I Forgive You, Rei

La La Land itu film tentang meraih cita-cita. Orang yang bersama elu pas bercita-cita ga harus sama dengan yang ada ketika cita-cita tercapai

(twitter @ari_ap

*Tidak, saya belum menonton La La Land dan tidak, saya tidak berniat membahas tentang film itu di postingan ini.

Sebuah twit yang tampil di beranda laman Twitter saya tiba-tiba terasa menggelitik dan membuat otak saya reflek mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca entah di mana “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”.

Dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidak merenungkan kembali apa yang terjadi pada saya sendiri berkenaan dengan itu. Tentang seseorang. Tentang melepaskan. Tentang melepaskan seseorang yang seharusnya sudah sejak lama dilepaskan.

***

 “Susah banget ya move on dari dia?”, bukan sekali atau dua saya mendapat pertanyaan seperti itu dari kawan yang benar-benar peduli atau yang hanya sekedar ingin tau saja. Bahkan si Tengil beberapa kali berkata “udah tau sakit, coba clurit yang nempel di hati itu dilepas dulu, ga usah dibawa terus kemana-mana“. Berkali-kali saya hanya tersenyum tidak tau dengan pasti harus menjawab apa.

‘dia’ yang mereka maksud adalah salah satu kekasih saya di masa lalu. ‘clurit’ yang si Tengil maksud adalah kenangan tentang saya dan ‘dia’. Hubungan percintaan terlama yang saya punya. Hubungan percintaan paling serius yang pernah saya punya.

Karena tiga tahun? Karena banyaknya kenangan?”, biasanya pertanyaan tambahan itu muncul ketika saya menjawab memang tidak mudah rasanya untuk benar-benar melepaskan yang satu itu bahkan sampai sekarang setelah lama waktu yang kami jalani sendiri-sendiri tanpa bersinggungan sudah hampir menyamai lama kebersamaan kami dulu.

Kepada salah seorang teman saya pernah mengakui apa yang membuat saya sulit untuk benar-benar menghilangkan dia dari hati saya. Rasa bersalah.

Bukan, ini bukan soal menyakiti dan disakiti. Saya pasti pernah menyakiti dia. Pun dia pasti pernah menyakiti saya. Bukan, rasa bersalah ini bukan karena selingkuh, bukan… *hallaaaah*. Rasa bersalah ini adalah tentang perasaan belum melakukan yang terbaik. Tentang janji-janji yang belum saya tepati. Tentang kebaikan-kebaikan yang (rasanya) belum lunas saya bayar.

Pernah ga bersama seseorang yang ketika mengingatnya, otomatis lirik salah satu lagu Blue terlintas di kepala “…’cause you bring out the best in me, like no one else can do. That’s why I’m by your side, that’s why I love you…”. Itulah dia buat saya. Saya selalu bilang bersama dia saya belajar menjadi manusia yang lebih baik. Malas-malasnya saya, ada dia yang rajin dan galak yang tidak bosan mengingatkan saya. Boros-borosnya saya, ada dia yang mengajarkan bagaimana mengatur keuangan. Cuek-cueknya saya terhadap diri sendiri, ada dia yang mengingatkan untuk merawat diri. Kekanak-kanakannya saya, ada dia yang membimbing untuk menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Pasrah-pasrahnya saya, ada dia yang mengajarkan untuk menjadi manusia yang punya motivasi dan rencana hidup. Bodoh-bodohnya saya, suram-suramnya kehidupan saya, ada dia yang selalu percaya suatu saat saya akan bisa punya pekerjaan bagus dan kehidupan yang lebih baik. Bersama dia saya pelan-pelan belajar menjadi versi terbaik dari diri saya yang saya bisa. Singkatnya, apa pun yang saya punya sekarang…saya yang sekarang ini…saya percaya adalah karena dia. Dan kenyataan bahwa saya tidak bersama dia lagi sekarang saat satu per satu yang kami saya cita-citakan tercapai seringnya membuat saya merasa menjadi manusia yang durhaka dan tidak tau berterima kasih.

Saya mengingat dia seringnya bukan saat saya sedang sedih, tapi justru saat saya bahagia (dan akhirnya kebahagiaan saya berubah jadi kesedihan). Bukan sekali atau dua saya merasa tidak benar-benar bahagia atas pencapaian saya karena terus dihantui pikiran “sakit-sakitnya saya dulu, sedih-sedihnya saya dulu, ada kamu di samping saya. Sekarang ada kebahagiaan sebesar ini di tangan saya tapi untuk menceritakannya sama kamu pun saya tidak bisa”. Dan saya mulai kembali memaki diri saya sendiri, membenci diri saya sendiri lagi dan lagi. Saya tidak pernah menyesali keputusan kami untuk berpisah, saya hanya…entahlah…semacam merasa belum melakukan cukup banyak untuk membayar semua hal baik yang dia lakukan dan berikan untuk saya.

Iya, seseorang bisa mati tersiksa oleh perasaannya sendiri. Prasangkanya sendiri.

Dia orang baik. Sangat baik. Dia sudah bersama orang lain sekarang, dan melihat kebahagiaannya…saya percaya dia pasti bersyukur atas perpisahan kami yang membawa dia bertemu dengan kekasihnya sekarang. Dan sekarang tiba giliran saya untuk melakukan hal yang sama. Bersyukur untuk perpisahan kami. Perpisahan yang membawa saya menemui orang lain, dan lain, dan lain lagi. Peristiwa lain, dan lain, dan lain lagi. Pelajaran baru lagi, dan lagi, dan lagi.

Sepertinya sudah tiba saatnya saya harus mengimani kalimat yang sudah sangat saya hafal, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”. Semua kebaikan dan pendampingan dia selama bertahun-tahun tidak akan bisa lunas saya bayar dengan apa pun. Saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih atas keberadaannya di masa-masa sulit itu, syukuri keberadaannya yang membimbing saya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya, dan terima masa itu sudah berlalu, orang itu sudah ada di masa lalu dan saatnya saya berada di masa sekarang dengan orang-orang yang ada sekarang. Sudah saatnya saya mengimani kembali semua yang terjadi, semua yang saya capai dan punyai adalah karena Tuhan, dan setiap orang dikirim Tuhan ke dalam hidup kita hanya sebagai perantara. Sebagai guru. Sebagai pelajaran. Ketika pelajarannya sudah kita terima, ketika maksud dan tujuan Tuhan yang ingin disampaikan melalui orang tersebut sudah terpenuhi…akan tiba saatnya orang itu berlalu dan pergi. Dia dibawa untuk dipertemukan dengan orang lain. Saya dibawa dan dipertemukan dengan orang lain, dengan pelajaran lain. Dan sesuka-sukanya saya dengan ‘guru’ saya yang satu itu, sesayang-sayangnya saya sama dia, seingin-inginnya saya belajar sama dia lagi, saya tidak bisa memaksa Tuhan untuk memperpanjang waktu belajar yang sudah selesai. Selesai. Meskipun saya merasa saya belum bisa lulus dengan baik, meskipun saya merasa masih banyak kekurangan dan ingin memperbaiki, tidak ada yang bisa saya lakukan kalau Tuhan menilai pembelajaran saya sudah harus disudahi. Selesai. Tidak bisa dipaksakan untuk kembali. Tidak bisa dipaksakan untuk diulangi. Selesai. Saatnya melepaskan. Ikhlas melepaskan.

And that’s what I gotta do now.

Ikhlas. Melepaskan. Memaafkan.

Seperti dia yang sudah lama memaafkan saya, seperti saya yang sudah lama memaafkan dia, sekarang saya yang harus memaafkan diri saya sendiri.

So, now…

Dear self,
untuk semua hal yang belum dilakukan dengan sempurna, untuk semua janji yang belum ditepati, untuk semua sumpah yang harus patah, untuk semua jasa dan kebaikannya yang belum lunas terbalas dan terbayar…I forgive you. I love you, and I forgive you. Be good, be happy…you deserve it. I forgive you… ^_^

(Sambas, 040217)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s