Sudah Makan?

Di beberapa tulisan yang tersebar mengenai tips seputar pedekate or whatsoever, pertanyaan “sudah makan?” disebut sebagai pertanyaan ‘basi’ yang harus dihindari. Beberapa orang menganggap pertanyaan tersebut sebagai pertanyaan basa-basi yang sungguh tidak penting. “ga usah ditanya atau diingetin juga namanya manusia kalo lapar pasti makan“, demikian dalih yang sering saya dengar.

But to me, tidak demikian. I ask because I really wanna know. I ask because I care. Saya bertanya karena memang ingin tau dan benar-benar peduli. Apalagi jika saya tau orang yang saya sayangi tanyai tersebut punya masalah dengan kesehatan.

Sudah makan?” adalah pertanyaan sederhana yang sebenarnya tidak sederhana. Bagaimana bisa? Begini…

Sudah makan?” memiliki dua opsi jawaban : “sudah“, dan “belum“. Kalau jawabannya “sudah“, pertanyaan lanjutannya adalah “makan apa?“. Jawaban dari pertanyaan “makan apa?” ini akan membuat saya bisa mengira-ngira seberapa sehat asupan gizi orang yang saya sayangi tersebut, apakah dia cukup makan sayur, cukup makan buah, cukup protein, dsb. Kalau tak ada sayur dalam menu makannya saya akan bertanya “kenapa tak makan sayur?” dan bisa mengingatkan dia untuk menambah atau mengganti dengan buah atau vitamin dan serat tambahan, dan seterusnya.

Opsi lainnya ketika yang ditanya “sudah makan?” menjawab “belum“. Jawaban “belum” akan membawa pada pertanyaan selanjutnya “kenapa?“. Jawaban terbanyak dari pertanyaan lanjutan ini adalah satu; “ga nafsu makan“, dua ; “ga ada makanan“, atau tiga ; jawaban lain yang tidak ‘berbahaya’ seperti “sedang menjalankan program diet tertentu“, “masakannya belum siap“, atau “sedang menunggu abang nasi goreng langganan lewat“, misalnya. Kalau jawaban yang diberikan adalah “ga nafsu makan” tentunya akan mengantar pada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, misalnya : “kenapa ga nafsu makan?” (bisa saja karena “mual”, “pusing”, atau penyebab lainnya yang tentu akan memerlukan perhatian khusus dan pertanyaan atau penanganan lanjutan yang lebih serius). Kalau jawaban yang diberikan “ga ada makanan“, bisa dilanjutkan dengan aksi selanjutnya…datang membawakan makanan atau untuk mengajak makan bersama misalnya buat yang dekat, atau memanfaatkan jasa layanan pesan antar makanan buat yang LDR jauh. Atau untuk opsi jawaban lainnya saya rasa bisa terus berkembang sejauh apa pun info yang dibutuhkan atau dirasa diperlukan oleh orang yang bertanya.

Intinya…betapa sebenarnya tidaklah tepat jika masih beranggapan pertanyaan “sudah makan?” sebanyak tiga kali sehari adalah pertanyaan basa-basi dan tidak bermakna. Jadi, next time someone ask you that question, jangan buru-buru beranggapan orang tersebut membosankan dan penuh dengan basa-basi, karena mungkin orang itu memang benar-benar peduli dan ingin tau tentang kondisimu melalui makananmu.

So when I ask yousudah makan?“, I really hope you answer because I do want to know and I do care about you. Yes, you ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s