The Funniest

Bi, why do you love me? Why me?

Pertanyaan itu tiba-tiba hadir saat kita sedang berdua menyusuri taman membelah gerimis di sebuah malam pada bulan Februari. Jari-jari kananku dan jari-jari kirimu bertaut, mengalirkan hangat ke seluruh tubuh, membuat kita lupa dengan angin dingin yang dari tadi menusuk sampai ke tulang

Hey, kenapa diam saja?“, tanyamu lagi

Seketika aku menghentikan langkah, mengganti posisi tubuhku berhadapan dengan tubuhmu. Aku terkesiap menyadari betapa terangnya sinar di kedua matamu, sebuah kalimat reflek terlontar dari mulutku, “Kamu tahu ga, Tuhan lagi panik malam ini
Kenapa?
Tuhan kehilangan dua bintang paling terang dari langitnya, Tuhan tidak tahu dua bintang paling terang itu sedang bersinar di matamu

Dan kamu tertawa, “Mulai deh gombalnya…” katamu sambil mencubit perutku pura-pura kesal. Tapi aku tahu pipimu merah, tersipu. Kamu menyukai gombalanku

Tubuhku condong ke depan, wajahku mendekat di wajahmu, matamu sudah terpejam, bibir kita hampir bertemu saat tiba-tiba kamu meletakkan telunjukmu di antara bibirmu dan bibirku. “Nope, jawab dulu pertanyaanku tadi“, katamu sambil tersenyum jahil.

Aku menarik wajahku kembali menjauh. Kedua tanganku melingkar di pinggangmu, sambil mataku menatap lekat kedua matamu memastikan kamu memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutku. “I love you, Be. Saya tidak butuh alasan untuk mencintai kamu. Tapi kalau kamu memang membutuhkan alasan, here’s one of the reason why… You laugh to my jokes. Kamu satu-satunya orang yang ga peduli segaring dan sega-lucu apa pun joke yang saya buat kamu pasti tertawa. Ga peduli setidak-bisa-dipercaya apa pun gombalan yang saya buat untuk kamu, even when it’s sooo lame kamu selalu tertawa dan membuat saya merasa jadi orang paling lucu di dunia. And that means so much to me“, aku memindahkan posisi lenganku, meletakkan telapak tanganku di kedua pipimu sebelum melanjutkan kalimatku, “di mana lagi saya bisa menemukan orang lain yang seperti kamu?

Kamu tersenyum, menangkupkan telapak tanganmu di atas punggung tanganku, “Bi, kamu memang orang paling lucu di duniaku

Bibir kita bertemu, tidak ada lagi telunjuk di antaranya

(Sambas, 140315 05:33 PM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s