Jarak

Apa yang harus kamu risaukan tentang jarak? Itu kan hanya nama pohon“, katamu saat pertama kali mendengar berita penugasanku ke pedalaman Kalimantan yang entah akan untuk berapa tahun lamanya.

Aku tidak mengerti bagaimana bisa kamu setenang ini. Untuk sesaat aku yakin kita sedang membicarakan dua Kalimantan yang berbeda. Kamu membicarakan Kalimantanku seperti sedang membicarakan Jalan Kalimantan yang biasa kita lewati yang hanya berjarak 3 blok dari rumahmu.

Aku ingin marah. Aku ingin berteriak memakimu. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutku.

Jadi, kamu maunya saya bagaimana?“, tanyamu lagi akhirnya setelah bisu yang cukup panjang. Ada nada khawatir terdengar jelas di suaramu saat melihat mataku yang mulai basah. Lebih dari 3 tahun bersama, aku yakin kamu sudah cukup mengenalku untuk sekedar tahu aku bukan orang yang mudah menangis, hanya emosi yang luar biasa yang bisa membuat aku berair mata. Tanpa dikomando kamu mendekat, dengan satu gerakan kamu menjatuhkan kepalaku di dada bidangmu, ‘tempat ternyaman di seluruh dunia‘ begitu selalu kataku tentang pelukanmu. Air mataku semakin menjadi saat menyadari tempat ternyaman di seluruh dunia ini sebentar lagi tidak akan bisa dengan bebas aku nikmati kapan pun aku mau.

Aku ingin marah. Entah untuk apa. Aku ingin kamu sedih. Aku ingin kamu menangis. Aku ingin kamu panik seperti aku.

Atau mungkin aku hanya benci dengan ketenanganmu.

Aku iri.

Aku iri pada kamu yang tenang seperti laut. Laut yang bisa menelan sebuah benda sebesar Titanic dan kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa di dalamnya. Entah berapa kali mati lalu hidup kembali yang sudah kamu jalani untuk bisa menguasai ilmu menenangkan diri seperti itu.

Sayup-sayup di tengah isakanku aku mendengar suaramu yang tadi khawatir kembali tenang, membisikkan lirik yang sudah aku hafal “I could make you happy, make your dreams come true, nothing that I wouldn’t do. I’d go the ends of the earth for you, to make you feel my love. Apalagi cuma mengunjungi pedalaman Kalimantan beberapa kali dalam setahun, I would surely do that for you“.

Kamu dan ketenanganmu.

Kembali aku tak tau harus berkata apa. Bisu. Kali ini dadaku dipenuhi syukur dan haru.

Aku bersyukur mempunyai kamu yang tenang seperti laut. Laut yang ikut menelan kekhawatiranku tenggelam dalam ketenanganmu.

Berlahan-lahan isakanku berhenti. Mungkin ikut hanyut, dan tergantikan dengan sebuah kesadaran baru. Sejauh apa pun aku pergi aku akan selalu punya kamu, ribuan kilometer tidak akan cukup untuk membuat kita menjadi jauh.

Dan jarak cuma nama pohon?” tanyaku memastikan.

Kamu mengambil jeda sejenak, semakin merapatkan lingkaran lenganmu di tubuhku “Iya, jarak cuma nama pohon

(Sambas, 061014 03:46 AM)

*update 111116, Jarak bukan sekedar nama pohon. Ternyata*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s