Bangsat…tenya, Bang

Aku tau sudah saatnya tak lagi menggali ingatan dan memanggil kenangan tentangmu, tapi ketika kenangan itu datang tak disengaja, aku bisa apa?

Dan gambar ini mengingatkanku padamu. Pada “kita” yang pernah ada.

image

It was a damn cold early morning. 01:00 AM to be exact. Sekitar tahun 2012. Di parkiran depan sebuah hotel murah di Kota Solo. Aku berangkat dari Semarang, kau dari Surabaya, itu kali pertama kita traveling berdua ke luar kota. Kita sedang duduk bersebelahan, menanti becak yang kita tunggu tiba. Gudeg Ceker Margoyudan tujuan kita waktu itu. Gudeg ceker yang terkenal karena kelezatannya dan jam bukanya yang tidak biasa, jam 01:30 pagi. Ide yang konyol mungkin untuk sebagian orang, tapi kita memutuskan untuk pergi ke sana juga akhirnya.

Dan begitulah dini hari itu berawal. Aku dengan kaos putih dan rompi merah jambu. Kamu…aku lupa apa yang kau kenakan. Jaket tebal berwarna gelap, kau tidak salah.

Aku tidak ingat bagaimana obrolan kita berawal, obrolan adegan hantu Suzana yang memesan seratus tusuk sate, kalau tidak salah. Aku hanya ingat iseng menirukan kata-kata Suzana, “Bang, satenya Bang…“. Berkali-kali hingga pengucapannya berubah menjadi “Bangsat…tenya bangsat…tenya…bangsat…“. Begitu berkali-kali. Dan kau tertawa setiap kali. Kata-kata itu membuatmu tertawa. Tawamu membuat aku bahagia. It was a damn cold early morning, tapi hati kita hangat dengan cinta dan bahagia.

I was the funniest person back then. I was the funniest person for you. Back then.

Thank you for the lovely memory, realizing I’ve ever THAT happy somehow warm my heart… ^_^

***

Gudeg Ceker Margoyudan baru mulai melayani pembeli sekitar jam 1:30 dini hari, tapi lokasi sekitar warung yang hanya berupa tenda ini sudah mulai dipadati oleh calon pembeli sejak tengah malam. Bangku yang disediakan hanya beberapa buah membuat para pembeli harus antre dan bergantian, atau berbekal tikar dan menikmati gudeg ceker sambil lesehan di pinggir jalan. Pengorbanan yang sepadan karena kelezatannya dan ceker ayam yang sangat lembut nyaris terasa lumer di lidah. Tidak heran kalau sekitar jam 04:00 pagi saja seluruh gudeg ceker ini sudah habis tak bersisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s