Surat Istimewa Kepada yang Istimewa

Hai kamu,
Entah ini surat ke berapa yang kutuliskan untukmu, tak perlu lagilah ku perkenalkan diriku dan tak perlu juga di surat ini kucantumkan namamu. Cukup kau tau saja setiap kata dalam ‘surat cinta’ ini kutuliskan untukmu.

Hai kamu,
Masih perlukah juga berbasa-basi ku tanya bagaimana kabarmu di surat ini? Karena nyatanya di semua aplikasi obrolan yang terpasang di smartphoneku ada obrolan kita. Obrolan tanpa putus sejak membuka mata sampai terpejam dan membuka mata dan terpejam lagi begitu setiap hari sampai hari ini. Sekedar kabarmu saja aku pasti tau. Bahkan saat surat ini kutuliskan kita baru saja selesai membicarakan sarapan dan demamku semalam.

Kamu,
Jujur aku lupa kapan kali pertama aku menulis surat untukmu. Aku hanya ingat kali pertama surat untukmu ku kirimkan melalui email. Hari itu atas permintaanmu aku mengirimkan hasil desainku, logo klinik yang kau dirikan bersama dengan teman-temanmu, lengkap dengan filosofi yang terkandung di setiap elemen logo itu. Kali kedua masih atas permintaanmu juga, ku kirimkan beberapa buku bacaan dalam format Pdf yang sudah atas seizin penulisnya tentu saja. Kali berikutnya ku rasa kau yang memulai, mengirimiku email pada suatu pagi dengan alasan kau tak ingin mengganggu bersejenak hening. “Kamu hening lama sekali. Aku tak ingin mengganggu jadi ku tulis email saja. Bisa dibaca kalau kau sudah ada waktu“, begitulah kira-kira isi emailmu pagi itu. Email yang kemudian kubalas dan setelahnya kita menjadi sangat sering berbalas email. Email yang entah sudah apa saja kita bahas di dalamnya. Cerita sehari-hari yang wajar tapi tetap mengasikkan, hal-hal seserius perasaan dan masa depan sampai hal ringan nan absurd seperti kecoa yang terbalik dan nampak seperti sedang melambaikan tangan kepadamu dini hari kemarin. Satu hal yang tak bisa kumengerti adalah tidak pernah habisnya bahan cerita kita berdua. Meski setiap hari hampir semua media kita gunakan. Online chat, media sosial, telepon, voice note, video call, bahkan sehabis kita bertemu dan baru saja saling melambaikan tangan tanda berpisah pun, masih saja selalu tersisa cerita baru untuk ditulis dan diceritakan di dalam email setiap kali meski hanya berupa “aku senang bertemu kamu malam ini, terimakasih sudah menemani“. Pernah selama beberapa hari tak satu pun email kukirimkan untukmu karena khawatir kau sudah bosan membaca emailku. Sehari. Dua hari. Tiga hari. Dan di luar dugaanku, di hari ke empat saat aku sedang mengetik email untukmu, kamu sudah protes dan mempertanyakan emailku yang sudah beberapa hari tak tiba di kotak suratmu. Sejak saat itu tak pernah sehari pun aku lewatkan tanpa mengirim email untukmu. Kadang satu. Kadang lebih dari itu. Bahkan pernah aku sampai tak bisa lagi menghitung berapa email yang ku kirimkan untukmu. Kamu sedang pergi bertapa waktu itu. “Kalau rindu, kirimkan saja email untukku“, pesanmu sebelum memulai prosesi pertapaanmu. Bukan salahku kalau aku merindumu setiap waktu dan sebanyak itu email yang ku kirim untukmu.

Kamu,
Selama ini surat untukmu selalu ku kirimkan melaui email. Tapi hari ini istimewa. Aku mengirimkan surat untukmu dengan cara yang lain dari biasanya. Surat untukmu kali ini kutitipkan melalui Pos Cinta. Ku harap kau tak keberatan. Iya, meski setiap kata di dalamnya kutuliskan untukmu, tapi surat yang kali ini tidak kau baca sendiri, ku harap kau juga tak keberatan. Dan karena hari ini istimewa dan kamu istimewa, maka bolehkanlah aku menuliskan sesuatu yang istimewa juga sebagai penutup suratku kali ini.

Kamu,
Aku tau kamu tidak selamanya. Aku tau ini tidak selamanya. Akan ada saatnya kamu pergi dan tidak kembali. Atau mungkin aku yang pergi dan kita tidak bersama lagi. Aku juga sadar, seperti yang kita berdua percayai, “setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya“. Tapi selama Tuhan yang kita imani masih memerintahkan umatnya untuk meminta kepadaNya, aku tidak akan berhenti untuk berdoa…semoga ada kamu di setiap masaku. Semoga ada aku di semua masamu. Semoga kita bisa selalu menjadi teman seperjalanan seperti selama ini…saling mengingatkan saat lengah, menguatkan saat lemah, menjadi bahu bersandar ketika lelah, menyediakan peluk untuk setiap resah. Aku juga ingin kamu selalu tau, aku bersyukur dan berterimakasih Semesta sudah dan masih mengizinkan kita bersama saat ini. Aku bersyukur kamu sudah datang dan singgah di hidupku. Kamu menyenangkan, kamu menenangkan. Kamu menjadikan hidup terasa lebih berarti, setiap hari terasa lebih ringan untuk dijalani, dan semua masalah menjadi lebih mudah untuk dilalui. Terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan selama ini. Terimakasih untuk semua yang sudah kita bagi selama ini. Untuk semua tawa dan airmata. Untuk semua cerita dan makna yang menyertainya. Terimakasih kamu masih ada. Terimakasih kamu ada.

Aku yang tak bosan menulis untukmu,
-Rei-

Ps. Pun ketika nanti ternyata kebersamaan kita harus disudahi, aku akan tetap bersyukur dan berterimakasih kamu pernah ada. Semoga kamu juga begitu.

*Surat Cinta ini dibuat dalam rangka memeriahkan #PosCintaTribu7e yang diadakan oleh @PosCinta

Advertisements

2 thoughts on “Surat Istimewa Kepada yang Istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s