Last Note

Aku membenci ketidaktahuan dan ketidakpastian. Buatku, semua hal harus jelas dan pasti. Seberapa jelas dan pasti? Sejelas dan sepasti ‘mati’.

Semua makhluk akan mati, itu pasti. Bahkan lebih dari sekedar pasti mati, aku juga tahu kapan dan di mana pastinya aku mati nanti. Bagaimana aku bisa tahu, kalian pasti akan menemukan jawabannya di akhir catatan ini.

Aku membenci ketidaktahuan dan ketidakpastian. Seberapa benci? Well…aku bahkan memilih menjalani kisah cinta yang sudah aku ketahui akhirnya demi menghindari sebuah hubungan yang tidak pasti. Pacar pertamaku sengaja ku pilih seorang pria penganut agama yang berbeda dengan keyakinanku. Dari awal aku tahu keluarga kami pasti tidak akan setuju dan kami pasti akan berpisah. Pada akhirnya Ayahnya yang seorang pendeta menikahkan ia dengan seorang putri salah seorang jemaat, wanita jelita beragama sama dengannya yang taat dan rajin ke gereja.

Pacarku selanjutnya seorang pria kaya raya yang sudah beristri dan beranak tiga. Jangan tanya usianya, dia lebih pantas aku panggil ‘Papa’ dalam arti sebenarnya. Bukan, aku bukan memilih dia karena hartanya, bukan. Aku memilih dia karena alasan yang sama ketika aku memacari pacarku sebelumnya yang beda agama, aku tahu pasti kami akan berpisah. Benar saja, kami berpisah akhirnya. Kami berpisah setelah dia tahu diam-diam aku memacari anak perempuan satu-satunya.

Ya, pacar ketigaku seorang wanita. Hubungan kami berakhir saat memasuki bulan kelima, beberapa menit setelah ayahnya yang juga pacarku yang lebih pantas aku panggil ‘Papa’ dalam arti sebenarnya memergoki kami sedang membubuhi imbuhan ber pada kata ‘cumbu’ di sofa merah jambu di kamar tidur pacar wanitaku. Setelahnya, sudah bisa kau tebak… Aku kehilangan sekaligus dua pacar di hari yang sama. Tentu saja aku tidak terkejut, karena sebelumnya aku sudah tahu apa yang pasti terjadi.

Terakhir ku dengar pacar wanitaku itu dikirim ayahnya untuk melanjutkan sekolah di asrama wanita, “supaya bertaubat dan kembali ke jalan yang benar” katanya. Dan aku hanya bisa tertawa. Menertawai kebodohan ayah pacar wanitaku yang juga pacarku yang lebih pantas aku panggil ‘Papa’ dalam arti sebenarnya itu. Tertawa untuk pacar wanitaku yang pasti bahagia dengan wanita-wanita ada di sekelilingnya, dia hanya tinggal memilih mana yang dia suka, membuat mereka jatuh pada pesonanya, dan itu bukan perkara susah. Bagaimana aku bisa tahu? Ah, kau lupa…aku tahu semuanya, dalam hidupku semua harus jelas dan pasti termasuk perkara mati. Bukankah sudah ku katakan padamu aku sudah tahu kapan dan di mana aku akan mati.

Malam ini. Di sini. Segera setelah aku sudahi tulisan ini.

Starla memasukkan ballpoint dan kertas yang sudah ia lipat rapi ke dalam saku bajunya. Hati-hati dipanjatnya besi pagar pembatas jembatan layang yang ada di hadapannya, dengan gerakan santai tanpa beban ia berdiri sambil merentangkan tangan, merasakan udara yang bergerak bebas menerpa wajah dan tubuhnya tanpa penghalang di ketinggian. Tidak lama kemudian tubuhnya mulai limbung, sebotol cairan pembasmi serangga yang seluruh isinya sudah ia pindahkan ke dalam perutnya mulai bereaksi. Kakinya terangkat meninggalkan tumpuannya, tubuhnya melayang. Seulas senyum bahagia penuh kemenangan tersungging di bibirnya yang mulai membiru sebelum tubuhnya terjun menghantam tanah, dia tahu sebentar lagi ada gerbong-gerbong kereta yang pasti akan melindas tubuhnya.

(Sambas, 120115 21:49 PM)

*tulisan 15 menit*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s