Puisi Pertama

“Buatkan aku puisi”, pintanya hari itu. Dan baris-baris kata ini yang tersusun di kepala
***

Bahagia itu sederhana
Kalau kau tak bisa mempercayainya, mari duduk didekatku biar kuceritakan padamu sebuah cerita tentang bahagia yang sederhana

Ini cerita tentang seseorang berkaos merah darah di sebuah rumah sakit daerah
Seseorang yang pekerjaannya mengharuskannya menjadi sasaran segala keluh dan kesah
Seseorang yang selalu mendengarkan dengan sabar meski hatinya sendiri sedang resah
Seseorang yang entah bagaimana tak pernah alpa memulas senyum di bibirnya tak peduli seberapa parah cemas sedang memporak porandakan isi kepala dan hatinya
Seseorang yang selalu berusaha menyembunyikan matanya yang basah
Seseorang yang memilih melarutkan lukanya ke dalam bercangkir-cangkir kopi karena tak ingin ada yang menyangka dia lemah

Ini cerita tentang seseorang dengan kacamata berbingkai merah melapisi sepasang mata di wajahnya
Seseorang yang pertama kali ku kenal pada September Rabu ketiga
Seseorang yang selalu hadir di hari-hariku setelahnya
Seseorang yang selalu punya cara untuk membuatku tertawa
Seseorang yang senyumnya seolah berkata “semua akan baik-baik saja” dan hatiku selalu mengamininya untuk hidupku dan untuk hidupnya
Seseorang yang percaya padaku sebagai tempat membagi luka dan resahnya
Seseorang yang kehadirannya di hidupku membuat kehadiranku di dunia terasa bermakna
Seseorang yang kebahagiaannya memberiku alasan untuk bahagia
Seseorang yang kehadirannya membuatku percaya, bahagia itu sederhana

(Pontianak, 211016 09:00 PM)

Seseorang itu bernama ****n****t**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s