Selamat Pagi, Kamu

Aku sudah di kantor ya, buru-buru tadi“, sebuah pesan masuk ke smartphoneku
Iya“, balasku singkat, tau kamu mungkin tak punya banyak waktu untuk membaca pesan panjangku sebelum tiba saatnya kamu harus menyapa pasienmu secara bergantian satu per satu.

06:45 WIB.
07:45 di kotamu.
Iya… Aku tau kamu terburu pagi ini. Itu adalah yang paling sering terjadi saat aku tak menemukan pesan darimu di smartphoneku saat aku membuka mata atau saat kau tak segera membalas pesanku di pagi hari. Aku membayangkan kamu terbangun dengan terburu, mungkin karena gedoran di pintu kamar. Hening sejenak, kemudian mandi. Bersiap, lalu bergegas berkendara menuju Rumah Sakit tempatmu bekerja. Aku harap kau tak lupa menikmati sarapanmu. Semangkuk oatmeal dengan potongan pisang? atau dua butir telur hari ini?. Dua butir telur yang harus dimasak dengan cara yang spesifik. Dua butir telur diceplok setengah matang dengan minyak zaitun, putih telur diorak-arik sementara kuning telur dibiarkan utuh. “aduk saja putihnya seperti ini di atas penggorengan, tidak perlu takut kuningnya akan ikut pecah…karena kalau niat kita baik maka dia tidak akan seperti itu“, aku masih ingat kau mengucapkan kata-kata itu saat mengajariku memasak telur kesukaanmu. Aku mengungkapkan kekhawatiranku tidak akan bisa mengorak-arik putih telur dengan sempurna tanpa mengenai kuning telurnya saat itu. Dan kita tertawa menyadari betapa ajaibnya kalimat jawaban yang baru saja keluar dari bibirmu.

06:55 WIB.
07:55 di kotamu.
semalam aku tak bisa tidur, lewat tengah malam baru bisa lelap“, lanjutmu lagi
Kembali aku mengiyakan. Ku urungkan niatku untuk menjawab “iya aku tau, kau terlalu sibuk berkeliaran dalam mimpiku semalam“, tak baik mengawali hari dengan kebohongan. Nyatanya aku tak memimpikanmu semalam.

Aku sangat jarang sekali kalau tak bisa dibilang tak pernah memimpikanmu. Entah kenapa. Sering kamu bercerita kamu memimpikanku dalam tidur malammu. “Aku mimpi kamu menemankan aku menangkap kodok untuk kubawa praktik di lab. Seperti kembali ke masa sekolah“, katamu suatu pagi. Itu kali pertama kau menceritakan mimpimu yang ada aku di dalamnya. Kali lain kau bercerita di dalam mimpi tidur malammu kita berbelanja cumi-cumi di pasar. Terakhir kali di suatu pagi kamu bercerita dengan nada sendu “aku mimpi kamu datang ke kotaku. Kita menghabiskan beberapa hari bersama dan mendatangi berbagai tempat di sini. Sampai tiba saatnya kamu harus kembali ke kotamu dan aku menangis“. Aku terdiam, kamu tidak terbiasa menangis. “Lalu aku terbangun dengan perasaan sedih sekali“, lanjutmu. “Kenapa? Karena menyadari pertemuan kita cuma mimpi?“, tanyaku. Ada jeda yang cukup panjang sampai akhirnya kau menjawab, “ditinggalkan kamu di dalam mimpi saja sebegitu menyedihkannya, aku tidak berani membayangkan kalau benar-benar harus mengalami melihat kamu pergi“. Aku tidak tau harus menjawab apa. Ingin menjanjikan “aku akan datang dan tak pernah pergi“, atau “aku akan datang dan ketika tiba saatnya pergi, aku akan membawamu bersamaku” pun tak mungkin. Sebagai orang yang sama-sama memahami tidak ada kejadian di masa depan yang bisa diprediksi dengan pasti, janji-janji seperti itu terdengar sebagai lelucon yang tak lucu di telinga kita. Aku hanya bisa diam, berharap kecanggungan saat itu segera hilang dengan tawamu yang pecah. Tawa yang tak kunjung terdengar, dan saat itu aku tau kau sedang benar-benar merasa sedih. Sedihmu yang segera membuatku sedih. Selalu begitu. Perasaanmu mempengaruhi perasaanku. Entah sejak kapan.

Aku tidak ingat bagaimana obrolan waktu itu berlanjut. Yang aku ingat kita menjadi jarang membicarakan mimpimu setelah itu. Kecuali saat kau mendapatkan mimpi yang kau sebut sebagai mimpi kotor dan membuatmu ngeri setiap kali mengingatnya beberapa hari yang lalu.

Aku sangat jarang sekali kalau tak bisa dibilang tak pernah memimpikanmu. Entah kenapa. Atau mungkin aku hanya tak mengingatnya. Pernah sekali aku bercerita melihatmu di mimpiku sepertinya, dan sekarang aku pun sudah tak bisa mengingat detil mimpi itu (ternyata lebih mudah mengingat apa-apa yang tentang kamu daripada tentang diriku sendiri). Anehnya adalah…hampir di setiap mimpiku aku pasti masih bisa mengingatmu.

Tak ada kamu di mimpiku, yang ada hanya aku yang mengingatmu dalam mimpiku. Seperti saat aku bermimpi menjelajahi sungai, hutan, dan gunung bersama kawan-kawanku. Tak ada kamu tentu saja (bahkan dalam mimpi aku tau kau tak menyukai aktifitas seperti itu), tapi aku ingat di mimpiku itu aku masih mengingatmu. Di sepanjang mimpi berpetualang itu aku ingat terus mengingatmu dan terus berpikir akan menceritakan petualanganku kali itu kepadamu. Atau ketika aku bermimpi memancing cumi-cumi di pantai, aku ingat di mimpi itu aku membatin, “harusnya ada si Tengil di sini supaya dia tau rasanya memancing cumi dan tidak hanya membeli di pasar seperti mimpinya tempo hari“. Aku ingat di mimpi itu aku ingin mengumpulkan cumi-cumi sebanyak mungkin untuk kupamerkan kepadamu. Atau ketika aku mimpi belajar mengemudikan mobil, aku ingat di mimpi itu aku mengingatmu, “aku harus bisa nih supaya bisa road trip sama si Tengil dan gantian nyetir“. Entah kenapa begitu.

Kalau mimpi adalah manifestasi dari alam bawah sadar…sepertinya alam bawah sadarku sudah terbiasa selalu mengingatmu. Alam bawah sadarku ingat aku selalu mengingatmu. Semacam tau bahwa apa pun yang ku lakukan bahkan meski tak bersamamu, kamu selalu ada dalam ingatanku. Atau mungkin alam bawah sadarku sudah memahami…aku tak perlu bermimpi untuk bisa bertemu denganmu. Bukan, sungguh bisa ku pastikan ini bukan rayuan bukan gombalan.

07:13 WIB.
08:13 di kotamu.
Kau pasti sudah memulai aktivitasmu di kantor sekarang. Saatnya aku yang harus bergegas mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Ini hari pertamaku setelah sebulan mengambil jeda. Ku harap semua lancar. Ku harap ada banyak berkah dan kebaikan untuk kita hari ini. Aamiin.

Selamat pagi, kamu ^_^

(Sambas, 300117 07:15)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s