulus hati tanpa merasa perlu cintanya berbalas, tanpa merasa perlu diri dan hatimu dia miliki

Damar, kamu ga bakalan ninggalin aku kan? Kamu akan tetap jadi sahabatku kan?“, suara lembutmu menghadirkan pikiranku kembali ke ruangan berdinding tosca ini
Kurapatkan selembar kain tebal yang menyelimuti tubuhmu, “Iya, aku bakalan selalu jadi sahabat kamu, Starla . Kamu tidur ya sekarang

Kubelai rambut hitammu yang terurai nyaris menutupi sebagian keningmu. Begini saja cukup…

(Sambas, 020215 11:46 PM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s