Pada Suatu Sore

image

Aku terus mengenang peristiwa sore tadi dalam kepalaku. Saat aku duduk di sampingmu, di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu di salah satu sudut Rumah Sakit tempat kita berjanji untuk bertemu. Sengaja kita memilih sudut yang tidak banyak dilalui pengunjung, kita berdua sama-sama tidak terlalu menikmati hiruk pikuk dan keramaian, dan kita tau itu. Satu cangkir kecil minuman panas yang dijual di minimarket terdekat dengan harga sepuluh ribu rupiah dalam genggaman masing-masing kita. Greentea latte panas untukku dan chocolate hazelnut untukmu. Satu tanganmu sedari tadi masih sibuk mengaduk-aduk isi cangkir yang masih nampak mengepul dengan sedikit rasa enggan yang tersirat. Aku tau kau sesungguhnya lebih memilih secangkir kopi apa saja untuk melarutkan seluruh cemasmu sore tadi. Tapi aku juga tau lambungmu belum terisi apa pun selain segelas kopi dan sepotong roti sejak pagi, dan mengizinkanmu menyiramkan secangkir kopi lagi ke dalamnya adalah perbuatan bodoh yang sungguh tidak akan kulakukan.

Pandangan kita menyapu ke sembarang arah, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali kita tertawa menertawakan apa saja. Sesekali aku berusaha menceritakan cerita lucu untuk menghiburmu, dan kau tertawa. Sesekali kau yang bergantian berusaha menghiburku, lalu aku tertawa. Tawa yang hanya kita buat-buat tentu saja. Tawa pura-pura yanga  hanya untuk menghargai usaha lawan bicara tentu saja. Kita sama-sama tau kepala kita terlalu penuh untuk mencerna lelucon apa saja. Hati kita terlalu berat oleh cemas untuk tertawa dengan lega. Tapi tetap saja kita sama-sama tertawa seolah tak saling tau apa yang sedang dirasa.

Sesekali kita berbincang. Tentang kamu. Tentang aku. Tentang Ibumu yang sedang menjalani pengobatan, tentang Ibuku yang sedang menjalani masa pemulihan. Tentang kecemasan dan lelahmu, tentang kekhawatiran dan penatku. Tentang hari kita yang terasa semakin berat daripada hari-hari sebelumnya.

Sesekali kita menyecap perlahan bibir cangkir masing-masing. Berandai-andai bisa menelan habis segala resah yang tak sanggup terkata bersama dengan cairan manis yang perlahan mengalir dan meninggalkan hangat di dalam perut.

Aku menggenggam tanganmu saat kau bercerita. Satu tanganku kurangkulkan di pundakmu segera saat kau mulai terisak dan membiarkannya sesaat di sana dengan beberapa tepukan ringan berusaha menenangkan. Kau menggenggam tanganku setelahnya, membiarkan aku melabuhkan kepalaku di bahumu sementara aku bergantian bercerita. Kepalamu kau rebahkan di atas kepalaku. Bukan salahku tentu saja kalau pundakku terlalu jauh lebih rendah dan tak akan tergapai oleh kepalamu. Kemudian hening. Hanya tanganmu dalam genggamku. Hanya kepalaku di pundakmu dan kepalamu bersandar di atasnya. Tanpa suara kita saling menguatkan. Mencoba saling menguatkan. Menenangkan. Mengingatkan semua akan baik-baik saja. Mempercayai semua akan baik-baik saja.

Matahari hampir sepenuhnya tenggelam saat kita dengan enggan harus menyudahi sore tadi. Meninggalkan bangku kayu di taman yang sebagian catnya sudah terkelupas sambil bergandengan tangan. Mengendapkan semua resah seharian di dasar cangkir kecil kosong yang kita tinggalkan di tempat sampah di salah satu sudut Rumah Sakit. Melangkah beriringan dengan hati lebih tenang dan perasaan lebih  ringan, menyadari apa pun yang datang esok hari, seberat apa pun tak akan kita hadapi sendirian. Aku ada, kamu ada. Kita bersama. Semua akan baik-baik saja.

Semua baik-baik saja

(Pada suatu senja, 210117)

Advertisements

2 thoughts on “Pada Suatu Sore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s